
USD - Di tengah tuntutan pendidikan tinggi yang semakin kompleks, keberhasilan perguruan tinggi tidak lagi ditentukan hanya oleh kualitas pembelajaran di ruang kelas. Kemampuan membangun kemitraan yang produktif, memperluas jejaring internasional, mengelola reputasi institusi, menjalin hubungan strategis dengan media, serta memahami perjalanan karier lulusannya kini menjadi faktor penting dalam menentukan daya saing sebuah universitas. Kesadaran akan pentingnya aspek-aspek tersebut mendorong Universitas Sanata Dharma (USD) melakukan studi banding ke Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) untuk mendalami pengelolaan kerja sama, internasionalisasi, branding institusi, media relations, dan tracer study.
Kunjungan yang dilaksanakan oleh unit-unit di bawah koordinasi Wakil Rektor IV USD ini menjadi ruang belajar sekaligus pertukaran gagasan antara dua perguruan tinggi swasta yang sama-sama memiliki komitmen kuat terhadap peningkatan mutu dan relevansi pendidikan tinggi. Rombongan USD diterima langsung oleh jajaran pimpinan UMY yang membidangi berbagai aspek strategis pengelolaan universitas, yakni Prof. Rizal Yaya, Ph.D., CA., selaku Direktur Kemitraan Global dan Employability; Dr. Mega Hidayati, S.Ag., S.S., M.A., Kepala Badan Perencanaan dan Reputasi Global; Dr. Ir. Surya Budi Lesmana, S.T., M.T., Direktur Operasi dan Infrastruktur Berkelanjutan; apt. RR. Sabtanti Harimurti, M.Sc., Ph.D., Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian; dr. Farindira Vesti Rahmasari, Ph.D., Kepala Sub-Direktorat Kemitraan Universitas; serta Dr. Imam Mahdi, S.IP., M.A., Kepala Sub-Direktorat Admisi; Dr. Ir. Ferriawan Yudhanto, S.T., M.T. selaku Kepala Sub-Direktorat Operasional untuk Lingkungan dan Pengelolaan Sampah UMY. Beliau dengan senang hati memandu peserta memutari fasilitas, hingga menjelaskan pengembangan teknologi yang menjadi andalan UMY dalam pengolahan sampah kampus.
Dalam suasana yang hangat dan terbuka, diskusi tidak hanya berfokus pada capaian-capaian institusi, tetapi juga pada proses, strategi, dan tantangan yang dihadapi dalam mengelola berbagai program pengembangan universitas. Sebagai sesama perguruan tinggi swasta, USD dan UMY memiliki pemahaman yang sama bahwa kemajuan institusi tidak dapat dicapai secara instan. Dibutuhkan tata kelola yang kuat, kolaborasi lintas unit, serta keberanian untuk terus belajar dari praktik-praktik baik yang telah terbukti berhasil.
Salah satu topik yang mendapat perhatian khusus adalah pengelolaan kerja sama dan internasionalisasi. Prof. Rizal Yaya bersama tim menjelaskan bagaimana UMY membangun sistem monitoring kerja sama yang terintegrasi, mulai dari penyusunan Memorandum of Understanding (MoU), Memorandum of Agreement (MoA), hingga Implementation Agreement (IA). Yang menarik, keberhasilan kerja sama tidak diukur semata dari jumlah dokumen yang ditandatangani, tetapi dari implementasi dan dampaknya terhadap pencapaian tujuan institusi. Pendekatan ini memberikan perspektif baru mengenai pentingnya memastikan setiap kemitraan menghasilkan nilai tambah yang nyata.

Pembahasan kemudian berlanjut pada strategi internasionalisasi yang menjadi salah satu kekuatan UMY. Berbagai program mobilitas mahasiswa dan dosen, visiting professor, visiting lecturer, hingga kolaborasi penelitian internasional menjadi instrumen untuk memperluas jejaring akademik global. UMY juga secara aktif menyelenggarakan program Summer School yang melibatkan peserta dari berbagai negara. Selain menjadi sarana pembelajaran lintas budaya, program ini terbukti efektif dalam memperkenalkan institusi kepada komunitas internasional sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas.
Dari sisi reputasi dan komunikasi publik, Dr. Mega Hidayati memaparkan bagaimana UMY mengelola branding institusi secara terstruktur melalui pendekatan yang berbasis storytelling dan penguatan narasi dampak. Prestasi sivitas akademika, kisah inspiratif alumni, serta kontribusi universitas bagi masyarakat dikemas sebagai cerita yang mampu membangun kedekatan dengan publik. Strategi tersebut diperkuat dengan pengelolaan media sosial yang tersegmentasi sesuai tujuan komunikasi, sehingga pesan yang disampaikan dapat menjangkau audiens secara lebih efektif.
Diskusi mengenai media relations juga menjadi bagian yang menarik. UMY menekankan pentingnya membangun hubungan yang berkelanjutan dengan media melalui berbagai program kemitraan dan kolaborasi. Selain itu, dosen didorong untuk aktif hadir sebagai narasumber dalam berbagai isu aktual sehingga universitas tidak hanya dikenal melalui prestasinya, tetapi juga melalui kontribusi pemikiran akademiknya bagi masyarakat luas.
Sementara itu, pengelolaan tracer study dan data alumni menjadi pembelajaran penting lainnya. UMY mengembangkan sistem yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari surveyor khusus, alumni, hingga program studi, untuk memastikan data lulusan dapat dihimpun secara lebih komprehensif. Pendekatan ini menunjukkan bahwa tracer study bukan sekadar instrumen pelaporan, melainkan sumber informasi strategis yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan relevansi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja.
Melalui studi banding ini, USD memperoleh banyak wawasan mengenai pentingnya integrasi data, kolaborasi antarunit, dan pengelolaan program yang berorientasi pada dampak. Lebih dari itu, kunjungan ini mencerminkan semangat saling belajar antarperguruan tinggi swasta dalam menghadapi tantangan yang terus berkembang. Dari Yogyakarta, USD membawa pulang bukan hanya berbagai praktik baik untuk dipelajari lebih lanjut, tetapi juga keyakinan bahwa kemajuan pendidikan tinggi dapat dibangun melalui kolaborasi, keterbukaan, dan kemauan untuk terus belajar bersama.
ADSK
Editor : Jean Pierre
Dalam suasana yang hangat dan terbuka, diskusi tidak hanya berfokus pada capaian-capaian institusi, tetapi juga pada proses, strategi, dan tantangan yang dihadapi dalam mengelola berbagai program pengembangan universitas. Sebagai sesama perguruan tinggi swasta, USD dan UMY memiliki pemahaman yang sama bahwa kemajuan institusi tidak dapat dicapai secara instan. Dibutuhkan tata kelola yang kuat, kolaborasi lintas unit, serta keberanian untuk terus belajar dari praktik-praktik baik yang telah terbukti berhasil.
Salah satu topik yang mendapat perhatian khusus adalah pengelolaan kerja sama dan internasionalisasi. Prof. Rizal Yaya bersama tim menjelaskan bagaimana UMY membangun sistem monitoring kerja sama yang terintegrasi, mulai dari penyusunan Memorandum of Understanding (MoU), Memorandum of Agreement (MoA), hingga Implementation Agreement (IA). Yang menarik, keberhasilan kerja sama tidak diukur semata dari jumlah dokumen yang ditandatangani, tetapi dari implementasi dan dampaknya terhadap pencapaian tujuan institusi. Pendekatan ini memberikan perspektif baru mengenai pentingnya memastikan setiap kemitraan menghasilkan nilai tambah yang nyata.

Pembahasan kemudian berlanjut pada strategi internasionalisasi yang menjadi salah satu kekuatan UMY. Berbagai program mobilitas mahasiswa dan dosen, visiting professor, visiting lecturer, hingga kolaborasi penelitian internasional menjadi instrumen untuk memperluas jejaring akademik global. UMY juga secara aktif menyelenggarakan program Summer School yang melibatkan peserta dari berbagai negara. Selain menjadi sarana pembelajaran lintas budaya, program ini terbukti efektif dalam memperkenalkan institusi kepada komunitas internasional sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas.
Dari sisi reputasi dan komunikasi publik, Dr. Mega Hidayati memaparkan bagaimana UMY mengelola branding institusi secara terstruktur melalui pendekatan yang berbasis storytelling dan penguatan narasi dampak. Prestasi sivitas akademika, kisah inspiratif alumni, serta kontribusi universitas bagi masyarakat dikemas sebagai cerita yang mampu membangun kedekatan dengan publik. Strategi tersebut diperkuat dengan pengelolaan media sosial yang tersegmentasi sesuai tujuan komunikasi, sehingga pesan yang disampaikan dapat menjangkau audiens secara lebih efektif.
Diskusi mengenai media relations juga menjadi bagian yang menarik. UMY menekankan pentingnya membangun hubungan yang berkelanjutan dengan media melalui berbagai program kemitraan dan kolaborasi. Selain itu, dosen didorong untuk aktif hadir sebagai narasumber dalam berbagai isu aktual sehingga universitas tidak hanya dikenal melalui prestasinya, tetapi juga melalui kontribusi pemikiran akademiknya bagi masyarakat luas.
Sementara itu, pengelolaan tracer study dan data alumni menjadi pembelajaran penting lainnya. UMY mengembangkan sistem yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari surveyor khusus, alumni, hingga program studi, untuk memastikan data lulusan dapat dihimpun secara lebih komprehensif. Pendekatan ini menunjukkan bahwa tracer study bukan sekadar instrumen pelaporan, melainkan sumber informasi strategis yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan relevansi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja.
Melalui studi banding ini, USD memperoleh banyak wawasan mengenai pentingnya integrasi data, kolaborasi antarunit, dan pengelolaan program yang berorientasi pada dampak. Lebih dari itu, kunjungan ini mencerminkan semangat saling belajar antarperguruan tinggi swasta dalam menghadapi tantangan yang terus berkembang. Dari Yogyakarta, USD membawa pulang bukan hanya berbagai praktik baik untuk dipelajari lebih lanjut, tetapi juga keyakinan bahwa kemajuan pendidikan tinggi dapat dibangun melalui kolaborasi, keterbukaan, dan kemauan untuk terus belajar bersama.
ADSK
Editor : Jean Pierre




