USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

International IERA Roadshows Chapter Yogyakarta 2024: Extensive Reading and Project-Based Classroom

diupdate: 2 tahun yang lalu




USD - 4 Oktober 2024, Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma bersama dengan Indonesian Extensive Reading Association (IERA) dan Extensive Reading Foundation (ERF) melaksanakan roadshow seminar dan mini workshop dengan tema “Extensive Reading and Project-Based Classroom” di Ruang Seminar Driyakara, Universitas Sanata Dharma (USD). Seminar dan mini workshop ini merupakan bagian pertama dari rangkaian kegiatan roadshow bekerja sama dengan Extensive Reading Foundation (ERF) selaku asosiasi internasional pegiat membaca ekstensif, Indonesian Extensive Reading Assocation (IERA), Universitas Sanata Dharma (USD), dan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Kegiatan ini juga didukung oleh XReading, platform membaca ekstensif untuk pemelajar yang memberikan para peserta seminar dan mini workshop akses gratis selama satu bulan

Pada hari pertama, fokus pembahasan mengenai “Digital projects in Extensive Reading classroom” (projek digital pada kelas membaca ekstensif). Dalam pembahasan ini, IERA menghadirkan 2 narasumber, yaitu Dr. Rob Waring, professor emeritus di Universitas Notre Dame Seishin, Okiyama, Jepang dan Board Member (Anggota Dewan) Extensive Reading Foundation, dan Mahbudin, S.Pd, M.Pd., guru Bahasa Inggris, wakil kepala sekolah dan kepala perpustakaan di MTsN 1 Pandeglang, Banten. Kegiatan ini dihadiri oleh 65 peserta yang terdiri dari para dosen dan guru Bahasa Inggris, pustakawan dan juga para mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggis (PBI) USD.

Rektor USD, Romo Albertus Bagus Laksana S.J., S.S., Ph.D. menyambut dengan baik kegiatan kegiatan roadshow yang diselenggarakan melalui kolaborasi internasional ini. Dalam sambutannya, Romo Bagus menekankan mengenai pentingnya peningkatan kapasitas dan daya baca para siswa untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan memperluas ilmu pengetahuan, serta melepaskan ketergantungan pada artificial intelligence (AI). “Dengan menerapkan membaca ekstensif dalam kelas, siswa dapat meningkatkan skill mereka untuk bisa lebih berpikir kritis dan memperluas ilmu pegetahuan mereka, supaya para siswa tidak terlalu tergantung pada AI. AI memang baik, tetapi kita harus bisa mencegah agar AI bukan menjadi patokan utama bag siswa,” ujarnya.



Sesi pertama, Dr. Rob Waring berbicara mengenai definisi dari membaca ekstensif serta bagaimana menerapkan membaca ekstensif yang baik dan tepat di dalam ruang kelas. Beliau juga berbicara mengenai tingkatan atau level dalam membaca buku sebagai basis proyek dalam kelas dan bagaimana tingkatan itu membantu para siswa untuk memilih buku yang mereka sukai dan tepat sesuai dengan tingkatan kemampuan para siswa dalam Bahasa Inggris. “Banyak para guru yang salah memahami tentang memaca ekstensif. Membaca ekstensif dirancang bagi siswa untuk mereka menikmati bacaan dan memahami cerita dari buku yang mereka baca sesuai dengan tingkatan kesulitan yang mereka pilih, bukan sebaliknya. Membaca Ekstensif itu hadir untuk menikmati bacaan, bukan belajar untuk membaca,” ungkap Dr. Rob Waring.



Sesi kedua, Mahbudin S.Pd., M.Pd., yang kerap disapa Pak Ndien berbicara mengenai pengembangan sumber hybrid yang interaktif dan mudah bagi para guru/pustakawan untuk membaca ekstensif. Pak Ndien membagikan pengalamannya dalam menerapkan kondisi membaca ekstensif yang ia kolaborasikan dengan penggunaaan teknologi berupa website yang ia kembangkan sendiri untuk menjadikan membaca ekstensif bisa terjadi secara dua arah dengan tetap memperhatikan kondisi yang kolaboratif dan tingkatan level yang sesuai dengan siswa agar mereka bisa terus bisa membaca kapan saja dan dimana saja.



Kegiatan selanjutnya dilanjutkan dengan mini wokshop yang dipimpin oleh Yuseva Ariyani Iswandari, Ph.D., Christina Lhaksmita Anandari, Ed.M., dan Thomas Wahyu Prabowo Mukti, M.Pd. Kegiatan workshop ini dilaksanakan dengan sesi membaca dan memberikan tenggapan serta diskusi terhadap buku dengan judul “Wuri and The Waves” oleh Michael Lacey Freeman. Di akhir workshop, para dosen/guru/pustakawan diminta mempraktikkan rancangan pembelajaran mereka. Sesi ini kemudian ditutup dengan refleksi serta berbagi pengalaman dari para peserta yang dipandu oleh Pak Ndien.


CPNT/HUMAS

  kembali