dir="ltr">
USD- Senin, 23 September 2024, Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) komisariat Universitas Sanata Dharma bersama English Letters Academic Club (ELAC) mengadakan seminar nasional bertemakan ‘Sastra dan Tirani Kekuasaan’ yang menghadirkan dua pembicara utama, yakni Leila S. Chudori, seorang penulis dan Paulus Sarwoto, Ph.D. sebagai akademisi yang akan memberikan sudut pandang yang berbeda mengenai sastra yang juga berkesinambungan dalam dunia tirani kekuasaan. Kegiatan ini dilaksanakan pukul 08:30-15:00 WIB di R. Kadarman, Lt. IV, Kampus 2, Universitas Sanata Dharma.
Dalam sambutannya, Ketua HISKI Komisariat USD, Dr. Gabriel Fajar Sasmita Aji mengungkapkan keresahan terhadap isu politik yang tengah terjadi sekarang.
“Menyadari adanya sesuatu yang perlu dibicarakan mengenai kekuasaan, kami merasa acara ini harus segera dilaksanakan demi membangun pola pikir kritis para mahasiswa dan juga para khalayak umum. Selain itu, kami mengundang seseorang penulis yang sangat familiar membicarakan mengenai kekuasaan dari sudut pandang sastra, dan juga dari akademisi. Maka dari itu, terbentuklah acara ini sekarang. Ini merupakan bagian dari rangkaian pesta akademik yang akan memantik pola pikir dan tindakan para mahasiswa,” ungkapnya.
Moderator seminar, Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum., mengawali seminar dengan mengingatkan para peserta tentang keberadaan sastra dalam politik.
“Pesta akademik HISKI ini untuk membicarakan mengenai tirani kekuasaan, seperti yang kita tahu, banyak penulis di negara besar lahir saat tirani kekuasaan berjaya. Namun saya yakin, akan selalu ada penulis yang mampu memberikan jalan bagi kita semua untuk berani bersuara. Maka hari ini kita membuat ruang untuk para akademisi dan sastrawan untuk menyuarakan sudut pandangnya mengenai tirani kekuasaan ini,” tutunya.
Kegiatan ini dibagi menjadi tiga sesi, dimulai dengan pembicara pertama Paulus Sarwoto, yang menjelaskan bahwa bentuk perilaku bisa datang dari manapun dan dari hal-hal terkecil sekalipun.
“Kemunduran demokrasi berawal dari hal-hal kecil yang mengecoh kita hingga kita terlambat menyadari hal-hal yang sudah banyak diubah. Kita hidup dimana korupsi merupakan hal lumrah, hal yang dilakukan sehari-hari. Maka dari itu korupsi akan selalu ada karena para koruptor melihat adanya kesaman melakukan korupsi di kepemimpinan. Hal ini merupakan bentuk ilusi yang dibuat mereka sendiri hingga menjadi realita,” paparnya.
Paulus juga menambahkan harapannya untuk para mahasiswa dalam menyikapi keadaan politik yang tengah terjadi melalui perspektif sastra.
“Dengan adanya sastra, apabila ada produk politik yang digabung kedalam sastra diharapkan mampu membentuk pendekatan bagi para pembaca untuk tidak apatis terhadap isu politik yang tengah terjadi, terlebih di Indonesia. Sebagai negara demokrasi kita tidak bisa menjadi apolitis. setidaknya kita harus paham akan konstitusi yang berlaku di negara demokrasi,” ungkapnya lebih lanjut.
Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan makalah oleh 17 pemakalah mengenai sastra yang berkaitan dengan politik, dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Dalam sesi selanjutnya, pembicara utama, Leila S. Chudori menjelaskan sudut pandangnya mengenai penulis novel fiksi yang sedikit mengangkat politik di dalam novel fiksinya. Leila menceritakan bahwa dirinya mendapatkan inspirasi dari surat yang ayahnya berikan.
“Saya ingat surat dari ayah saya yang bertuliskan ‘kita pasti ada alasannya kenapa dilahirkan di indonesia’ maka semenjak saat itu saya selalu berpikir apa yang bisa saya buat untuk Indonesia”
Leila juga menceritakan bahwa dalam menulis tokoh yang ada dalam bukunya, memiliki beberapa kepribadian orang-orang serta kepribadiannya ke dalam tokohnya.
“Untuk menulis sebuah novel, apalagi novel fiksi sejarah, saya tidak hanya harus mendalami tema dan persoalan sejarahnya, namun juga mendalami tokoh-tokoh nyata yang mengalami langsung agar lebih terasa nyata cerita yang akan saya bentuk,” pungkasnya.
(CIR/DKS-HUMAS)

USD- Senin, 23 September 2024, Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) komisariat Universitas Sanata Dharma bersama English Letters Academic Club (ELAC) mengadakan seminar nasional bertemakan ‘Sastra dan Tirani Kekuasaan’ yang menghadirkan dua pembicara utama, yakni Leila S. Chudori, seorang penulis dan Paulus Sarwoto, Ph.D. sebagai akademisi yang akan memberikan sudut pandang yang berbeda mengenai sastra yang juga berkesinambungan dalam dunia tirani kekuasaan. Kegiatan ini dilaksanakan pukul 08:30-15:00 WIB di R. Kadarman, Lt. IV, Kampus 2, Universitas Sanata Dharma.
Dalam sambutannya, Ketua HISKI Komisariat USD, Dr. Gabriel Fajar Sasmita Aji mengungkapkan keresahan terhadap isu politik yang tengah terjadi sekarang.
“Menyadari adanya sesuatu yang perlu dibicarakan mengenai kekuasaan, kami merasa acara ini harus segera dilaksanakan demi membangun pola pikir kritis para mahasiswa dan juga para khalayak umum. Selain itu, kami mengundang seseorang penulis yang sangat familiar membicarakan mengenai kekuasaan dari sudut pandang sastra, dan juga dari akademisi. Maka dari itu, terbentuklah acara ini sekarang. Ini merupakan bagian dari rangkaian pesta akademik yang akan memantik pola pikir dan tindakan para mahasiswa,” ungkapnya.
Moderator seminar, Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum., mengawali seminar dengan mengingatkan para peserta tentang keberadaan sastra dalam politik.
“Pesta akademik HISKI ini untuk membicarakan mengenai tirani kekuasaan, seperti yang kita tahu, banyak penulis di negara besar lahir saat tirani kekuasaan berjaya. Namun saya yakin, akan selalu ada penulis yang mampu memberikan jalan bagi kita semua untuk berani bersuara. Maka hari ini kita membuat ruang untuk para akademisi dan sastrawan untuk menyuarakan sudut pandangnya mengenai tirani kekuasaan ini,” tutunya.
Kegiatan ini dibagi menjadi tiga sesi, dimulai dengan pembicara pertama Paulus Sarwoto, yang menjelaskan bahwa bentuk perilaku bisa datang dari manapun dan dari hal-hal terkecil sekalipun.
“Kemunduran demokrasi berawal dari hal-hal kecil yang mengecoh kita hingga kita terlambat menyadari hal-hal yang sudah banyak diubah. Kita hidup dimana korupsi merupakan hal lumrah, hal yang dilakukan sehari-hari. Maka dari itu korupsi akan selalu ada karena para koruptor melihat adanya kesaman melakukan korupsi di kepemimpinan. Hal ini merupakan bentuk ilusi yang dibuat mereka sendiri hingga menjadi realita,” paparnya.
Paulus juga menambahkan harapannya untuk para mahasiswa dalam menyikapi keadaan politik yang tengah terjadi melalui perspektif sastra.
“Dengan adanya sastra, apabila ada produk politik yang digabung kedalam sastra diharapkan mampu membentuk pendekatan bagi para pembaca untuk tidak apatis terhadap isu politik yang tengah terjadi, terlebih di Indonesia. Sebagai negara demokrasi kita tidak bisa menjadi apolitis. setidaknya kita harus paham akan konstitusi yang berlaku di negara demokrasi,” ungkapnya lebih lanjut.
Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan makalah oleh 17 pemakalah mengenai sastra yang berkaitan dengan politik, dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Dalam sesi selanjutnya, pembicara utama, Leila S. Chudori menjelaskan sudut pandangnya mengenai penulis novel fiksi yang sedikit mengangkat politik di dalam novel fiksinya. Leila menceritakan bahwa dirinya mendapatkan inspirasi dari surat yang ayahnya berikan.
“Saya ingat surat dari ayah saya yang bertuliskan ‘kita pasti ada alasannya kenapa dilahirkan di indonesia’ maka semenjak saat itu saya selalu berpikir apa yang bisa saya buat untuk Indonesia”
Leila juga menceritakan bahwa dalam menulis tokoh yang ada dalam bukunya, memiliki beberapa kepribadian orang-orang serta kepribadiannya ke dalam tokohnya.
“Untuk menulis sebuah novel, apalagi novel fiksi sejarah, saya tidak hanya harus mendalami tema dan persoalan sejarahnya, namun juga mendalami tokoh-tokoh nyata yang mengalami langsung agar lebih terasa nyata cerita yang akan saya bentuk,” pungkasnya.
(CIR/DKS-HUMAS)




