
USD - Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma menggelar Jalinan Akrab Sastra (JAKSA) 2025 di Auditorium Driyarkara pada Sabtu, 16 Agustus 2025, sebagai momentum strategis menyambut mahasiswa baru sekaligus meneguhkan komitmen terhadap nilai humanisme dan pelestarian bahasa daerah Indonesia. Acara tahunan ini tidak sekadar pengenalan akademik, tetapi juga deklarasi misi fakultas dalam membentuk mahasiswa yang kritis, kreatif, dan humanis.
Dekan Fakultas Sastra, Dr. Yoseph Yapi Taum, menyambut hangat mahasiswa baru yang datang dari berbagai daerah di Indonesia dengan memberikan konteks strategis posisi mereka di Yogyakarta. Dalam sambutannya, Dr. Yapi menjelaskan bahwa Yogyakarta dikenal sebagai Kota Pelajar utama dengan 128 perguruan tinggi dan populasi mahasiswa mencapai 300.000 orang, sementara USD merupakan salah satu universitas swasta terbesar di Yogyakarta dengan total 14.027 mahasiswa.
"Tujuan FS USD adalah membentuk mahasiswa yang tidak hanya berwawasan luas, tetapi juga kritis dan peka terhadap kehidupan dan kemanusiaan," tegas Dr. Yapi yang memimpin fakultas terbesar keempat di universitas ini. Visi ini kemudian diperdalam melalui dua sesi bincang-bincang interaktif yang mengangkat isu fundamental sastra dan tantangan kontemporer bahasa daerah.
Pada sesi pertama tentang "Sastra dan Peradaban Manusia", Dr. Yapi menegaskan bahwa sastra adalah "modus eksistensi manusia" yang menyimpan nilai, budaya, dan perasaan. Menurutnya, sastra merupakan salah satu bidang kebudayaan tertua yang lahir dari pengalaman estetis dan religius manusia, dimulai dari tradisi lisan dan mitos sebelum berkembang menjadi bidang yang lebih otonom.
Sastra juga berperan sebagai media mengekspresikan pengalaman spiritual manusia saat menghadapi alam yang dahsyat (tremendum) maupun yang indah bersahabat (fascinosum). Dalam konteks inilah Dr. Yapi memperkenalkan identitas khas Fakultas Sastra USD yang berlandaskan motto "Kritis, Kreatif, dan Humanis".


Dimensi kritis diwujudkan melalui pembekalan mahasiswa dengan teori-teori kritis untuk mempertanyakan kemapanan dan melihat teks sastra dalam konteks yang lebih luas, termasuk isu kekuasaan, ideologi, dan identitas. Aspek kreatif dikembangkan melalui mata kuliah creative writing dan pembuatan film yang mendorong mahasiswa mengasah kreativitas praktis.
Sementara nilai humanis, sebagai bagian dari pendidikan Jesuit, berpegang teguh pada empat nilai dasar USD yaitu mencintai kebenaran, memperjuangkan keadilan, menghargai keberagaman, dan menjunjung tinggi martabat manusia. Komitmen ini tercermin dalam fokus penelitian dan pengabdian masyarakat yang berpihak pada keadilan dan martabat kaum marjinal.
Sesi kedua mengangkat isu krusial "Kepunahan dan Pelestarian Bahasa Daerah" yang menjadi tantangan serius bagi peradaban Indonesia. Dr. Yapi menjelaskan bahwa menurunnya penggunaan bahasa daerah di kalangan anak muda disebabkan kombinasi faktor historis dan politis, meliputi marginalisasi bahasa daerah pada era Orde Baru, hegemoni Bahasa Indonesia, dan dominasi budaya global.
Kondisi ini mengkhawatirkan mengingat Indonesia memiliki 718 bahasa daerah, namun banyak di antaranya menghadapi ancaman kepunahan dengan 11 bahasa berstatus punah dan 24 lainnya berstatus kritis. "Hegemoni Bahasa Indonesia membuatnya diasosiasikan dengan status sosial dan peluang profesional, sementara bahasa daerah dianggap kurang relevan," jelas Dr. Yapi yang mendorong mahasiswa berperan aktif dalam pelestarian melalui tugas akhir berupa antologi puisi bahasa daerah, penelitian skripsi, atau memanfaatkan media sosial.


Ia mencontohkan upaya revitalisasi konkret seperti penerbitan antologi puisi dwibahasa dan pemanfaatan teknologi, termasuk pembuatan konten kreatif, penggunaan fitur audio, serta membangun komunitas daring untuk mempromosikan bahasa daerah. Strategi ini menunjukkan bagaimana pendekatan akademik dapat diintegrasikan dengan aktivisme budaya untuk pelestarian warisan linguistik bangsa.
Setelah diskusi mendalam, mahasiswa baru diajak berkeliling kampus mengenal berbagai fasilitas seperti ruang kelas, perpustakaan, dan pusat kegiatan mahasiswa. Program pengenalan ini dirancang untuk membantu mahasiswa beradaptasi dengan lingkungan akademik sekaligus memahami ekosistem pembelajaran di Fakultas Sastra.
Puncak acara JAKSA 2025 adalah pentas seni oleh mahasiswa baru dan konser bersama yang memeriahkan suasana sambil memperkuat ikatan kekeluargaan di Fakultas Sastra USD. Kegiatan ini bukan sekadar hiburan, tetapi manifestasi praktis dari nilai kreatif dan humanis yang menjadi identitas fakultas.
JAKSA 2025 berhasil menciptakan momentum strategis bagi mahasiswa baru untuk memahami tidak hanya struktur akademik, tetapi juga misi sosial dan budaya yang diemban Fakultas Sastra USD dalam melestarikan warisan sastra dan bahasa Indonesia di tengah tantangan globalisasi.
Penulis: Konrad Ruben Sachi Pratama – Sie Acara JAKSA




