USD, 18 Juli 2025 - Universitas Sanata Dharma (USD) menggelar Hari Studi di Ruang Drost Gedung Utama Kampus III Paingan. Kegiatan yang diiukti oleh 550 civitas akademika (dosen, tendik, mahasiswa) ini mengangkat tema "Peran Perguruan Tinggi dalam Membangun Indonesia yang Ramah terhadap Pluralitas Aspirasi dan Inovasi melalui Kepemimpinan Berdampak". Hari studi yang menandai momentum penting dalam perjalanan 70 tahun USD ini menghadirkan Prof. Noorhaidi Hasan, M.A., M.Phil., Ph.D., Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sebagai narasumber utama.
Rektor USD Albertus Bagus Laksana, S.J., S.S., Ph.D. dalam sambutannya merefleksikan perjalanan panjang Sanata Dharma. Transformasi Sanata Dharma bukan sekadar perubahan status, melainkan manifestasi dari komitmen mendalam terhadap kepemimpinan yang berdampak. Tradisi spiritualitas Ignasian yang telah mengakar selama tujuh dekade menjadi fondasi kuat dalam menghadapi tantangan masa depan.
"Transformasi Sanata Dharma dari PTPG menjadi IKIP, lalu menjadi universitas adalah bukti nyata bekerjanya model kepemimpinan berdampak yang interkulturatif, dan semuanya berdasar pada Spiritualitas Ignasian yang muncul dalam semangat dan solidaritas kita sebagai keluarga Sanata Dharma " ungkap Romo Bagus.
Romo Bagus juga menegaskan kembali visi USD untuk menjadi universitas unggul berskala internasional melalui pengembangan program doktor dan pusat riset yang interdisipliner, kontekstual, dan berdaya ubah.

Prof. Noorhaidi Hasan, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, hadir sebagai narasumber utama dalam diskusi yang dimoderatori Yuseva Ariyani Iswandari, Ph.D. tersebut. Rektor USD, Albertus Bagus Laksana dalam sambutannya merefleksikan transformasi institusi dari institut keguruan menjadi universitas komprehensif sejak 1993 sebagai bukti kepemimpinan berdampak yang interkulturatif.
"Transformasi ini adalah manifestasi komitmen mendalam terhadap kepemimpinan yang berdampak dengan tradisi humanisme dan spiritualitas Ignasian sebagai fondasinya," ungkap Laksana.
Prof. Noorhaidi membuka paparannya dengan menyoroti kondisi perguruan tinggi Indonesia yang memiliki ribuan institusi dengan jutaan mahasiswa, namun menghadapi tantangan serius.
"Realitas pahit yang harus kita hadapi yaitu hanya 25% yang bergelar doktor. Ini bukan hanya soal angka, tetapi cerminan kualitas pendidikan tinggi kita," jelasnya.
Akademisi yang mendalami Politik Islam ini menekankan pentingnya mengelola keberagaman Indonesia dengan bijaksana.
"Indonesia adalah laboratorium hidup pluralisme dengan kekayaan luar biasa dalam keberagaman, namun menghadapi tantangan polarisasi sosial dan politik identitas," ujarnya.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak boleh berdiri sebagai menara gading yang terpisah dari realitas sosial, namun harus menjadi jantung perubahan bangsa, berdetak untuk kemajuan Indonesia.


Dalam konteks inklusivitas, Prof. Noorhaidi menegaskan bahwa keberagaman harus dihargai sebagai kekuatan, bukan sekadar diterima. Ia juga mengajak peserta untuk mempraktikkan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan akademik, bukan sekadar menjadikannya sebagai semboyan.
"Perguruan tinggi harus menjadi ruang di mana kebebasan akademik dan budaya debat ilmiah tumbuh subur," katanya.
Terkait kepemimpinan transformatif, narasumber menekankan pentingnya integrasi kompetensi teknis dengan empati dan keberanian moral. Sementara untuk inovasi, ia mendefinisikannya tidak hanya sebatas teknologi, tetapi juga dalam menciptakan keadilan sosial melalui riset mendalam dan berkelanjutan.
"Kita harus melahirkan pemimpin yang berbasis nilai dan keadilan," tegasnya.
Prof. Noorhaidi juga menegaskan peran perguruan tinggi sebagai penjaga moral demokrasi. Ia menutup paparannya dengan ajakan menjadikan perguruan tinggi sebagai kekuatan transformatif dengan menjembatani ilmu, nilai, dan keberpihakan.
"Perguruan tinggi tidak boleh netral terhadap ketimpangan dan intoleransi. Kita harus berani bersuara dan mengambil posisi moral yang jelas," ujarnya.

"Perguruan tinggi tidak boleh netral terhadap ketimpangan dan intoleransi. Kita harus berani bersuara dan mengambil posisi moral yang jelas," ujarnya.

Sesi kedua yang dipandu oleh Tim Penulis Buku Dies Natalis ke-70 USD dan Tim Pemilihan Rektor periode 2026-2030 melanjutkan diskusi dengan fokus pada definisi kepemimpinan berdampak untuk masa depan USD dalam konteks global. Pembahasan mencakup tiga aspek fundamental yang menjadi pilar kekuatan USD: menumbuhkan lingkungan yang ramah aspirasi dengan mendorong kolaborasi berbasis kesadaran akan misi bersama, menyuburkan iklim yang ramah inovasi melalui pendalaman spiritualitas, dan membangun kesiapan untuk bertransformasi secara etis dan kultural demi pemanfaatan teknologi yang mengangkat martabat manusia.
Hari Studi ini menghasilkan pemahaman mendalam tentang tantangan dan peluang yang dihadapi USD dalam mewujudkan visi 2045. Penguatan kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan kualifikasi dosen dan pengembangan program doktoral menjadi prioritas utama. Pengembangan ekosistem inovasi melalui pusat riset interdisipliner yang kontekstual dan berdaya ubah menjadi strategi kunci dalam menciptakan dampak nyata bagi masyarakat.
(AFH/Humas)




