USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Membuka Wawasan dan Jalan Rekonsiliasi: Kuliah Umum Perkembangan Terakhir Studi G30S

diupdate: 2 tahun yang lalu

Kuliah Umum Pendidikan Sejarah

USD – Rabu, 9 Oktober 2024, di R, Koendjono Lt. IV, Gedung Pusat Kampus II Universitas Sanata Dharma, Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP USD mengadakan kuliah umum tema Perkembangan Studi G30S, dengan menghadirkan Prof. Asvi Warman Adam (sejarawan dan Peneliti Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional).

Kaprodi Pendidikan Sejarah FKIP USD, Brigida Intan Printina, M.Pd., dalam sambutannya berharap agar kuliah umum ini dapat membuka wawasan banyak pihak.

“Puji dan syukur atas kehadiran yang luar biasa ramai hari ini. Terima kasih atas antusias yang besar untuk kegiatan ini. Kegiatan ini banyak bekerjasama dengan berbagai instansi seperti Pusdema, Penerbit Ombak, dan juga Yayasan Sanata Dharma. Maka dari itu, dengan adanya kegiatan ini, besar harapan saya untuk kita semua semakin menjalin hubungan yang erat. Tidak lupa juga, semoga kuliah umum ini mampu membuka wawasan baru untuk kita semua”

Sementara itu, Rektor USD Albertus Bagus Laksana, S.J., S.S., Ph.D., menyampaikan pentingnya kuliah umum ini sebagai proses rekonsiliasi bangsa.

“Sampai sekarang masih jadi perdebatan, apakah sebutan G30S masih layak dipakai atau tidak, kenapa tidak disebut sebagai peristiwa September 1965? Hal ini masih sensitif, dikarenakan masih banyak trauma yang dihasilkan dari kejadian ini. Belum banyak rekonsiliasi berdamai dengan trauma menggunakan pendekatan ilmiah atau pendidikan. Maka hari ini Universitas Sanata Dharma memiliki kesempatan ini untuk mencoba mengulik dan membuka wawasan ini sebagai bentuk kita terbuka dengan kepala dingin,” tuturnya.

Kuliah Umum Pendidikan Sejarah

Dalam paparannya, Prof. Asvi Warman Adam mengungkapkan pendekatan kuliah umum ini yang menyoroti pentingnya studi tentang G30S melalui konteks sosial dan budaya dalam studi sejarah.

"Studi tentang G30S akan terus relevan karena dampak jangka panjang dari peristiwa ini masih terasa dalam struktur politik dan sosial Indonesia. Kompleksitas tragedi yang tidak hanya terbatas pada peristiwa sejarah, tetapi juga dampaknya yang luas hingga saat ini," ujarnya.

Asvi juga mengungkapkan perlunya kuliah umum ini sebagai sarana menyampaikan apa yang belum tersuarakan dari korban.
“Saya selalu terharu ketika dihadapkan dengan korban peristiwa 1965, mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya secara bersemangat. Maka dari itu saya ingin menyuarakan apa yang mungkin belum bisa mereka sampaikan, atau mungkin mereka takut sampaikan,” ungkapnya.

Kuliah Umum Pendidikan Sejarah

Kuliah umum yang dimoderatori oleh Dr. Hendra Kurniawan (Dosen Pendidikan Sejarah FKIP USD) ini tentunya membawa banyak inspirasi bagi yang mengikutinya. Seperti yang diungkapkan oleh Dekan FKIP USD, Drs. Tarsisius Sarkim, M.Ed., Ph.D.

“Ini merupakan pencerahan bagi para mahasiswa, serta bagi kami para dosen. Terima kasih Prof. Asvi atas wawasan yang baru ini, semoga wawasan ini mampu membangkitkan kita dari trauma peristiwa 1965, serta berdamai dengan kejadian tersebut,” pungkasnya.

(AFH-CIR/Humas)

  kembali