
USD - 11 Desember 2024, Program Studi Magister Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma bersama penerbit Semut Api, Punk Scholars Network Indonesia menyelenggarakan diskusi buku “Meruntuhkan Dinding Kelas: Punk dan Pedagogi di Indonesia”. Diskusi ini berhasil menyatukan para akademisi, aktivis, dan pecinta musik punk dalam sebuah dialog yang kaya akan ide dan perspektif.
Kegiatan dibuka oleh Ketua Program Studi Kajian Budaya, Program Magister - Universitas Sanata Dharma, Dr. Yustina Devi Ardhiani yang memberikan sambutan hangat kepada seluruh peserta. Dalam sambutannya, beliau mengapresiasi inisiatif diskusi buku ini sebagai upaya untuk memperkaya khazanah pemikiran di bidang pendidikan. Diskusi buku yang berlangsung meriah ini menghadirkan beberapa pemateri, yakni Eventus Ombri Kaho sebagai perwakilan dari Mahasiswa Kajian Budaya-Universitas Sanata Dharma (USD) sekaligus salah satu penulis, Muhammad Fakhran al Ramadhan sebagai editor sekaligus sebagai Chair of Punk Scholars Network Indonesia, dan Muhammad Fahmi Nurcahya dari alumni Kajian Budaya dan Media-Universitas Gajah Mada (UGM).
Sebagai salah satu penulis dalam buku tersebut, Eventus Ombri Kaho atau yang akrab disapa Ombri, menulis tentang pedagogi di pasar malam. Pisau analisis yang digunakan ialah pendekatan Empat Wacana Lacan. Dalam analisisnya, Ombri menemukan berbagai bentuk pedagogi di pasar malam. Akan tetapi, wacana yang paling dominan ialah Wacana Tuan dan Wacana Universitas. Kesimpulan ini didasarkan pada data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara di pasar malam yang ada di sekitar kota Yogyakarta. Singkatnya pedagogi yang terjadi ialah pedagogi kekuasaan, di mana orang tua menjadi tuan sekaligus pengetahuan bagi anak.
Muhammad Fakhran al Ramadhan sebagai salah satu penggagas Punk Scholars Network Indonesia, berbagi kisah mengenai perjalanan panjang jaringan ini serta proses kreatif di balik lahirnya buku “Meruntuhkan Dinding Kelas: Punk dan Pedagogi di Indonesia”. Dalam paparannya, Fakhran menjelaskan bagaimana semangat punk dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan pedagogi yang lebih kritis dan kreatif. Sehingga pedagogi tidak hanya terbatas pada ruang kelas yang kaku.
Pemateri terakhir, Muhammad Fahmi Nurcahya, memberikan perspektif yang unik tentang punk sebagai “jalan kesalehan alternatif” dalam konteks majelis taklim. Paparan Muhammad Fahmi Nurcahya atau yang lebih dikenal dengan nama Finchy, berhasil memicu diskusi yang menarik tentang bagaimana nilai-nilai spiritual dapat diwujudkan dalam dan disatukan oleh punk. Seluruh paparan pemateri berhasil memicu diskusi yang antusias dari para peserta. Hal ini tidak terlepas dari peran moderator, Lintang Wisnuwardhani (mahasiswi Magister Kajian Budaya-Universitas Sanata Dharma) yang memantik suasana diskusi semakin hidup dan menarik. Peserta diajak untuk merespons atau pun mengajukan pertanyaan terkait berbagi pengalaman dan pandangan mengenai hubungan antara punk, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari.
Diskusi ini dihadiri oleh kalangan akademisi, mahasiswa, dan pemerhati pendidikan, yang turut memberikan pertanyaan dan masukan, menjadikan acara ini semakin interaktif. Acara ini berhasil menggugah kesadaran tentang pentingnya pendekatan pendidikan alternatif untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan progresif. Buku “Meruntuhkan Dinding Kelas: Punk dan Pedagogi di Indonesia” diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi para pendidik dan komunitas untuk terus mengembangkan metode belajar yang relevan dengan kebutuhan zaman.
(EOK)




