
Yogyakarta – Mahasiswa Program Studi Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma berhasil mementaskan The Second Trial of Judas Iscariot di Auditorium Driyarkara pada hari Minggu, 7 September 2025. Pada pementasan kali ini, mereka menghadirkan pengalaman yang interaktif dengan memberikan para penonton kesempatan untuk menjadi juri pengadilan dan menentukan nasib akhir Judas Iscariot dalam ruang sidang Purgatory.
Pementasan ini diadaptasi dari karya berjudul The Last Days of Judas Iscariot yang ditulis oleh Stephen Adly Guirgis, penulis naskah drama asal Amerika Serikat yang telah memenangkan banyak penghargaan. Isi ceritanya menggugah pertanyaan tentang sumber pengampunan yang sejati serta syarat penebusan dosa yang dianggap tak terampuni.
Seanpaul Lapudooh, sutradara yang menggagas pementasan ini, menjelaskan, “Saya pikir kita perlu mendorong orang-orang untuk melihat sebuah kesalahan bukan langsung sebagai kejahatan, melainkan apa adanya: sebagai sebuah kekeliruan, ketidakmampuan, atau sekadar kelengahan sesaat. Saat ini, orang sangat mudah menilai orang lain sebagai ‘penjahat’. Menurut saya, naskah ini berhasil membalikkan narasi tentang Judas Iscariot yang sepanjang hidup saya selalu digambarkan sebagai sosok yang jahat. Saya ingin melihat apakah penonton dapat melihat sedikit bagian dari diri mereka di dalam Judas, dan mungkin menjadi lebih berbelas kasih, tidak hanya kepada diri mereka sendiri, tetapi juga kepada orang lain.”
The Second Trial of Judas Iscariot menampilkan kisah-kisah imajiner yang belum terungkap tentang Judas dan keterlibatannya dalam penyaliban Yesus. Babak pertama menghadirkan sisi tulus Judas saat ia masih kecil melalui testimoni ibunya, Henrietta Iscariot, lalu kesaksian Simon the Zealot, perjumpaan Judas dengan Satan setelah penangkapan Yesus, dan juga reuni Peter dan Matthew di kehidupan akhirat.
Mary Magdalene dan Thomas membuka babak kedua dengan sebuah spoken word poem yang menceritakan tentang dinamika antara Judas, Yesus, dan para rasul Yesus lainnya. Lalu, babak ini dilanjutkan dengan kilas balik upaya Judas untuk menarik kembali pengkhianatannya terhadap Yesus di hadapan Pontius Pilate, serta kemunculan Satan untuk kedua kalinya di ruang pengadilan.
Salah satu penonton, Attaya, menyampaikan, “Abis itu ada scene interaktif itu. Super duper menarik, soalnya aku kan lagi fokus sama apa yang tersaji di panggung. Tiba-tiba ternyata di samping atas kiri-kanan ada orang-orang yg teriak-teriak. Itu keren sih, aku suka kalian bisa nge-built suasananya, jadi rasanya semua lebih hidup gitu. Terus makin masuk ending waktu nentuin Judas harus kemana itu juga agak surprise buat aku.”
Menjelang akhir pertunjukan, ada 13 penonton yang sudah menerima glow stick berwarna hijau dan merah dari panitia. Mereka diminta untuk menentukan apakah Judas sebaiknya dimaafkan atau dihukum selamanya.


Odilia Emmanuela Ayuning Embunpagi, seorang anggota tim penulis naskah The Second Trial of Judas Iscariot, mengungkapkan bahwa mereka telah menyiapkan dua kemungkinan pengadeganan untuk bagian ini. Penonton pun pada akhirnya memilih untuk mengampuni Judas pada hari pementasan. Namun, kedua kemungkinan itu ditutup dengan akhir yang sama: Judas tidak mampu mengampuni dirinya sendiri.
“Walaupun banyak ngotak-ngatik naskah aslinya, kami (tim penulis naskah) tetap berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankan percakapan-percakapan penting dan pesan utamanya,” jelas Odi.
Ia menambahkan bahwa para penulis naskah sepakat untuk tidak banyak mengubah adegan terakhir, yaitu interaksi pilu di antara Yesus dan Judas. Hal ini dikarenakan oleh inti pesan pementasan yang dikemas dalam adegan — bahwa pengampunan yang ilahi akan jadi tidak berarti ketika seseorang memilih untuk menolaknya.
Agnes Seraphine - Sastra Inggris
Agnes Seraphine - Sastra Inggris




