USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Lewat Pelatihan Ekowisata Mangrove, USD Ajak Masyarakat Mengenal Pariwisata Rendah Karbon

diupdate: 2 tahun yang lalu

dok. Kedaulatan Rakyat
 
USD - Selasa, 25 Juni 2024, Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Sanata Dharma (USD) mengadakan Pelatihan dan Penguatan Kelembagaan dan Ekowisata Mangrove untuk Pembangunan Berkelanjutan. Kegiatan ini merupakan bentuk kerjasama antara USD dengan Pemerintah Kelurahan Jangkaran, Kapanewon Temon, Kulonprogo. Pelaksanaan kegiatan bertepatan dengan Hari Pelaut se-Dunia dan dihadiri oleh pamong, pengelola mangrove, tokoh masyarakat, dan pegiat lingkungan. Pelatihan tersebut diadakan di rumah makan dalam area hutan Mangrove Pasir Kadilangu. 
 
Purwaka selaku Lurah Jangkaran menyampaikan bahwa kerjasama dengan USD telah terjalin sejak seleksi pengisian pamong kelurahan dan penyusunan rencana induk pariwisata kelurahan (RIPPARKaL). Dari kerja sama tersebut, USD kembali menggagas ide demi  kemajuan daerah dengan mengajak semua warga, kelompok, dan Kelurahan Jangkaran. 
 
“Tujuan adanya pelatihan ini ialah untuk memperkuat pengembangan mangrove dan ekowisata, perkenalan mengenai nilai ekonomi karbon, dan mengokohkan kelembagaan desa dalam mewujudkan pariwisata rendah karbon,” tutur Purwaka.
 
Purwaka juga berpendapat bahwa kenyamanan peserta selama pelatihan menjadi alasan dalam pemilihan lokasi. Dipilihnya kawasan mangrove diharapkan akan membuat peserta pelatihan bisa menikmati pemandangan pantai saat pelatihan berlangsung. Sebagai pemateri, Drs. Antonius Tri Priantoro, M.For.Sc. (Dosen Biologi USD) menegaskan bahwa mangrove merupakan bagian penting di ekosistem karena jumlah makhluk hidup di habitat air payau tidaklah banyak. Dengan mewujudkan ekosistem mangrove yang sehat, makhluk hidup seperti fitoplankton, zooplankton, tumbuhan, dan hewan mikro yang menyusun the aquatic food chain dapat hidup di ekosistem tersebut.
 
Apriliana Kiswanto sebagai Pengurus Pengelola Mangrove Jembatan Api-Api (MJAA) yang hadir pada kegiatan ini melihat bahwa peran mangrove dalam kehidupan dan penghidupan masyarakat adalah komponen yang penting. Namun, pihak mereka dihadapkan pada kesulitan yang rumit. Kegiatan pendangkalan sungai dan tingginya populasi siput sompil (Planaxis sulcatus) mengakibatkan kerusakan lingkungan. 
 
“Belum lagi kita ini juga petambak yang ikut mencemari lingkungan. Tentu kami menyadari pentingnya tambak yang lebih ramah lingkungan, pengerukan sungai yang dangkal, memperbaiki ekosistem mangrove, bahkan pengelolaan sampah yang mengganggu ekosistem,” ucapnya.
 
Abrasi laut dan perubahan iklim juga menjadi masalah lain yang mulai terasa efeknya. Sebagai pegiat desa wisata, Faisal dan Alvian menegaskan bahwa ekosistem mangrove yang sehat merupakan hal penting. “Tanpa ekosistem yang sehat, nilai ekologis dan ekonomi mangrove akan terancam,” tutur mereka.
 
Dr. Antonius Budisusila, SE, M.Soc.Sc. selaku dosen di Fakultas Ekonomi USD mengatakan bahwa penyusunan analisis spasial dan dokumen rencana aksi mitigasi (DRAM) untuk pembangunan pariwisata rendah karbon merupakan hal yang penting dan perlu dipertimbangkan dengan merujuk pada Perpres no. 98 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon (NEK).
 
Selain itu, beliau berpendapat bahwa peran satu mangrove begitu penting karena satu mangrove mampu menyerap CO2 sebanyak kurang lebih 12,3 metrik kilogram. “Dengan sekitar 240 ribu pohon mangrove di Jangkaran, kita dapat menyerap sekitar 2.952 metrik ton  CO2 per tahun,” ucap beliau.
 
(CJM-Humas)

  kembali