USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Bincang Karya Alumni Kajian Budaya: Wujud Apresiasi Karya dan Ruang Belajar Bersama

diupdate: 4 bulan yang lalu

1

USD - Bertempat di Ruang Kadarman lantai 4 Gedung Pusat Kampus II Universitas Sanata Dharma, telah diselenggarakan Bincang Karya Alumni Kajian Budaya. Acara itu dibuka dengan sambutan dari Dr. Yustina Devi Ardhiani M.Hum. selaku Ketua Program Studi S2 Kajian Budaya.

"Kita sangat mengapresiasi karya alumni. Itu salah satu tujuan kami. Tentu karya itu terbentuk dari pergulatan teman-teman dan apa yang dipelajari di IRB. Dengan membincangkan karya alumni dalam satu ruangan, kita masih percaya kita masih punya ruang untuk belajar bersama. Ini adalah cara kita untuk tetap terhubung." Jelasnya membuka acara tersebut pada hari Sabtu 6 Juni 2026. Bu Devi melanjutkan, ketiga karya yang dibincangkan pada hari ini memilik benang merah dan berangkat dari titik yang sama. "Ketiganya berangkat dari pengalaman personal. Pergolakan pribadi setiap penulis. Pertanyaan kritis dan reflektif, paradoks dan iron hadir dalam tulisan mereka. Ketiganya tidak menutup dengan kesimpulan pada akhir buku justru memulai dengan pertanyaan baru." tutupnya.

Martua Febrianto Samosir (Alumnus S2 Kajian Budaya Angkatan 2020) selaku moderator sesi pertama membuka diskusi dengan menjelaskan secara ringkas isi buku tersebut. "Buku Hamster karya Ombri Kaho (Alumnus S2 Kajian Budaya Angkatan 2022) bercerita dari sudut pandang hamster untuk menceritakan pengalaman perempuan yang tidak lain adalah tuannya. Perubahan-perubahan kecil yang seringkali kita anggap remeh seringkali menjadi penentu dari perubahan besar yang terjadi pada diri kita." ucapnya.

2

Hugo Sistha Prabangkara (Alumnus S2 Kajian Budaya Angkatan 2016) selaku pembahas buku tersebut mengatakan kalau tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam buku tersebut berasal dari tradisi masyarakat tertentu yang menuntut perempuan untuk menikah muda. Menurutnya, buku tersebut menghadirkan fenomena dari kerapuhan relasi antar manusia. "Yang saya baca, tokohnya diambil dari tradisi masyarakat tertentu yang menuntut perempuan untuk menikah muda. Yang saya baca tidak hanya pengalaman yang saya temui pada teman-teman lain, tapi saya menemukan bahwa relasi itu rapuh dan akan selalu rapuh. Bagaimana novel ini menggerakan emosi saya. Saya menemukan diri saya di sini," Jelas Mahasiswa Doktoral Kajian Seni dan Masyarakat Universitas Sanata Dharma.

Sedangkan Eventus Ombri Kaho selaku penulis buku tersebut menjelaskan bahwa buku tersebut ditulis untuk hadiah perkawinan seseorang. Dia melanjutkan, isi dari buku itu berkisah dari kepeduliannya terhadap hak asasi hamster, kisah tentang pelarian seseorang, kisah tentang hidupnya dan trauma yang dirasakan saat berada dalam peristiwa timor-timur. "Saya juga menyoroti hak asasi si hamster. Novel ini memang tentang pelarian. Kisah ini juga hadir dari pengalaman saya sejak kecil. Juga tentang cerita tentang nenek yang tak kunjung bertemu kakek. Bagaimana teman-teman saya yang selalu berpindah-pindah sekolah karena mereka anak-anak tentara. Buku ini juga merupakan bentuk terapi saya terhadap trauma tentang peristiwa tim-tim." jelasnya.

Dalam bincang buku kedua, Claudius Hans Christian Salvatore (Alumnus S2 Kajian Budaya Angkatan 2013), selaku moderator membuka sesi kedua dengan menjelaskan kalau buku Catatan Harian Chindo mengisahkan tentang kegelisahan dan trauma bagaimana menjadi seorang Cina. Anne Shakka (Alumna S2 Kajian Budaya Angkatan 2013) selaku penulis buku menjelaskan latar belakang kelahiran buku tersebut dipantik oleh demonstrasi berujung kerusuhan yang terjadi di hampir seluruh kota di Indonesia pada Agustus tahun lalu. "Buku catatan hari ini diluar rencana saya menerbitkan. Periode agustus saya tuliskan kegelisahan. Apa yang saya lakukan kalau terjadi kerusuhan lagi?," Jelas Alumna sekaligus dosen di Program Studi Humanitas Universitas Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta.

Kurniasih (Alumna S2 Kajian Budaya Angkatan 2011) selaku pembahasan buku tersebut mengatakan bahwa dirinya memiliki kedekatan dengan buku ini karena dia pernah merasa menjadi minoritas. Menurutnya, melalui buku ini dia terbantu untuk membaca kotak bernama identitas. "Buku ini membantu saya untuk membaca kotak bernama identitas. Esai ini sebetulnya bentuk yang pas untuk mengadukan nasib lebih luas. Saya menemukan pribadi mbak anne justru di buku ini. Melankolia, seseorang merasa kehilangan namun dia tidak mengetahui apa yang hilang. Saya membaca anne itu sudah selesai. Di buku ini saya menemukan kegelisahan anne. Anne sudah selesai dengan trauma nya." Jelas perempuan berjilbab yang sedang menempuh program doktoral di Kajian Seni dan Masyarakat Universitas Sanata Dharma itu.

Bincang buku ketiga berjudul Yang Datang Setelah Jawaban dimoderatori oleh Zudhi Siswanto, alumnus S2 Kajian Budaya dan saat ini berstatus mahasiswa doktoral di Kajian Seni dan Masyarakat, Universitas Sanata Dharma. Zudhi tanpa berpanjang kata langsung mempersilahkan penulis buku tersebut untuk menceritakan isi buku yang ditulisnya.

3

Lian Gogali (Alumna S2 Kajian Budaya Angkatan 2004) selaku penulis buku menjelaskan bahwa semuanya dimulai saat dirinya berkuliah di Ilmu Religi dan Budaya (sekarang Kajian Budaya). Saat dirinya melakukan penelitian di posko pengungsian Poso untuk keperluan tesisnya, dia mendapat pertanyaan yang tidak pernah diduga. "Kalau kau menulis tentang kami, apa yang berubah dari kami?," kata alumna IRB tahun 2003 meniru pertanyaan yang diajukan seorang perempuan di posko pengungsian.

Dia melanjutkan, IRB membentuk cara berpikirnya. Dia melihat bahwa kehidupan sehari-hari dan pengetahuan mereka direbut oleh pemerintah, militer, LSM dan gereja. "Metode militer, pemerintah dan LSM membongkar bahasa /pengetahuan masyarakat. Perjalanan untuk menemukan itu sangat panjang. Sebabnya selama ini kami dibuat lupa kalau kami punya pengetahuan. Kami punya sejarah perempuan yang sangat ditutup, baik belanda maupun gereja. Dalam sejarah, perempuan itu sebagai hakim, negosiator, dan hukum. Posisi ini diambil alih oleh ketika masuknya Belanda melalui gereja dan juga masukkan pendidikan. Peran perempuan diubah di meja makan. Perempuan diajarkan menata meja makan dan menggunakan sendok dan garpu." Jelas Aktivis perempuan pendiri Sekolah Perempuan dan Institut Mosintuwu untuk perempuan lintas agama di Kabupaten Poso itu.

Sedangkan Astrid Reza (Alumna S2 Kajian Budaya Angkatan 2023) selaku pembahas buku itu menjelaskan kalau Lian menjadi pembaca sekaligus penulis. Menurutnya perjalanan mereka memiliki banyak kesamaan. Mereka sama-sama seorang ibu sekaligus seorang pembelajar. Menurutnya, sejarah keluarga adalah sejarah kita. "Poso sebagai sirah. Lian menjadi pembaca dan penulis. Dalam perjalanan intelektual kami memiliki banyak kesamaan. Sejarah keluarga adalah sejarah kita. Pertanyaan saya cuman satu, kenapa memoar?," Jelas sejarawan perempuan sekaligus alumna Kajian Budaya 2023 itu. Acara diskusi yang dilangsungkan dari pukul 10:00-17:00 Wib ditutup dengan foto Bersama dan ramah-tamah.




Notulis: Benfa – Alumnus S2 Kajian Budaya Angkatan 2023
Editor  : Jean Pierre

  kembali