Pada hari Senin, 11 September yang lalu, tim SLP USD yang mewakili universitas dalam kegiatan Service Learning Program 2011 di Filipina pada tanggal 7-21 Agustus yang lalu, membagikan pengalaman yang didapat selama mengikuti program di hadapan Rektor dan segenap Wakil Rektor I, II, III, dan IV. Ketujuh mahasiswa wakil peserta SLP yaitu Asri Purnamasari (PBI 07), Mario Heimbach (Psi 08), Juwita K. Lasmana (Psi 08) Topan Putra (Sing 08), Diana Meirawati (Sing 08), Saverin Punkas (Sing 08), dan Harum Ajeng (Sing 08) didampingi tiga dosen pendamping yaitu Chosa Kastuhandani, Antonius Febri, dan Maria Ananta; memberikan presentasi singkat mengenai keberlangsungan program, hambatan yang ditemui selama pelaksanaan, hingga keberlanjutan program yang diharapkan.
Menyusuri Kota Davao. Konteks adalah salah satu poin vital dalam pendidikan Jesuit. Maka dari itu, tidak heran paruh pertama kegiatan SLP yang lalu difokuskan pada kegiatan orientasi konteks, yaitu kota Davao. Kota Davao yang terletak di pulau besar Mindanao, Filipina, ini dijuluki sebagai kota terbesar di dunia. Kota ini sangat istimewa dari segi keamanan dan ketertiban. Diterapkannya peraturan yang tegas mengenai kawasan bebas rokok menyebabkan keteraturan yang terlihat jelas. Bahkan, Davao dinobatkan sebagai kota yang paling siap untuk menghadapi berbagai macam keadaan darurat, dengan adanya pusat 911 yang merupakan saluran cepat tanggap darurat pertama di Asia. Tidak hanya itu, Davao juga memiliki keanekaragaman suku, budaya, dan panorama alam. Hal ini terbukti dengan adanya bukti eksistensi sedikitnya 10 suku yang hidup di Davao dalam Kadayawan Festival dan dengan tersedianya bentang alam mulai dari pegunungan hingga lepas pantai di Davao.
Bercengkerama dengan CiptaanNya. Tema yang diusung dalam SLP yang lalu adalah Education for Environmental Stewardship: A Model towards Reconciliation with Creation. Berdasarkan tema yang dicanangkan, peserta diajak untuk melakukan berbagai macam kegiatan exposure dan immersion atau volunteering untuk berinteraksi langsung dengan makhluk "ciptaanNya" yang bukan hanya manusia, namun juga alam dan sekitarnya. Salah satu kegiatan yang ditekankan adalah kunjungan peserta ke daerah yang dihuni oleh Indigenous People (IP). Para IP tinggal di daerah pedalaman yang sulit diakses dengan kendaraan pada umumnya. Mereka hidup dalam damai mengandalkan hasil alam seperti tanaman dan hewan ternak untuk bertahan hidup. Lebih dari itu, mereka menganggap tanah adalah kehidupan mereka. Ironisnya, di tempat lain manusia hidup dengan merusak alam dan mengeksploitasi alam tanpa memikirkan dampak aktivitas mereka terhadap lingkungan sekitar. Global warming hanyalah salah satu "teror" yang diakibatkan keserakahan manusia, namun efek yang lebih nyata seperti banjir, tanah longsor, dan kekurangan pangan adalah akibat lain yang ditimbulkan oleh pola hidup manusia yang tidak peduli lingkungan. Di antara orang-orang yang kurang mempedulikan lingkungan tersebut, muncullah berbagai macam gerakan peduli lingkungan, terutama di kota Davao. Adalah Philippine Eagle Foundation yang mencoba melestarikan populasi elang, perusahaan HEDCOR yang mencoba semaksimal mungkin menggunakan lahan milik IP dengan timbal balik yang sesuai kepada alam, dan sosialita dari Manila; Gina Lopez, yang dengan berani menyuarakan penolakan keras untuk penambangan di pulau Palawan atas nama pelestarian lingkungan. Dengan usaha-usaha kecil yang telah dilakukan tersebut, terbukti bahwa manusia mampu melakukan usaha pelestarian lingkungan melalui berbagai macam cara. Inilah sasaran yang ingin dicapai program SLP tahun ini, yaitu menumbuhkembangkan rasa mencintai alam dan memiliki keinginan untuk berinteraksi dengan seluruh ciptaan, dengan cara yang tidak saling merusak.
Konteks Tanah Air. Berdasarkan pengalaman yang didapat di Davao, para peserta mahasiswa diajak untuk merefleksikan pencerahan yang telah mereka dapat dan mengaitkan pengalaman tersebut dengan konteks yang ada di Indonesia. Secara umum, tantangan dan permasalahan yang dihadapi masyarakat Davao pada khususnya, dan Filipina pada umumnya, memiliki banyak kemiripan dengan masalah yang terjadi di Indonesia. Pemanfaatan lahan secara berlebihan, pertambangan yang tidak mengindahkan keberlangsungan ekosistem lain, dan pengeksploitasian properti milik warga asli suatu daerah tanpa timbal balik yang layak adalah beberapa masalah yang menjadi tipikal permasalahan di Indonesia. "Dengan pengalaman yang diperoleh selama program, diharapkan para peserta mampu menjadi wakil universitas sebagai agent of change, mulai dari menumbuhkan kesadaran keberlingkungan lalu kemudian aksi yang nyata," tutur Chosa, dosen pendamping mahasiswa selama pelaksanaan program.
Memintal Harapan. Tidak akan ada perubahan tanpa perbuatan. Untuk mengaplikasikan "ilmu" yang didapat selama program SLP, akan ada program keberlanjutan bertema besar peduli lingkungan yang akan diselenggarakan dalam lingkup universitas. Dengan semangat berbagi, setiap anggota keluarga besar Universitas Sanata Dharma diharapkan berani untuk menjadi agen-agen perubahan yang lain, yang mau bertindak untuk lebih menghargai lingkungan yang telah diberikan pada kita. Mari wujudkan Sanata Dharma yang lebih "hijau." (Harum)




