
USD - Kamis, 13 Juni 2024, di R. Seminar Driyarkara, Universitas Sanata Dharma (USD) dan United Board for Christian Higher Education in Asia (United Board) menggelar simposium dengan tema “The Challenges and Opportunities of Generative AI for Indonesian Higher Education”. Simposium yang diikuti institutsi partner United Board ini menghadirkan Dr. José Antonio Bowen, (pendidik, konsultan dan pakar teknologi pembelajaran) sebagai keynote speaker. Rektor USD, Albertus Bagus Laksana, SJ., hadir sebagai salah satu panelis dalam simposium ini. Para peserta dari simposium ini adalah para rektor, dosen dan mahasiswa dari institusi partners United Board.
Dalam paparannya, Dr. José Antonio Bowen menyampaikan bahwa generative A.I akan mempengaruhi banyak aspek kehidupan, seperti pekerjaan, proses berpikir, komunikasi, hubungan antar manusia, kreativitas, dan masih banyak lagi. Menurut Bowen, AI tidak seperti teknologi pada umumnya yang menyediakan jawaban yang sama untuk semua hal.
“AI bisa digambarkan layaknya ribuan pekerja magang yang naif dan bersemangat. Mungkin awalnya kita tidak tahu bagaimana harus mengarahkan mereka karena sifat naif mereka, tetapi kita bisa mendapatkan tingkat produktivitas yang tinggi seiring berjalannya waktu. Namun, kita harus mencari cara untuk memanfaatkan hal tersebut,” ungkap Bowen.
Bowen juga menekankan bahwa dikarenakan AI yang sulit diprediksi, penggunaan AI butuh pernyataan dan pertanyaan yang tepat untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.
“Layaknya paradoks, AI memiliki tingkah laku seperti manusia walaupun hal tersebut bukan manusia; ia tidak punya kesadaran. Bila kita memperlakukan AI seperti pekerja magang yang naif, yang membutuhkan konteks dan arahan, kita akan mendapat jawaban yang lebih baik,” tuturnya.
Dengan adanya AI, Bowen menyarankan universitas untuk melakukan eksperimen dengan AI mengenai topik dan hal yang sebelumnya sudah dipahami dan dikuasai oleh universitas untuk menghindari informasi yang salah.
Di akhir presentasinya, Bowen mengajak para peserta simposium untuk merefleksikan tentang peran manusia di tengah perkembangan AI yang amat pesat.
“Teknologi itu bukan sesuatu yang baik atau buruk, tetapi ia juga tidak netral. Setiap pekerjaan akan mengalami perubahan karena AI bisa memperbaiki hubungan, kecepatan dalam pengerjaan tugas, kualitas pekerjaan, dan juga pekerja yang paling lemah. Pertanyaan untuk seluruh kita semua adalah: pekerjaan apa yang harus manusia lakukan dan pekerjaan apa yang tidak perlu dilakukan manusia? Jadi, AI adalah sebuah keterampilan yang dibutuhkan setiap orang di semua ranah pekerjaan, sama seperti keterampilan mengoperasikan komputer. AI juga merupakan alat untuk mengasah kreativitas dan pembelajaran,” tutupnya.
Setelah sesi keynote speaker, simposium dilanjutkan dengan sesi diskusi panel antar para Rektor perguruan tinggi partner United Boards yang mengangkat tema “AI and the Future of University Governance: Policy, Ethics, and Innovation. Dalam diskusi panel ini, tiga rektor yang menjadi panelis adalah Albertus Bagus Laksana, S.J. S.S., Ph.D., (Sanata Dharma University), Dr. Ferdinandus Hindiarto, S.Psi., M.Si.,(Unika Soegijapranata) dan Dr. Djwantoro Hardjito (Universitas Kristen Petra).

Rektor USD Albertus Bagus Laksana, S.J., S.S., Ph.D. menyampaikan bahwa dalam praktik di dunia pengajaran, USD tidak bergerak melawan teknologi, melainkan mengusahakan untuk melampaui teknologi dengan cara berpikir kreatif.
“Kita tidak menentang AI, melainkan bergerak melampaui teknologi dengan cara menciptakan sesuatu yang baru dengan berpikir kreatif. Menurut saya, kreativitas merupakan titik utama dari keprihatinan kita, dan cara kita mendefinisikan kreativitas sangatlah menarik di masa perkembangan AI, yaitu dengan menciptakan pedoman dan kebijakan dalam penggunaan AI di konteks universitas,” ucap Romo Bagus.
Dalam diskusi panel bersama yang juga menghadirkan Selain itu, Ia juga melihat adanya kecenderungan rasa takut ketika ada teknologi baru.
“Orang-orang religius sepanjang waktu, mereka cenderung takut dengan teknologi, seperti saat radio diciptakan, mereka takut radio akan menggantikan khotbah. Termasuk juga kehadiran televisi, internet, dan lain-lain. Namun, menurut saya teknologi adalah tempat untuk berimajinasi. Imajinasi merupakan salah satu yang Santo Ignatius Loyola tekankan dalam kehidupan manusia, ” tutur Romo Bagus.
Menurutnya, sikap dasar yang perlu diambil adalah memandang teknologi sebagai kesempatan untuk membangun dunia baru yang lebih baik.
“Dengan adanya teknologi, kita bisa membangun dunia yang baru. Ada bentuk kehidupan lain yang belum kita ketahui. Menurut saya, merambah misteri tersebut merupakan hal yang menarik, dan hal itu akan mempengaruhi keterbukaan USD dalam penggunaan AI untuk kemajuan mahasiswa/i kami; selalu kreatif, imajinatif, tetapi terus berotasi pada spiritualitas,” tutup Romo Bagus.
(CJM/KSM/DKS-Humas)




