USD – Sabtu 27 Juli 2024, Pusat Studi Ignasian Universitas Sanata Dharma melaksanakan kegiatan Sarasehan Spiritualitas Ignasian yang berjudul Ngobrol Santai (Ngobras) dengan tema ‘Yang Muda, Yang Berdaya: Mengupas Pengalaman Marginalisasi Orang Muda dalam Spiritualitas Ignasian’ Kegiatan ini dilaksanakan di R. Koendjono, Lt. IV, Gedung Pusat Universitas Sanata Dharma.
Dalam sambutan pembukanya, Kepala Pusat Studi Ignasian, Rm. Alexander Hendra Asmara, S.J.. S.S.. M.A.. Ph.D., mengungkapkan harapannya untuk mendekatkan Spiritualitas Ignasian pada pengalaman-pengalaman orang muda.
“Kami semua berharap membuat ignasian terus relevan dengan membawa topik yang sedang trending kali ini, terlebih yang berkaitan dengan orang muda. Ini menjadi tugas kita semua bagaimana Spiritualitas Ignasian bisa menjawab pertanyaan kalian semua mengenai marginalisasi yang terjadi,” sebut Rm. Hendra.
Senada dengan Romo Hendra, Rektor USD, Rm. Albertus Bagus Laksana, S.J., S.S. Ph.D., mengungkapkan pentingnya orang muda sebagai sentral dari Spiritualitas Ignasian
“Mungkin kata marginalisasi agak menyeramkan, tapi mungkin nanti kesimpulannya menjadi sentralisasi, bagaimana ignasian akan mencoba mensentralisasi kepada topik untuk anak muda. Saya kira topik hari ini sungguh relevan untuk kita, lebih lagi, saya senang melihat anak muda yang hadir sekarang untuk mau menanggapi marginalisasi ini melalui cara ignasian di hari ini” ujarnya.
Sarasehan Ngobras dibagi menjadi dua sesi, dimana tiap sesi akan berfokus kepada mahasiswa untuk berbagi pengalaman mereka mengenai belajar di USD sebagai kaum marginal. Dalam sesi pertama, terdapat lima mahasiswa dari berbeda pengalaman; Aurelia Trimaris Salakkau dan Vivid Herlina Bate'e selaku penerima beasiswa Lembaga Kesejahteraan Mahasiswa (LKM) Lalu ada Dominggus Magai sebagai mahasiswa asal Nabire, Daerah 3T yang akan membicarakan mengenai bagaimana dirinya harus membaur di USD, serta masukan untuk USD agar bisa menjawab keluhan dari para mahasiswa marginal. Kemudian Robertus Denyva Adibuana Wibisono, dan Vincentia Prasetya Anggraeni Pangestu dari Pusat Studi Individu Berkebutuhan Khusus (PSIBK) untuk menceritakan pengalamannya sebagai mahasiswa yang berkebutuhan khusus.

“Saya merasa nilai Preferensi Kerasulan Universal dalam Serikat Yesus (SJ) untuk berjalan bersama orang miskin, terpinggirkan dan dunia, dan mereka yang martabatnya dicederai dalam perutusan untuk rekonsiliasi dan penegakan keadilan sudah saya rasakan dan alami di USD” Tutur Domi.
Sementara itu, dalam sesi kedua, Rm. Agustinus Sugiyo Pitoyo, S.J., Ph.D., selaku Kepala Lembaga Kesejahteraan Mahasiswa (LKM) USD, diberikan waktu untuk menyampaikan pesan spiritualitas ignasian kepada mahasiswa yang marginal.
“Pengalaman kita sakit, atau kita ditolak, mampu membuat kita semakin kuat selagi kita memaknai, merefleksikan hidup kita di situasi apapun. Hidup ini bisa berubah, dan campur tangan Tuhan itu sangatlah luar biasa. Maka dari itu, kita harus selalu ingat For the Glory of God atau Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG) Lalu selanjutnya to be man for others, termasuk kepada lingkungan hidup. Jangan terlalu menuntut sesuatu yang diluar, selalu tuntutlah diri kita sendiri agar kita selalu bisa belajar untuk mampu menjadi manusia untuk orang lain agar kita juga bisa menjadi lebih dewasa serta mampu mengelola emosi untuk sesama dan membantu sesama manusia untuk berkembang bersama” Sebut Rm. Pitoyo menjelaskan spiritualitas Ignasian.
Kegiatan sarasehan ini ditutup dengan sesi tanya jawab, pemberian cinderamata kepada para pembicara oleh Dr. Titik Kristiyani, M.Psi., selaku Wakil Rektor III, serta foto bersama.
(CIR/YKS/DKS - Humas)




