USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Workshop Persiapan Hibah Pengembangan Model Flipped Classroom Berbasis Paradigma Pedagogi Ignasian

diupdate: 2 tahun yang lalu

Kepala PPIP, Dr. Benedecta Indah Nugraheni, S.Pd., S.I.P. (foto:PPIP)

USD – 14 Mei 2024 - Pusat Pengembangan dan Inovasi Pembelajaran (PPIP) menyelengggarakan Workshop Persiapan Hibah Pengembangan Model Flipped Classroom (FC) Inovatif Berbasis Paradigma Pedagogi Ignasian (PPI) yang diikuti oleh 27 dosen dari berbagai Program Studi di USD. Kegiatan workshop dilaksanakan selama dua kali yaitu pada Sabtu, 4 Mei 2024 dan 18 Mei 2024 di Ruang S405 Lantai 4 Gedung Baru Kampus I Mrican.

Workshop ini diselenggarakan dalam rangka mendukung pengembangan dan inovasi pembelajaran di Universitas Sanata Dharma. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat semakin memfasilitasi proses belajar mahasiswa di era digital.

Kepala PPIP, Dr. Benedecta Indah Nugraheni, S.Pd., S.I.P., dalam sambutan pengantarnya menyampaikan bahwa PPIP memiliki komitmen untuk mendukung pengembangan pembelajaran berbasis Pedagogi Ignasian.

”Yang menjadi ciri khas USD adalah paradigma pembelajaran yang didasarkan pada nilai-nilai spiritualitas St. Ignasius, yaitu Paradigma Pedagogi Ignasian. PPIP memiliki komitmen untuk mendukung pengembangan pembelajaran berbasis Pedagogi Ignasian ini”, ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa Flipped Classroom adalah salah satu bentuk blended learning, sebagai preferensi model pembelajaran yang dikembangkan dalam rangka merespon perkembangan teknologi.

”Implementasi FC sejalan dengan Sasaran 6 Renstra USD 2023-2027 yaitu ’Terwujudnya proses pembelajaran yang akuntabel, transparan, kritis, dan berwawasan Higher Order Thinking Skills (HOTS)’. FC juga memiliki potensi untuk mengembangkan 4C (competence, conscience, compassion, dan commitment) yang merupakan keunggulan yang diharapkan dihasilkan melalui Pedagogi Ignasian”, tambahnya.

Mega Wulandari, M. Hum (foto:PPIP)

Kegiatan workshop dibagi ke dalam 3 sesi. Pada sesi pertama, PPIP menghadirkan narasumber Mega Wulandari, M. Hum. yang memaparkan topik ’Flipped Classroom: Menciptakan Ruang untuk Beraksi’. FC merupakan salah satu alternatif model pembelajaran yang relevan digunakan saat ini. Meskipun terdapat kendala-kendala dalam implementasinya, namun menurutnya, keuntungan FC melebihi kendala yang dihadapi.

”Kita harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan melakukan pembelajaran yang relevan dengan karakteristik generasi digital (digital natives). ‘If you finish changing, you are finished!” tegas bu Mega mengutip kalimat dari Najwa Shihab.

Di sesi kedua, FX. Risang Baskara, M. Hum., Ph.D., mengangkat topik “Memfasilitasi Personalized Learning Melalui Integrasi Generative Artificial Intelligence (Gen AI) Tools dalam Flipped Classroom”. Terkait dengan topik ini, narasumber menyarankan agar dosen memahami konsep FC dan familiar dengan Gen AI Tools, demikian juga mahasiswa perlu familiar dengan Gen AI Tools.

“Start small, aim high. Bukan capaian pembelajaran (learning outcome) yang menjadi tujuan utama pembelajaran, tetapi engagement dan motivasi. Dengan aktivitas sederhana, namun interaksi antara dosen-mahasiswa dan antar mahasiswa bermakna,”ungkapnya.

FX. Risang Baskara, M. Hum., Ph.D. (foto:PPIP)

Pada kesempatan ini, ia juga memaparkan bagaimana merancang FC dengan mengoptimalkan penggunaan Gen AI sebagai smart assistants bagi dosen dan mahasiswa, serta memberikan contoh penggunaan smart assistants untuk dosen. Hands-on activities dilakukan pada akhir sesi untuk memberikan pengalaman kepada para dosen peserta workshop dalam merancang pembelajaran berpola FC dengan mengintegrasikan Gen AI.

Sesi terakhir dengan narasumber Lucianus Suharjanto, S.J., S.S., B.S.T, M.A., mengulas materi Pedagogi Ignasian sebagai Pijakan Pengembangan Flipped Classroom. Dalam paparannya, Rama Harjanto menjelaskan bahwa pengembangan pembelajaran berbasis Paradigma Pedagogi Ignasian (PPI) yang dilakukan terus menerus di lingkungan Universitas Sanata Dharma dimaksudkan untuk menciptakan fenomena pembelajaran dan pembelajaran holistik, seperti dirumuskan dalam Renstra USD 2023-2027.

Lucianus Suharjanto, S.J., S.S., B.S.T, M.A. (foto:PPIP)

“Pembelajaran holistik memfasilitasi peserta didik mengasah nalar, mengolah hati, menguatkan kehendak, dan mendorong tindakan. Sementara itu, istilah konteks, pengalaman, aksi, refleksi, dan evaluasi menggambarkan strategi untuk menciptakan fenomena pembelajaran holistik melalui implementasi Pedagogi Ignasian,” paparnya. 

Di akhir sesi, Rama Harjanto menekankan, flipped classroom yang dikembangkan perlu memfasilitasi proses mengasah nalar, mengolah hati, menguatkan kehendak, dan mendorong tindakan preferensial.

(BIN-PPIP)



  kembali