USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Pusdema USD dan CNC Timor Leste Luncurkan Buku Memori Kolektif Timor Leste

diupdate: 1 tahun yang lalu

Diskusi Buku Pusdema 2025 (foto: istimewa)


USD- Pusat Studi Demorkrasi dan Hak Azasi Manusia (Pusdema) Universitas Sanata Dharma (USD) bersama Centro Nacional Chega (CNC) Timor-Leste meluncurkan dua buku tentang memori kolektif dan rekonsiliasi, Selasa (19/8/2025) di Gedung Pusat USD Yogyakarta.
 
Kedua buku berjudul "Jejak-Jejak Ingatan" dan "Meraih Cahaya" ini mengangkat isu rekonsiliasi masyarakat Timor-Leste pasca konflik. Peluncuran diselenggarakan Pusat Studi Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (Pusdema) USD di Ruang Kadarman, lantai 4 Gedung Pusat.
 
Dr. Yoseph Yapi Taum, penulis kedua buku, menjelaskan karya ini menggunakan teori memoria passionis dari Johann Baptist Metz. "Politik memori harus memberikan ruang bagi suara-suara yang selama ini terbungkam," ujarnya dalam diskusi peluncuran.
 
Yapi menekankan pentingnya memori kolektif sebagai fondasi rekonsiliasi. Menurutnya, meski trauma dan kekerasan menyimpan energi destruktif, narasi perjuangan juga lahir dari memori kolektif yang sama.
 
"Di dalam kasih tidak ada ketakutan, kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan. Keberanian merekonsiliasi masa lalu lahir dari kasih yang menghilangkan rasa takut," kata Yapi mengutip 1 Yohanes 4:18.

Diskusi Buku Pusdema 2025 (foto: istimewa)
 
Hugo Maria Fernandes, Direktur Eksekutif CNC, menyoroti pentingnya perspektif akar rumput. "Rekonsiliasi harus menyentuh pengalaman nyata warga di tingkat bawah, bukan hanya dari kacamata politik atau elitis," tegasnya.
 
Prof. Paulus Sarwoto, Direktur Pascasarjana USD, mengaitkan isu ini dengan sejarah kolonialisme Asia Tenggara. Ia mencontohkan konsep opasitas dalam rekonsiliasi - memberikan kesempatan mempertemukan semua pihak meski masih ada luka yang belum terungkap.
 
Tri Agus Susanto dari Solidamor Fortilos menekankan partisipasi masyarakat sipil dalam proses rekonsiliasi. Sementara Antonius Sumarwan SJ menambahkan dimensi spiritual sebagai jalan memulihkan martabat manusia.
 
"Jejak-Jejak Ingatan" mengupas sisi gelap sejarah Timor-Leste, termasuk trauma dan kekerasan selama periode pendudukan Portugis (1522-1975), Jepang (1942-1945), dan integrasi dengan Indonesia (1976-1999).
 
"Meraih Cahaya"menyajikan narasi memori kolektif dari berbagai pihak: pejuang kemerdekaan, pejuang integrasi, tentara Operasi Seroja, dan diaspora Timor-Leste. Buku ini membahas rekonsiliasi dari beragam perspektif politik pascakonflik 1975 dan tragedi 1999.
 
Kedua buku ini ditargetkan menjadi referensi bagi peneliti, akademisi, dan masyarakat yang tertarik pada isu sejarah, ingatan, dan rekonsiliasi. 
 
Diskusi yang berlangsung hangat menunjukkan pentingnya dialog lintas generasi untuk merawat ingatan dan membangun hubungan konstruktif Indonesia-Timor-Leste.
 
Acara dibuka sambutan Dr. Anton Haryono (Ketua Pusdema) dan Dr. Yohanes Harsoyo (Wakil Rektor II USD), dipandu moderator Patria Budi Suharyo.


(KRSP-Sejarah)

  kembali