
USD – 30 April 2025, Universitas Sanata Dharma kembali menyelenggarakan sidang Terbuka Senat Universitas dalam rangka pengukuhan yang diselenggarakan di Ruang Drost, Kampus III, Paingan. KetigaGuru besar yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. rer. nat. Herry Pribawanto Suryawan sebagai Guru Besar Ilmu Analisis Stokastik, Prof. P. Sarwoto, Ph.D. sebagai Guru Besar Sastra Perbandingan, dan Prof. Dr. C.B. Mulyatno, Pr. sebagai Guru Besar Ilmu Filsafat Pendidikan.
Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Herry Suryawan menyoroti pentingnya analisis stokastik sebagai pendekatan ilmiah untuk memahami gejala-gejala acak yang memiliki pola tersembunyi.
“Analisis stokastik memberi kita cara untuk membaca ketidakpastian dengan kerangka ilmiah yang kuat dan aplikatif. Melalui pendekatan ini, kita belajar bahwa ketidakteraturan pun memiliki pola, dan dari situlah solusi ilmiah bisa lahir,” ujarnya.
“Analisis stokastik memberi kita cara untuk membaca ketidakpastian dengan kerangka ilmiah yang kuat dan aplikatif. Melalui pendekatan ini, kita belajar bahwa ketidakteraturan pun memiliki pola, dan dari situlah solusi ilmiah bisa lahir,” ujarnya.
Sementara itu, Prof. Paulus Sarwoto menyampaikan bahwa sastra perbandingan merupakan ruang dialog antarbudaya yang dapat mempererat pemahaman lintas peradaban.
“Sastra perbandingan mengajak kita untuk tidak hanya membaca teks, tetapi juga membaca manusia dan peradabannya,”tuturnya.
“Sastra perbandingan mengajak kita untuk tidak hanya membaca teks, tetapi juga membaca manusia dan peradabannya,”tuturnya.
Di sisi lain, Prof. Mulyatno menegaskan bahwa pendidikan sejatinya harus berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan yang mendalam.
“Pendidikan selayaknya memerdekakan. Bukan hanya soal pengetahuan, tetapi pembentukan pribadi yang utuh dan bertanggung jawab, membentuk hati dan budi, untuk dapat bersetia kawan dengan sesama,” tegasnya.

Pengukuhan ini ditandai dengan penyematan samir oleh Rektor Universitas Sanata Dharma, Albertus Bagus Laksana, S.J., S.S., Ph.D. kepada masing-masing guru besar. Dalam sambutannya, Rektor menegaskan harapannya atas kepakaran para guru besar.
“Dari para guru besar yang dikukuhkan hari ini kita belajar bahwa Ilmu itu terlibat untuk mendalami seluruh realitas. Analisa Stokastik menyadarkan kita tentang ketidakteraturan yang justru membuka ruang penemuan-penemuan baru. Perbandingan Sastra mengajarkan kita bahwa alih-alih meyakini kebenaran tunggal, penting bagi kita membangun dialog yang konstruktif antar berbagai perspektif. Dan dari Filsafat Pendidikan kita diyakinkan kembali bahwa pendidikan yang memerdekakan mendorong setiap pribadi untuk bersetia kawan, terlibat dalam penyelesaian masalah hidup bersama. Dan itu semua adalah cita-cita dari Sanata Dharma. Menjalankan Sanyoto ing Darmo, pengabdian yang nyata bagi umat manusia,” tuturnya.
“Pendidikan selayaknya memerdekakan. Bukan hanya soal pengetahuan, tetapi pembentukan pribadi yang utuh dan bertanggung jawab, membentuk hati dan budi, untuk dapat bersetia kawan dengan sesama,” tegasnya.

Pengukuhan ini ditandai dengan penyematan samir oleh Rektor Universitas Sanata Dharma, Albertus Bagus Laksana, S.J., S.S., Ph.D. kepada masing-masing guru besar. Dalam sambutannya, Rektor menegaskan harapannya atas kepakaran para guru besar.
“Dari para guru besar yang dikukuhkan hari ini kita belajar bahwa Ilmu itu terlibat untuk mendalami seluruh realitas. Analisa Stokastik menyadarkan kita tentang ketidakteraturan yang justru membuka ruang penemuan-penemuan baru. Perbandingan Sastra mengajarkan kita bahwa alih-alih meyakini kebenaran tunggal, penting bagi kita membangun dialog yang konstruktif antar berbagai perspektif. Dan dari Filsafat Pendidikan kita diyakinkan kembali bahwa pendidikan yang memerdekakan mendorong setiap pribadi untuk bersetia kawan, terlibat dalam penyelesaian masalah hidup bersama. Dan itu semua adalah cita-cita dari Sanata Dharma. Menjalankan Sanyoto ing Darmo, pengabdian yang nyata bagi umat manusia,” tuturnya.
Hadir dalam acara tersebut Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah V Prof. Setyabudi Indartono, MM., Ph.D., dan Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko.
"Bertambahnya tiga guru besar baru tidak hanya menunjukkan kinerja tridharma Universitas Sanata Dharma yang luar biasa. Selamat kepada USD dan para guru besar baru. Semoga pemikiran, riset dan inovasi para guru besar ini terus memberikan manfaat yang lebih luas bagi ilmu pengetahuan maupun kebijakan publik yang membutuhkan analisis akademik," ujar Prof. Setyabudi.
Sementara Mgr. Robertus Rubiyatmoko menyampaikan bahwa pengukuhan ini memperkuat misi USD di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
"Pengukuhan tiga guru besar Universitas Sanata Dharma bukanlah sekedar pencapaian akademik, namun menjadi perwujudan panggilan intelektual dan sekaligus tanggung jawab moral dalam dunia pendidikan. Kiranya ilmu dari para guru besar menjadi tiga pilar pengetahuan yang mampu bersinergi menjadi pilar yang kokoh dalam membangun budaya dan masyarakat Indonesia yang lebih bermartabat, humanis dalam konteksnya kebhinekaan kita," ungkapnya.
Dengan pengukuhan tiga guru besar ini, Universitas Sanata Dharma tidak hanya memperkaya jajaran akademisi unggul, tetapi juga memperkuat misinya sebagai universitas yang memadukan keunggulan intelektual dengan nilai-nilai kemanusiaan. Ketiga guru besar yang dikukuhkan merepresentasikan keberagaman ilmu yang bersumber dari satu semangat, yaitu membangun peradaban melalui pendidikan yang bermakna. Melalui karya ilmiah, pengajaran, dan keteladanan hidup, mereka diharapkan menjadi suluh yang menuntun generasi muda dalam menapaki jalan ilmu dan nilai dengan penuh integritas.
***
Penulis: Aura Pallomita Rafiona/Humas USD
***
Penulis: Aura Pallomita Rafiona/Humas USD




