USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Bincang Karya Natasha Tontey: Menelusuri Jejak Melankolia dalam Praktik Artistik

diupdate: 1 tahun yang lalu

Bincang S3 Praktik Artistik Natasha Tontey 22 Mei 2025

USD
 - 22 Mei 2025, Program Doktor Kajian Seni dan Masyarakat Universitas Sanata Dharma (USD) menggelar bincang karya bersama seniman kontemporer Natasha Tontey, di Ruang Palma, Gedung Pascasarjana Kampus II USD. Acara ini menghadirkan eksplorasi mendalam atas praktik artistik Tontey yang mengangkat isu ekologis, sejarah kekerasan, dan identitas budaya melalui pendekatan visual eksperimental.

Acara berlangsung pukul 09.00 hingga 12.00 WIB dan dihadiri mahasiswa Pascasarjana USD, baik dari jenjang magister maupun doktoral, serta pegiat seni dari berbagai komunitas. Arham Rahman, mahasiswa Program Doktoral sekaligus seniman yang berkarya di Ruang MES 56, bertindak sebagai moderator. Diskusi ini merupakan bagian dari mata kuliah “Seni dan Fetisisme – Melankolia” yang diasuh oleh St. Sunardi.

St. Sunardi dalam sambutannya menyampaikan harapan agar pertemuan ini memberi inspirasi bagi peserta untuk memahami proses kreatif sebagai laku artistik yang mampu merespons kegelisahan personal maupun sosial secara kritis dan out of the box.

Bincang S3 Praktik Artistik Natasha Tontey 22 Mei 2025

Natasha Tontey memutar dua film: Primal Visions: Macaque Macabre dan This is a Conversation with the Veteran of Battalion Jin Kasuang. Kedua film tersebut merupakan hasil praktik artistik yang merepresentasikan rasa kehilangan dan ketegangan identitas dalam bingkai melankolia.

Film pertama mengeksplorasi batas buram antara manusia dan hewan, dengan mengambil inspirasi dari stereotipe orang Manado yang “memakan semua yang berkaki empat kecuali meja”. Dalam narasinya, Tontey menyoroti konflik ekologis antara manusia dan satwa endemik Sulawesi, “Yaki”, serta mengkritisi pendekatan konservasi yang tidak memahami konteks budaya lokal.

Tontey memanfaatkan pendekatan body horror dan simbol-simbol budaya untuk membangun nuansa yang menggelitik dan tidak nyaman. Salah satu dialog provokatif dalam film menyebutkan bahwa “dubur adalah pusat peradaban” sebuah kutipan yang berasal dari refleksi atas makanan dan sistem pencernaan.

Film kedua menampilkan wawancara dengan seorang veteran Permesta, Opa L. Sarapung, yang awalnya diminta menceritakan pengalaman tentang konsumsi “Yaki”, namun justru mengungkap pengalaman traumatis saat konflik, termasuk cerita konsumsi daging manusia. Uniknya, wawancara dilakukan oleh dua karakter “Yaki” dari film pertama, dan pengambilan gambarnya bergerak dinamis tanpa menyorot langsung wajah narasumber.

Bincang S3 Praktik Artistik Natasha Tontey 22 Mei 2025

Proses kreatif Tontey mendapat banyak apresiasi. Ia menjelaskan bagaimana praktik artistiknya berangkat dari pembacaan teks akademik, journaling, hingga pengalaman personal sebagai orang Minahasa. Ia menyebut metode ini sebagai illogical reasoning atau cara berpikir yang tidak terikat logika formal, namun berakar pada pengalaman nyata yang kompleks.

Beragam tanggapan muncul dari peserta, mulai dari pembacaan dalam perspektif pascakolonial, queer aesthetic, hingga seni underground. Diskusi berlangsung dinamis dan menunjukkan bagaimana karya seni dapat menjadi medium artikulatif atas keresahan, ketakutan, dan pengalaman traumatis, sekaligus menjadi ruang penciptaan pengetahuan baru.

Kegiatan ini menjadi ruang penting bagi sivitas akademika untuk melihat bahwa melankolia tidak selalu berujung pada keputusasaan, melainkan dapat menjadi dorongan kreatif untuk memahami dunia dan diri sendiri secara lebih dalam melalui seni.

  kembali