USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Dialog Kebangsaan Universitas Sanata Dharma 2024: Merefleksikan Bersama Situasi Demokrasi Indonesia

diupdate: 2 tahun yang lalu

dir="ltr">

USD- Sabtu, 21 September 2024, di Auditorium Driyarkara Kampus II Universitas Sanata Dharma, diselenggarakan Seminar Dialog Kebangsaan. Seminar Dialog Kebangsaan ini mengambil tema “Kemana Perginya Demokrasi Indonesia: Sebuah Refleksi Pemilu 2024”. Acara ini diselenggarakan dalam kolaborasi antara BEMU dengan Pusat Kajian Demokrasi dan Hak Azasi Manusia Universitas Sanata Dharma. Acara seminar yang dimoderatori oleh Dr. Yoseph Tapi Taum, M.Hum, Dekan Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, menghadirkan Romo Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, SJ sebagai pembicaranya.

Dalam sambutan pembukanya, Presiden BEM Universitas Sanata Dharma, Sirilus Maximillian Maloring, mengungkapkan tujuan dan harapan dari kegiatan dialog kebangsaan ini diadakan.

“Bersama Romo Magnis kita akan merefleksikan seberapa jauh demokrasi di Indonesia. Tema yang diangkat adalah Kemana Demokrasi Indonesia.  Harapannya refleksi hari ini mampu menjadi pemantik agar demokrasi bisa kembali tumbuh dan etika bisa kembali berkembang. Hari ini adalah hari kita untuk berpesta, merilis gagasan yang ada agar generasi muda semakin berkembang” ungkapanya.

Rektor Universitas Sanata Dharma, Romo Albertus Bagus Laksana, SJ, S.S., Ph.D, juga berkesempatan menyampaikan rasa bahagia dan antusiasnya terhadap dialog kebangsaan yang diadakan tahun ini.

“Universitas Sanata Dharma terus berkomitmen untuk terlibat dalam perkara publik dan demokrasi, meski tidak begitu mudah untuk menggerakkan kita kesana. Akan tetapi kita tidak boleh melupakan panggilan itu. Driyarkara pendiri kita, dia adalah ahli Pancasila, terlibat dalam refleksi tentang pancasila dan Romo Magnis melanjutkan itu semua dalam tinjauan yang lebih luas dan nasional. Beliau adalah guru bangsa kita dan kita mempunyai privilese untuk mendengarkan wawasan, analisis beliau dan semoga kekuatan sipil yang kita bangun disini menguatkan kita dan juga semoga kekuatan sipil yang lebih luas untuk menegakkan demokrasi untuk mengembalikan perjalanan bangsa kita pada marwah reformasi yang sudah kita sepakati bersama” ungkapnya sambil berharap.



Dalam pemaparannya, Romo Franz Magnis Suseno,SJ, memaparkan mengenai kondisi politik bangsa Indonesia pasca reformasi.

“Setelah 79 tahun merdeka dan 25 tahun reformasi berlalu, bangsa Indonesia berada dalam krisis. Krisis itu ditandai korupsi yang merajalela, nepotisme terbuka tanpa ada rasa malu, demokrasi merosot ke oligarki, dan keadilan sosial semakin jauh. Situasi bisa membuka pintu bagi ideologi radikal transnasional. Pertanyaan yang muncul adalah, apakah ini bisa mencapai Indonesia Emas 2045 secara utuh? Menghadapi ini kita perlu mengatasi dengan sikap-sikap yang diperlukan, suatu kepribadian sikap atau etika” ungkapnya. 

Lanjutnya, Imam Jesuit yang sudah berkarya lebih dari 60 tahun di Indonesia ini menyampaikan empat capaian demokrasi yang perlu diperhatikan.

“UUD menjamin hak-hak asasi manusia dan martabat semua manusia, itu aspek demokrasi yang penting. Empat capaian demokrasi yang harus terus diperhatikan adalah jaminan terhadap hak-hak asasi manusia, kesamaan berhadapan dengan hukum, hak partisipasi segenap orang, tugas utama negara adalah kesejahteraan utama. Tugas negara bukan memuji raja dan pemimpinnya, tapi rakyat harus diutamakan” paparnya.

Lanjutnya, Guru Besar STF Driyarkara ini menggambarkan bahwa Indonesia saat ini sedang mengalami darurat demokrasi.

“Indonesia saat ini darurat demokrasi karena kesadaran demokratis masih lemah, partai politik tanpa orientasi ideologis, DPR tidak mewakili rakyat, presiden dikuasai nepotisme dan memihak. Dalam masyarakat, para pemimpin belum menginternalisasikan etika tanggung jawab mereka terhadap rakyat, pemimpin yang dipilih hanya orang yang super kaya sehingga mereka hanya memikirkan uang dalam tindakan politisnya. Akibat dari itu semua muncul kegagalan politik Indonesia yang berdampak pada celah kaya miskin terus melebar, orang kecil digusur demi proyek, pelanggaran hak-hak asasi masa lampau dibiarkan, Papua terluka di tubuh bangsa. Penguasa tidak beretika ini mencerminkan bahwa kekuasaan dipaksakan sehingga tatanan masyarakat akan ambruk” paparnya.

Prof. Magnis menyampaikan bahwa generasi muda harus punya tekad dan kehendak untuk membawa Indonesia punya identitas masa depan yang baik. Hal terpenting adalah kita memperhatikan, tetap kritis tetapi tidak menolak, menuntut agar janji-janji dijalankan. Kita tidak mengizinkan kebebasan demokrasi dibatasi.

Di akhir pembicaraan, Yoseph Yapi Taum, selaku moderator acara, menyampaikan ringkasan dialog kebangsaan ini.

“Hakikat politik adalah memperjuangkan kepentingan bersama. Politik bertujuan untuk mencapai kebaikan tertinggi untuk kesejahteraan dan keadilan bagi banyak orang. Keterlibatan dalam bidang politik adalah hal yang baik, karena semua tujuannya adalah membangun bonum commune. Dialog kebangsaaan 2024 menjadi tonggak sejarah bagi Universitas Sanata Dharma, terutama BEM Universitas Sanata Dharma karena menandai keterlibatan aktif universitas dengan situasi politik bangsa dengan fokus edukasi politik bagi kaum muda. Dialog Kebangsaan hari ini menjadi awal dan peluang bagi mahasiswa untuk menjadi agen perubahan sosial, menjadi masyarakat yang terdidik, kritis dalam menghadapi tantangan politik dan sosial kedepannya.” pungkasnya.

(JMA/YK-Humas)

  kembali