USD — Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma (FF-USD) menyelenggarakan Lokakarya Penguatan Kualitas Penelitian Berorientasi Hilirisasi dalam Pengembangan Roadmap Penelitian pada Jumat, 5 Juni 2026, pukul 14.00–16.00 WIB, bertempat di Common Room Fakultas Farmasi USD. Kegiatan ini menjadi tonggak penting dalam upaya fakultas mewujudkan road map penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (Litabmas) FF-USD 2026–2030 yang berorientasi pada dampak nyata bagi masyarakat serta kemandirian farmasi nasional.


Lokakarya Strategis untuk Riset Berdampak
Lokakarya ini diikuti oleh 18 dosen aktif Fakultas Farmasi USD dan dirancang sebagai forum strategis untuk menjawab pertanyaan krusial “bagaimana riset yang telah diagendakan dalam Road Map Litabmas FF-USD 2026–2030 dapat ditindaklanjuti secara nyata hingga tahap hilirisasi?” Kegiatan ini merupakan implementasi langsung dari road map fakultas yang menetapkan sejumlah topik penelitian untuk dihilirisasi menjadi produk, jasa, maupun kebijakan yang bermanfaat.
Kekhasan Fakultas Farmasi USD terletak pada pengembangan metode deteksi dini dan solusi persoalan kesehatan melalui optimalisasi kearifan lokal, asuhan kefarmasian, serta pemanfaatan teknologi kefarmasian dalam penanganan penyakit degeneratif dan infeksi, serta pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Road map fakultas menegaskan komitmen untuk tidak sekadar menghasilkan publikasi akademik, melainkan mendorong penelitian yang berujung pada produk dan layanan yang dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat dan industri.
Narasumber: Pakar Hilirisasi Farmasi Bertaraf Internasional
Sebagai narasumber utama, lokakarya ini menghadirkan Prof. apt. I Ketut Adnyana, M.Si., Ph.D., Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek). Beliau merupakan salah satu figur paling relevan untuk topik ini: Guru Besar Farmakologi Bidang Natural Product dengan lebih dari 135 publikasi internasional terindeks Scopus (H-index Scopus: 27), mantan Dekan Sekolah Farmasi ITB (2020–2025), dan telah berhasil menghilirisasi hasil riset menjadi produk terdaftar seperti Ganeshfit, Teayasa, GlucoMep, Tluur, dan Ganeshfit Alfa.
Paparan Prof. Ketut bertema “Riset Berdampak: Ekosistem Penelitian & Inovasi” membawa perspektif kebijakan nasional sekaligus pengalaman praktis dalam membangun ekosistem hilirisasi dan komersialisasi hasil riset farmasi.

Isu Strategis yang Dibahas
Lokakarya ini membahas sejumlah isu strategis yang menjadi tantangan nyata bagi perguruan tinggi dalam menjalankan misi hilirisasi riset, di antaranya: 1) Membangun ekosistem riset dan pengembangan yang terintegrasi dan berdampak, berbasis tantangan dan kebutuhan nyata masyarakat; 2) Strategi menjembatani kesenjangan antara riset laboratorium dan komersialisasi produk (valley of death), mulai dari Technology Readiness Level (TRL) 1 hingga tahap Market Readiness Level (MRL); 3) Implementasi ekosistem hilirisasi dan komersialisasi melalui pendekatan ABGCM (Academia–Business–Government–Community–Media) sebagai fondasi kolaborasi lintas sektor; 4) Pengelolaan produk hilirisasi secara kelembagaan, termasuk aspek legalitas, kepemilikan produk (barang maupun jasa), akreditasi laboratorium, dan mekanisme bagi hasil antara peneliti, fakultas, dan yayasan; 5) Pemanfaatan skema pendanaan riset nasional seperti RIKUB, PRIMESTeP, dan program Riset Prioritas & Strategis Kemendikti Saintek senilai total Rp2,46 triliun untuk mendorong hilirisasi hasil riset perguruan tinggi.
Konteks Kebijakan Nasional
Lokakarya ini selaras dengan arah kebijakan Kemendikti Saintek yang mendorong perguruan tinggi untuk bertransformasi dari menara gading menjadi motor perubahan bangsa. Pemerintah menegaskan bahwa penelitian tidak cukup hanya menghasilkan publikasi, melainkan harus menjawab tantangan nyata seperti ketahanan dan kemandirian farmasi nasional, penanganan penyakit degeneratif dan infeksi, serta pengembangan produk berbahan baku lokal yang berdaya saing global.
Sektor farmasi dan bioteknologi secara konsisten mencatat intensitas belanja R&D tertinggi di antara semua sektor industri global, sekaligus menyumbang 18% dari 100 perusahaan paling inovatif di dunia. Hal ini menjadi peluang strategis bagi Fakultas Farmasi USD untuk memposisikan riset-riset unggulannya di tengah ekosistem inovasi nasional yang sedang dibangun.

“Lokakarya ini merupakan salah satu upaya FF USD dalam menjalankan road map Litabmas FF-USD 2026–2030. Kami ingin setiap penelitian dosen tidak berhenti menjadi tumpukan file atau publikasi ilmiah, melainkan menjadi solusi nyata bagi masyarakat. Kolaborasi dengan Kemendikti Saintek dan pembelajaran dari pengalaman Prof. Ketut memberikan kami inspirasi dan insight yang lebih konkret menuju hilirisasi riset farmasi yang berdampak.”
“Penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di Fakultas Farmasi USD tumbuh dari akar yang kuat: keberpihakan pada pasien dan kekayaan alam Indonesia. Dengan menggabungkan eksplorasi kearifan lokal dan etnofarmasi, teknologi komputasi untuk perancangan obat, serta inovasi formulasi farmasi, FF-USD mengembangkan solusi ilmiah yang berakar pada kebutuhan nyata masyarakat. Di sisi pengabdian, kemitraan berkelanjutan dengan komunitas, industri jamu, puskesmas, dan rumah sakit menjadikan FF-USD bukan sekadar pusat ilmu, melainkan mitra strategis dalam kesehatan masyarakat —mulai dari deteksi dini penyakit hingga kemandirian terapi.” Demikian paparan Dewi Setyaningsih — Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.
Senada dengan Dewi, A. Prasetyadi sebagai Wakil Ketua LPPM menyambut baik berbagai inisiasi dari Fakultas Farmasi. Fakultas Farmasi adalah fakultas yang leading di USD dalam mengelola kegiatan tridharmanya. Banyak kerjasama denga mitra strategis telah dilakukan oleh Fakultas Farmasi dalam bidang riset dan pengabdian. “Kami mengapresiasi banyaknya mitra, seperti industri farmasi dan jamu, yang telah mempercayai Fakultas Farmasi USD untuk penelitian bersama.”
Dengan diselenggarakannya lokakarya ini, Fakultas Farmasi USD berkomitmen untuk terus memperkuat kapasitas dosen dalam merancang dan melaksanakan penelitian berorientasi dampak, membangun jejaring kolaborasi dengan industri dan pemangku kepentingan, serta menjadikan hilirisasi riset sebagai budaya akademik yang terlembagakan dalam road map 2026–2030.
Dr. apt. Dewi Setyaningsih
Editor: AK
Lokakarya ini diikuti oleh 18 dosen aktif Fakultas Farmasi USD dan dirancang sebagai forum strategis untuk menjawab pertanyaan krusial “bagaimana riset yang telah diagendakan dalam Road Map Litabmas FF-USD 2026–2030 dapat ditindaklanjuti secara nyata hingga tahap hilirisasi?” Kegiatan ini merupakan implementasi langsung dari road map fakultas yang menetapkan sejumlah topik penelitian untuk dihilirisasi menjadi produk, jasa, maupun kebijakan yang bermanfaat.
Kekhasan Fakultas Farmasi USD terletak pada pengembangan metode deteksi dini dan solusi persoalan kesehatan melalui optimalisasi kearifan lokal, asuhan kefarmasian, serta pemanfaatan teknologi kefarmasian dalam penanganan penyakit degeneratif dan infeksi, serta pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Road map fakultas menegaskan komitmen untuk tidak sekadar menghasilkan publikasi akademik, melainkan mendorong penelitian yang berujung pada produk dan layanan yang dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat dan industri.
Narasumber: Pakar Hilirisasi Farmasi Bertaraf Internasional
Sebagai narasumber utama, lokakarya ini menghadirkan Prof. apt. I Ketut Adnyana, M.Si., Ph.D., Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek). Beliau merupakan salah satu figur paling relevan untuk topik ini: Guru Besar Farmakologi Bidang Natural Product dengan lebih dari 135 publikasi internasional terindeks Scopus (H-index Scopus: 27), mantan Dekan Sekolah Farmasi ITB (2020–2025), dan telah berhasil menghilirisasi hasil riset menjadi produk terdaftar seperti Ganeshfit, Teayasa, GlucoMep, Tluur, dan Ganeshfit Alfa.
Paparan Prof. Ketut bertema “Riset Berdampak: Ekosistem Penelitian & Inovasi” membawa perspektif kebijakan nasional sekaligus pengalaman praktis dalam membangun ekosistem hilirisasi dan komersialisasi hasil riset farmasi.

Isu Strategis yang Dibahas
Lokakarya ini membahas sejumlah isu strategis yang menjadi tantangan nyata bagi perguruan tinggi dalam menjalankan misi hilirisasi riset, di antaranya: 1) Membangun ekosistem riset dan pengembangan yang terintegrasi dan berdampak, berbasis tantangan dan kebutuhan nyata masyarakat; 2) Strategi menjembatani kesenjangan antara riset laboratorium dan komersialisasi produk (valley of death), mulai dari Technology Readiness Level (TRL) 1 hingga tahap Market Readiness Level (MRL); 3) Implementasi ekosistem hilirisasi dan komersialisasi melalui pendekatan ABGCM (Academia–Business–Government–Community–Media) sebagai fondasi kolaborasi lintas sektor; 4) Pengelolaan produk hilirisasi secara kelembagaan, termasuk aspek legalitas, kepemilikan produk (barang maupun jasa), akreditasi laboratorium, dan mekanisme bagi hasil antara peneliti, fakultas, dan yayasan; 5) Pemanfaatan skema pendanaan riset nasional seperti RIKUB, PRIMESTeP, dan program Riset Prioritas & Strategis Kemendikti Saintek senilai total Rp2,46 triliun untuk mendorong hilirisasi hasil riset perguruan tinggi.
Konteks Kebijakan Nasional
Lokakarya ini selaras dengan arah kebijakan Kemendikti Saintek yang mendorong perguruan tinggi untuk bertransformasi dari menara gading menjadi motor perubahan bangsa. Pemerintah menegaskan bahwa penelitian tidak cukup hanya menghasilkan publikasi, melainkan harus menjawab tantangan nyata seperti ketahanan dan kemandirian farmasi nasional, penanganan penyakit degeneratif dan infeksi, serta pengembangan produk berbahan baku lokal yang berdaya saing global.
Sektor farmasi dan bioteknologi secara konsisten mencatat intensitas belanja R&D tertinggi di antara semua sektor industri global, sekaligus menyumbang 18% dari 100 perusahaan paling inovatif di dunia. Hal ini menjadi peluang strategis bagi Fakultas Farmasi USD untuk memposisikan riset-riset unggulannya di tengah ekosistem inovasi nasional yang sedang dibangun.

“Lokakarya ini merupakan salah satu upaya FF USD dalam menjalankan road map Litabmas FF-USD 2026–2030. Kami ingin setiap penelitian dosen tidak berhenti menjadi tumpukan file atau publikasi ilmiah, melainkan menjadi solusi nyata bagi masyarakat. Kolaborasi dengan Kemendikti Saintek dan pembelajaran dari pengalaman Prof. Ketut memberikan kami inspirasi dan insight yang lebih konkret menuju hilirisasi riset farmasi yang berdampak.”
“Penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di Fakultas Farmasi USD tumbuh dari akar yang kuat: keberpihakan pada pasien dan kekayaan alam Indonesia. Dengan menggabungkan eksplorasi kearifan lokal dan etnofarmasi, teknologi komputasi untuk perancangan obat, serta inovasi formulasi farmasi, FF-USD mengembangkan solusi ilmiah yang berakar pada kebutuhan nyata masyarakat. Di sisi pengabdian, kemitraan berkelanjutan dengan komunitas, industri jamu, puskesmas, dan rumah sakit menjadikan FF-USD bukan sekadar pusat ilmu, melainkan mitra strategis dalam kesehatan masyarakat —mulai dari deteksi dini penyakit hingga kemandirian terapi.” Demikian paparan Dewi Setyaningsih — Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.
Senada dengan Dewi, A. Prasetyadi sebagai Wakil Ketua LPPM menyambut baik berbagai inisiasi dari Fakultas Farmasi. Fakultas Farmasi adalah fakultas yang leading di USD dalam mengelola kegiatan tridharmanya. Banyak kerjasama denga mitra strategis telah dilakukan oleh Fakultas Farmasi dalam bidang riset dan pengabdian. “Kami mengapresiasi banyaknya mitra, seperti industri farmasi dan jamu, yang telah mempercayai Fakultas Farmasi USD untuk penelitian bersama.”
Dengan diselenggarakannya lokakarya ini, Fakultas Farmasi USD berkomitmen untuk terus memperkuat kapasitas dosen dalam merancang dan melaksanakan penelitian berorientasi dampak, membangun jejaring kolaborasi dengan industri dan pemangku kepentingan, serta menjadikan hilirisasi riset sebagai budaya akademik yang terlembagakan dalam road map 2026–2030.
Dr. apt. Dewi Setyaningsih
Editor: AK




