
USD – Universitas Sanata Dharma (USD) mengadakan kuliah tamu bersama dua dosen dari Ateneo de Davao University, Filipina yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut dimulai dari Senin, 26 Mei sampai dengan Rabu, 28 Mei yang diperuntukkan bagi mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Inggris, Bimbingan dan Konseling, Teologi, serta Kajian Bahasa Inggris Program Pascasarjana bersama dua dosen dari Ateneo de Davao University, Filipina.
Kedua dosen yang berpartisipasi adalah Dr. Nelly Z. Limbadan yang juga merangkap sebagai seorang psikolog klinis dan Fr. Ulysses S. Cabayao, seorang ahli di bidang antropologi serta teknologi digital.
Senin, 26 Mei, kuliah diawali oleh Dr. Nelly yang membawakan materi “Talk to Yourself Like a Therapist: Self-Help Techniques Rooted in Clinical Psychology”. Dr. Nelly mengungkapkan rasa senangnya dalam berbagi ilmu bersama para mahasiswa dan berpesan agar civitas akademika USD saling menjaga kesejahteraan psikologis.

“Saya merasa senang bahwa para mahasiswa bersikap antusias untuk membagikan pengalaman mereka dalam pembelajaran di kelas. Saya harap dengan ini mereka dapat lebih menyayangi diri mereka sendiri dan juga orang lain dalam menjalani rutinitas harian,” tuturnya.
Sementara itu, Fr. Ulysses mulai memaparkan materinya dalam bentuk seminar yang bertempat di Kampus V. Materi yang disajikan berjudul “Technological Disruption in Social and Economic Change: The Role of Higher Education in Producing Graduates Irreplaceable by Artificial Intelligence”.
Fokus materi tersebut juga menjadi topik yang dibicarakan oleh Fr. Ulysses di hari kedua yakni Selasa, 27 Mei dengan judul sesi “Thinking Through AI: A Proposal for Understanding Artificial Intelligence and Social Change” di Ruang Palma, Gedung Pascasarjana, Kampus II.

Pada hari Rabu, 28 Mei 2025, Fr. Ulysses S. Cabayao, SJ menjadi dosen tamu dalam perkuliahan di Kampus IV dengan menyampaikan materi terkait pengalaman dan usaha untuk melakukan dialog antar agama di Filipina. Fr. Ulysses menyampaikan pentingnya pertemuan antar budaya yang berbeda untuk saling membagikan pengalaman yang berbeda di setiap negara.
“Kami memiliki situasi yang berbeda dengan yang ada disini, di Filipina umat kristiani menjadi mayoritas sedangkan disini menjadi minoritas, sehingga pengalaman yang saya bagikan bukan untuk mengajak kalian membanding-bandingkan tapi sebagai wahana berefleksi. Inilah pentingnya diskusi antar budaya seperti ini untuk saling menyadari apa yang sudah baik dan masih kurang dari masing-masing kita lalu merefleksikannya agar maju ke arah lebih baik bersama,” pungkasnya.
Vincentius Seto
Pascalista Nariswari
(Humas)
Vincentius Seto
Pascalista Nariswari
(Humas)




