USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Diskusi Cerpen 'Clara': Gali Luka Sejarah dan Isu Kemanusiaan

diupdate: 1 tahun yang lalu

DISKUSI CERPEN CLARA 16 MEI 2025

USD – 16 Mei 2025, Komunitas literasi sadharmembaca Universitas Sanata Dharma (USD) menggelar diskusi publik bertajuk "Saatnya Berbicara tentang Clara" di Ruang Lontar, Gedung Pascasarjana Kampus II USD. Diskusi ini membedah cerpen “Clara Atawa Wanita yang Diperkosa” karya Seno Gumira Ajidarma dan mengulas relevansi isu-isu kemanusiaan yang diangkat dalam cerpen tersebut di konteks masa kini.

Acara ini dihadiri sekitar 40 peserta dari berbagai kampus, termasuk USD dan Universitas Gadjah Mada (UGM), serta komunitas literasi lainnya. Diskusi dibuka dengan sambutan dari Stefanus Galang Ardana, perwakilan komunitas sadharmembaca, yang menekankan pentingnya membicarakan kembali peristiwa sejarah melalui karya sastra, terutama di bulan Mei yang lekat dengan memori reformasi 1998.

“Memasuki bulan Mei 2025, yang kerap menjadi momen untuk mengenang dan merefleksikan kembali berbagai peristiwa penting dalam sejarah bangsa, pembacaan dramatik dan diskusi mengenai cerpen ‘Clara’ menjadi semakin relevan,” ujar Galang.

DISKUSI CERPEN CLARA 16 MEI 2025

Sebelum sesi diskusi utama, peserta diajak menyelami atmosfer cerita melalui pembacaan dramatik fragmen cerpen oleh Nathanael Timothy Susetya. Pembacaan ini berhasil membangun intensitas emosi dan menjadi pengantar efektif menuju pembahasan lebih mendalam.

Diskusi dipandu oleh Sirilus Maximilian Maloring dan menghadirkan Michael Pandu Patria sebagai narasumber. Pandu memaparkan konteks historis cerpen “Clara” yang erat kaitannya dengan peristiwa Mei 1998.

Ia juga menyoroti kompleksitas identitas tokoh Clara yang, menurutnya, terbentuk oleh konstruksi sosial yang berakar sejak masa kolonial Hindia Belanda. Analisis ini membuka diskusi tentang relasi kuasa, tubuh, dan perlawanan dalam narasi tersebut.

Sesi tanya jawab berlangsung interaktif. Banyak peserta menyampaikan refleksi bahwa karya ini masih relevan dalam menggambarkan ketimpangan sosial dan bentuk dehumanisasi yang terjadi hari ini.

DISKUSI CERPEN CLARA 16 MEI 2025

“Siapa sangka cerpen yang biasa dianggap sepele ternyata memiliki makna sedalam itu dan dapat memengaruhi cara pandang kita. Melalui pengalaman Clara, saya dapat merasakan apa yang ia rasakan dan turut larut dalam emosi cerita tersebut,” ujar Xaris Victory Amindana, salah satu peserta.

Gemma Padira Kemuning dari UGM turut memberi apresiasi. “Pembahasannya menarik karena ini pertama kalinya saya mengikuti diskusi yang menyoroti aspek psikologis atau mental dari sebuah karya,” ujarnya. Ia menilai diskusi sebaiknya berdurasi lebih lama agar pembahasan bisa lebih mendalam.

Diskusi ditutup dengan sesi foto bersama sebagai penanda semangat literasi yang terus dijaga. Melalui kegiatan ini, sadharmembaca tidak hanya membedah sebuah karya penting, tetapi juga menegaskan kembali peran sastra sebagai ruang refleksi kritis dan pembela nilai-nilai kemanusiaan. 



(SGA - Kajian B.Ing)

  kembali