USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

LSC dan ASLE ASEAN 2025 Hadirkan Puluhan Peneliti Internasional di Universitas Sanata Dharma

diupdate: 11 bulan yang lalu

USD - Kolaborasi antara Literary Studies Conference (LSC) ke-13 bersama dengan Association for the Study of Literature and Environment (ASLE) ASEAN ke-6 sukses diselenggarakan di Universitas Sanata Dharma pada tanggal 13-14 November 2025. Pada tahun ini, tema yang diangkat adalah “Literary Narratives, Climate Change, and Social Inequality: ASEAN Perspectives.” Puluhan peserta dari berbagai negara seperti Indonesia, Vietnam, Thailand, Filipina, Singapura, India, Amerika Serikat, dan lainnya turut meramaikan acara dengan mempresentasikan studi-studi yang telah diteliti. Namun, pembicara utama dalam konferensi kali ini adalah Prof. Novita Dewi dan Prof. Steven Green. Selain dilakukan secara onsite, sebagian peserta yang berhalangan hadir juga dapat mengikuti acara melalui Zoom.

LSC 2025

Pada hari pertama, acara dimulai di Ruang Seminar Auditorium Driyarkara untuk menampilkan sambutan-sambutan dari pihak Universitas Sanata Dharma dan ASLE ASEAN. Acara kemudian dilanjutkan di Gedung Fakultas Sastra untuk melaksanakan presentasi penelitian dari para peserta. Berbeda dengan hari sebelumnya, di hari kedua acara langsung dimulai dengan sesi presentasi di Gedung Sastra. Setelah semua peserta mempresentasikan penelitiannya, acara dipindahkan kembali ke Ruang Seminar Auditorium Driyarkara untuk sesi penutupan.

Dalam sambutannya memulai LSC ke-13 dan ASLE ASEAN ke-6, rektor Universitas Sanata Dharma, Romo Albertus Bagus Laksana, S.J., S.S., Ph.D., menyampaikan rasa bahagia dan syukur atas terselenggaranya kolaborasi antar konferensi ini di Universitas Sanata Dharma.

“Saya berharap bisa berada di sini secara langsung, tetapi tentu tetap menjadi kebahagiaan dan kehormatan bagi saya untuk menyambut Anda semua dari jauh ke Literary Studies Conference dan Konferensi Ekokritik ASLE ASEAN 2025. Ini adalah kebahagiaan bagi kita semua untuk menyambut kolaborasi akademik ini,” ujar Romo Albertus Bagus Laksana, S.J., S.S., Ph.D.
Pada acara ini, sebagai salah satu pembicara utama, Prof. Novita Dewi yang merupakan seorang profesor dari Universitas Sanata Dharma juga memberikan penjelasan tentang penelitiannya yang berjudul “Waters in Crisis: Postcolonial Narratives of Environmental Justice in Asian Literature”.

LSC 2025

“Artikel ini mengkaji bagaimana sastra Asia kontemporer merespons krisis hidrologi dalam konteks Asia Tenggara pasca kolonial, di mana sungai, meskipun merupakan ekosistem vital, menghadapi degradasi. Dengan menggunakan konsep hidropoetika, sebuah pandangan dunia yang berpusat pada sungai yang mengakui sungai sebagai entitas perseptif, artikel ini mencoba menunjukkan bagaimana citraan sungai memainkan peran dinamis dalam mengartikulasikan kesadaran sosial-budaya, politik, dan ekologis,” jelas Prof. Novita Dewi.

Tidak lupa, Prof. Steven Green, profesor dari National University of Singapore, sebagai pembicara kedua juga hadir untuk memberikan wawasan baru melalui penelitiannya yang berjudul “Ovid’s Epic Poem, Metamorphoses: Global Ecological Consciousness from Ancient Rome.”

LSC 2025

“Dalam pembicaraan ini, saya akan mengeksplorasi pemikiran lingkungan Ovid tentang hakikat makhluk hidup di Bumi, moralitas pertanian massal, sifat simbiosis kehidupan di planet ini, kebaikan vegetarianisme, dan efek planet dari pemanasan global atau kebakaran hutan seperti yang disaksikan dalam kisah Phaethon,” jelas Prof. Steven Green.

LSC dan ASLE ASEAN tahun ini kemudian ditutup dengan kata-kata penutup yang dibawakan oleh Prof. Sarwoto, Prof. Louisa L. Gomez, Prof. Ignasi Ribo, dan Prof. Citra Sankaran. Semoga dengan diselenggarakan konferensi ini, eksistensi Universitas Sanata Dharma bisa semakin dikenal baik secara nasional maupun internasional.




AN/CVN/DR - Humas

  kembali