
USD – 17 Juni 2025, Sebagai bagian dari komitmen membangun lingkungan pendidikan tinggi yang inklusif dan berkeadilan, Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma (USD) bekerja sama dengan Pusat Studi Individu Berkebutuhan Khusus (PSIBK) menyelenggarakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan bertajuk “Mewujudkan Kampus Inklusif: Strategi dan Praktik Akomodasi yang Layak untuk Mahasiswa Disabilitas.” Acara ini berlangsung di Ruang S303, Gedung Fakultas Sastra USD dan diikuti oleh para dosen serta tenaga kependidikan lintas fakultas.
Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor I, Prof. Ir. Sudi Mungkasi, Ph.D., yang menyambut baik inisiatif ini sebagai langkah konkret mendukung pemenuhan hak pendidikan bagi semua kalangan. Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Jamil Suprihatiningrum, Ph.D. dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Dr. Sukinah, M.Pd. dari Universitas Negeri Yogyakarta, yang memaparkan strategi komprehensif dalam mendampingi mahasiswa penyandang disabilitas di lingkungan kampus.
Dalam pemaparannya, Dr. Jamil menegaskan bahwa pendidikan inklusif adalah upaya sistemik yang menempatkan mahasiswa difabel sebagai bagian utuh dari komunitas akademik. Adaptasi pembelajaran, ujarnya, tidak berarti menurunkan standar, melainkan menyediakan lebih banyak jalur agar mahasiswa dapat mencapai kompetensi secara bermakna. Ia menekankan pentingnya kurikulum adaptif, teknologi asistif, serta evaluasi fleksibel yang memungkinkan mahasiswa mengungkapkan kemampuan mereka sesuai karakteristik personal.


Ia juga menjelaskan pentingnya membedakan antara akomodasi (penyesuaian metode pembelajaran dan asesmen) dan modifikasi (penyesuaian isi dan tujuan pembelajaran). Keduanya penting dalam menjawab kebutuhan mahasiswa disabilitas, terlebih dengan hadirnya landasan hukum seperti Permendikbudristek No. 48 Tahun 2023 yang mewajibkan penyediaan akomodasi layak di pendidikan tinggi.
Sesi pelatihan semakin aplikatif dengan studi kasus nyata mengenai mahasiswa Tuli dan mahasiswa dengan spektrum autisme. Strategi yang ditawarkan mencakup penggunaan juru bahasa isyarat, teks visual, jadwal belajar terstruktur, serta modifikasi bentuk tugas. Para peserta juga dibekali cara menyusun Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang adaptif dan inklusif sejak tahap perencanaan hingga asesmen.
Sementara itu, Dr. Sukinah menyoroti pentingnya pendampingan dari aspek akademik, sosial-emosional, dan administratif. Ia mendorong dosen untuk mengembangkan sistem tutor sebaya, pelatihan keterampilan sosial, serta komunikasi yang eksplisit dan tidak multitafsir. Peran Unit Layanan Disabilitas (ULD) juga dinilai krusial dalam menyusun Rencana Pembelajaran Individual (RPI) dan memfasilitasi akses layanan secara terintegrasi.


Dekan Fakultas Sastra USD, Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum., dalam wawancara terpisah menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah wujud nyata keyakinan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh hidup dalam eksklusivitas. “Ilmu akan tumbuh subur bila ditanam di tanah yang subur oleh rasa hormat, pengakuan akan keberagaman, dan komitmen pada martabat setiap manusia,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa Fakultas Sastra siap menjadi rumah belajar yang adil, aman, dan inklusif bagi seluruh mahasiswa, termasuk penyandang disabilitas.
Melalui pelatihan ini, Fakultas Sastra USD berharap dapat memperkuat kapasitas sivitas akademika dalam menciptakan ruang belajar yang menghargai keberagaman dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Dari inisiatif ini, diharapkan semangat inklusivitas dapat mengalir ke seluruh elemen kampus dan menjadi bagian dari budaya kelembagaan USD.
(Tti)
(Tti)




