
USD – Kongres Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) ke-42 resmi dibuka di Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta pada 6 Maret 2025 oleh Uskup Agung Semarang, Mgr Robertus Rubiyatmoko. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini dihadiri 25 Perguruan Tinggi dari 24 Yayasan penyelenggara pendidikan Tinggi Katolik.
Dalam konferensi persnya, Ketua APTIK Prof. Dr. B.S. Kusbiantoro menegaskan pentingnya sinergi antar-kampus dalam menghadapi globalisasi dan digitalisasi.
“APTIK memiliki peran strategis dalam menghadirkan pendidikan humanis berbasis nilai-nilai Katolik. Kongres ini menjadi ruang refleksi dan aksi nyata dalam merespons perubahan zaman,” ujarnya.

Kegiatan diawali dengan rapat pengurus APTIK yang melibatkan 12 anggota utama untuk mengevaluasi program kerja dan tantangan perguruan tinggi Katolik. Rapat pimpinan universitas anggota APTIK juga berlangsung untuk merumuskan kebijakan strategis guna menghadapi berbagai tantangan di dunia pendidikan tinggi.
Misa pembukaan di Ruang Koendjono menjadi momen pembuka sekaligus reflektif, yang mengajak peserta memperkuat komitmen terhadap pendidikan berorientasi kemanusiaan. Setelah itu, sidang pembuka di Ruang Seminar Driyarkara membahas penguatan kurikulum berbasis nilai Katolik dan kebangsaan, pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran, serta kerja sama dengan institusi global. Para peserta aktif berdiskusi dan menyampaikan perspektif dari masing-masing institusi guna memperkaya wawasan bersama.
“APTIK memiliki peran strategis dalam menghadirkan pendidikan humanis berbasis nilai-nilai Katolik. Kongres ini menjadi ruang refleksi dan aksi nyata dalam merespons perubahan zaman,” ujarnya.

Kegiatan diawali dengan rapat pengurus APTIK yang melibatkan 12 anggota utama untuk mengevaluasi program kerja dan tantangan perguruan tinggi Katolik. Rapat pimpinan universitas anggota APTIK juga berlangsung untuk merumuskan kebijakan strategis guna menghadapi berbagai tantangan di dunia pendidikan tinggi.
Misa pembukaan di Ruang Koendjono menjadi momen pembuka sekaligus reflektif, yang mengajak peserta memperkuat komitmen terhadap pendidikan berorientasi kemanusiaan. Setelah itu, sidang pembuka di Ruang Seminar Driyarkara membahas penguatan kurikulum berbasis nilai Katolik dan kebangsaan, pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran, serta kerja sama dengan institusi global. Para peserta aktif berdiskusi dan menyampaikan perspektif dari masing-masing institusi guna memperkaya wawasan bersama.
Hari kedua diisi diskusi panel dengan akademisi dan praktisi pendidikan. Panel pertama membahas strategi meningkatkan daya saing lulusan di era digital, sedangkan panel kedua mengupas tantangan pendanaan dan keberlanjutan pendidikan tinggi. Diskusi berjalan dinamis dengan banyak masukan dan gagasan dari berbagai pihak, menyoroti pentingnya inovasi dalam metode pembelajaran dan model pendanaan berkelanjutan.

Hari ketiga diisi dengan penyusunan rekomendasi kebijakan bagi perguruan tinggi anggota APTIK. Beberapa poin utama yang disepakati mencakup penguatan kerja sama antar-kampus, peningkatan kualitas pengajaran berbasis teknologi, serta komitmen terhadap pendidikan inklusif dan berorientasi sosial. Hasil rekomendasi ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi seluruh anggota APTIK dalam mengembangkan institusinya agar semakin adaptif terhadap perubahan zaman dan kebutuhan masyarakat.
Rektor Universitas Sanata Dharma, Albertus Bagus Laksana, S.J., S.S., Ph.D., menyambut baik kongres ini. “Kami merasa terhormat menjadi tuan rumah Kongres APTIK ke-42. Semoga forum ini melahirkan gagasan yang memperkuat kontribusi APTIK dalam pendidikan. Kami berharap pertemuan ini mempererat kolaborasi antaranggota dalam bidang akademik dan pengabdian masyarakat,” ungkapnya.
Rektor Universitas Sanata Dharma, Albertus Bagus Laksana, S.J., S.S., Ph.D., menyambut baik kongres ini. “Kami merasa terhormat menjadi tuan rumah Kongres APTIK ke-42. Semoga forum ini melahirkan gagasan yang memperkuat kontribusi APTIK dalam pendidikan. Kami berharap pertemuan ini mempererat kolaborasi antaranggota dalam bidang akademik dan pengabdian masyarakat,” ungkapnya.
Dengan agenda yang padat dan substansial, Kongres APTIK ke-42 menghasilkan langkah konkret dalam memperkuat eksistensi serta kontribusi perguruan tinggi Katolik di Indonesia. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti setiap sesi diskusi, membuktikan komitmen mereka terhadap peningkatan kualitas pendidikan di lingkungan APTIK.
AP - Tim Humas
AP - Tim Humas




