USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

USD Hadirkan Dialog Hangat Lewat Diskusi dan Bedah Buku

diupdate: 10 bulan yang lalu

USD - Menyuarakan keadilan representasi dalam sastra, Program Studi Kajian Budaya menggelar diskusi dan bedah buku Seks, Teks, dan Konteks oleh Dr. Katrin Bandel. Acara terbuka bagi masyarakat umum dan bertempat di selasar lantai dasar Gedung Pascasarjana, Kampus Universitas Sanata Dharma pada 5 Desember 2025. Sesuai dengan judul buku, tema yang diangkat pada kesempatan ini adalah “Membaca Seks, Menafsir Teks, Menghadirkan Konteks”. Program Studi Kajian Budaya juga turut menghadirkan Raudal Tanjung Benua dan Wahmuji sebagai penanggap buku, serta Ani Kurniasih sebagai moderator.

Diskusi Katrina

Dalam membuka acara, Dr. Yustina Devi Ardhani, M. Hum., sebagai Kepala Program Studi Kajian Budaya, menyampaikan bahwa penerbitan buku ini menandai kebersamaan sang penulis, Katrin Bandel, dan Program Studi Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma selama 20 tahun. Bu Devi tak luput juga mengutarakan harapannya agar lewat diskusi ini, para pembaca bisa memahami apa yang ingin disuarakan penulis dalam buku Seks, Teks, dan Konteks.

Sastrawan Raudal Tanjung Benua kemudian memulai diskusi dengan memberikan opini pribadinya terhadap karya Dr. Katrin Bandel, Seks, Teks, dan Konteks. Dalam pemaparannya, Raudal memberikan komentar untuk berbagai dimensi buku tersebut. Salah satunya yaitu mengenai kajian dalam buku ini. "Menurut saya, kajian di dalam buku ini bercampur. Ada dalam bentuk pasca-kolonial dan ada cultural studies. Sedikit pandangan saya mengenai cultural studies, ini sepertinya lebih banyak menarik perhatian orang daripada pascakolonial. Padahal, dalam konteks Indonesia yang masih terikat kuat dengan masyarakat kolonial, kajian yang tepat bagi sastra Indonesia saya kira adalah pascakolonial. Bukan cultural studies," jelas Raudal.

Diskusi Katrina

Pada kesempatan kedua, Wahmuji, alumnus S2 Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma, kemudian membagikan pandangannya terhadap buku tersebut. Salah satu poin yang dipaparkan oleh Wahmuji adalah frasa 'kritik representasi' yang menurutnya adalah salah satu kata kunci buku Seks, Teks, dan Konteks. Dalam pandangan Wahmuji, kritik representasi menganggap sastra dan manusia menghirup udara yang sama. "Dengan kritik representasi yang dilakukan Mbak Katrin dengan mengupayakan keadilan representasi dengan isu seperti sex dan sebagainya, Katrin sebenarnya sedang mengembalikan sastra ke masyarakat untuk dibicarakan. Jadi, dia satu nafas dengan kita sebagai manusia," papar Wahmuji

Diskusi Katrina

Setelah mendengarkan dua pendapat yang berbeda, Dr. Katrin Bandel kemudian memberikan tanggapannya. Peserta juga menanggapi dengan penuh antusias dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada Dr. Katrin Bandel, Raudal Tanjung Benua, dan Wahmuji. Pertukaran wawasan dan ilmu terjadi dengan penuh kehangatan melalui acara ini.




AN/DRL - Humas

  kembali