USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Lokakarya Internasional Program Pascasarjana USD: Menggali Memori dan Keadilan Sejarah Melalui Seni

diupdate: 2 tahun yang lalu

Lokakarya

USD
– 20 Februari 2025, Magister Kajian Budaya dan Program Doktor Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma, bekerja sama dengan Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) dan The Transformative Memory International Network (TMIN) University of British Columbia, Vancouver-Canada, menggelar seminar dan lokakarya internasional bertajuk “Generating Noise: Creative Approaches to Memory and Historical Justice”. Acara yang berlangsung sejak pagi hingga petang ini menghadirkan puluhan peserta yang terdiri dari akademisi, seniman, penyintas konflik, dan aktivis dari berbagai institusi di Indonesia, Amerika Serikat, Irlandia Utara, Kanada, Kolombia, Peru, Timor Leste, dan Uganda. Tujuan kegiatan ini, mendiskusikan peran seni dalam mengelola ingatan kolektif dan mencari keadilan sejarah.

Lokakarya dibuka oleh Astrid Reza (mahasiswa Magister Kajian Budaya) dan Wahono (alumni Magister Kajian Budaya) sebagai pembawa acara yang mengundang Agung Ayu Ratih (direktur ISSI) dan Nila Ayu Utami (TMIN) untuk memperkenalkan peserta. Sesi presentasi dibuka oleh Dr. St. Sunardi, dengan tajuk “Art For Friendship and Reconciliation,”. St. Sunardi berbagi pengalaman rekonsiliasi di Timor Leste dan menyoroti kompleksitas hubungan Indonesia-Timor Leste pasca-kemerdekaan, termasuk pelanggaran HAM sebelum dan sesudah jajak pendapat 1999. “Kita harus menulis ulang sejarah dan melatih diri menjadi tetangga yang baik,” ujarnya.

Lokakarya

Presentasi kedua dibawakan oleh Prof. Pilar Riaño-Alcalá dari The Social Justice Institute dan Prof. Erin Baines dari School of Public Policy and Global Affairs, keduanya beraktivitas bersama di TMIN, University of British Columbia. Mereka menekankan pentingnya seni sebagai horizontal knowledge sharing untuk mengatasi trauma sejarah di negara seperti Uganda, Kolombia, dan Indonesia. “Generating noise adalah cara melawan pembungkaman,” kata Erin Baines, merujuk pada sejarah kekerasan di Indonesia dan bagaimana seni, seperti karya Paduan Suara Dialita, menjadi medium solidaritas.

Sesi berikutnya dipandu oleh John Roosa yaitu profesor dari departemen sejarah dari The University of British Colombia. John Roosa memandu diskusi tentang pewarisan ingatan lintas generasi, di mana para penyintas sejumlah persitiwa kekerasan di Indonesia menceritakan kisah hidup mereka. Natalia dari Kolombia menyoroti resonansi kekerasan masa lalu dengan masa kini, Mercy menekankan solidaritas global untuk mencegah pengulangan sejarah, dan Felix mengajukan pertanyaan tentang pewarisan memori lintas generasi di luar sistem pendidikan formal.

Lokakarya

Setelah itu dilanjutkan dengan sesi workshop, di mana peserta dibagi tujuh kelompok kecil yang mengeksplorasi seni sebagai intervensi memori sosial. Kelompok “Collage and Posters” menghasilkan karya bertema kesetaraan, kelompok “Digital Media” merancang proyek media sosial untuk generasi muda. Kelompok “Audiovisual” menggali sejarah Jalan Moses Gatotkaca, dan kelompok “Ritual” menghadirkan ritual penyembuhan dengan air. Kolaborasi kelompok “Dance” dan “Music” menghasilkan body movement yang berpijak pada ekspresi tubuh terhadap kata-kata dan lagu ciptaan kolektif diiringi musik yang dimainkan oleh Ferdhi, peserta dari Ambon. Kelompok “Storytelling” menutup dengan puisi berbahasa Inggris ciptaan Mercy Atala yang terinspirasi dari kisah anggota kelompok yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Dr. Katrin Bandel.

Acara ditutup oleh Kaprodi Magister Kajian Budaya, Dr. Yustina Devi Ardhiani dengan pesan, “Seni terbukti dapat menjadi jembatan untuk memahami dan menyembuhkan luka sejarah. Tindak lanjut yang diharapkan, lokakarya ini memicu lebih banyak kolaborasi kreatif lintas generasi dan lintas negara, menuju terwujudnya bumi yang damai.”


AS/NR
 

  kembali