Sebagaimana pada dies natalis Universitas Sanata Dharma tahun-tahun sebelumnya, selain Pidato Ilmiah pada perayaan puncak dies, Seminar Ilmiah merupakan kegiatan yang selalu ada dalam rangkaian kegiatan dies Sanata Dharma, sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban akademis civitas akademika kepada masyarakat. Seminar ini mengkaji tema Lustrum XI Universitas Sanata Dharma Pengembangan kekuatan-kekuatan transformatif dalam masyarakat dari bidang kajian budaya (seni), teknologi, kesehatan, dan pendidikan.
Seperti kita ketahui, dalam masyarakat Indonesia terdapat kekuatan-kekuatan transformatif (local genius) yang sebenarnya mampu memberikan kontribusi dalam pembangunan (budaya, politik, ekonomi, teknologi, pendidikan) dan mengubah masyarakat perilaku, mentalitas, dan sebagainya. Namun, dalam sejarah dan perkembangan bangsa Indonesia kekuatan-kekuatan transformatif (local genius) tersebut termarjinalkan akibat kurangnya perhatian dan keyakinan kita terhadap local genius yang kita miliki dan adanya kecenderungan masyarakat Indonesia untuk lebih memilih mengadopsi konsep-konsep pembangunan, pengetahuan, dan teknologi barat. Akhir-akhir ini mulai disadari bahwa konsep-konsep pembangunan, pengetahuan dan teknologi barat kurang komprehensif. Oleh sebab itu, Sanata Dharma pada Lustrum XI 2010 mencoba mengangkat tema Lustrum terkait dengan local genius itu.
Hal itu sejalan dengan pemikiran Prof. Drs. Jakob Sumardjo, yang menulis makalah “Menggali dan Memahami Kearifan Lokal” yang menggugat bangsa ini yang sangat senang mengadopsi budaya barat, yang seolah pengetahuan dan metode mutakhir barat bersifat universal dan berlaku juga untuk Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan judul-judul karya seni dengan menggunakan bahasa Inggris, seolah kita merupakan negara bagian Amerika Serikat atau Inggris. Menurutnya lagi, kadang kita menganggap bahwa budaya lokal itu ketinggalan jaman, irasional, penuh takhyul yang pada akhirnya kita merasa harus segera membasminya. Padahal sebenarnya setiap budaya lokal memiliki rasionalitas sendiri, yang tidak bisa disamakan dengan rasionalitas budaya lainnya. Dan di Indonesia budaya lokal itu banyak sekali, jadi kita tidak homogen tetapi heterogen. Dan masing-masing memiliki rasionalistasnya sendiri. Dan kita diminta untuk mulai berpikir menguak rumusan-rumusan sistem hubungan dalam pengaturan dirinya yang tetap, yang berulang kali diuji, diakui, diyakini, dan digunakan sebagai panduan pengetahuan dan pemahaman. Kita harus memulainya dari masing-masing budaya bukan dari negara seperti yang telah dilakukan selama ini, yang menggunakan cara top down, tetapi mulailah dari bawah (bottom up).
Ketika kita melakukan perubahan cara pandang dari top down ke bottom up, tentu akan menimbulkan konflik. Konflik secara sosiologis sebenarnya memiliki nilai positip, karena dia mampu mendinamisasikan masyarakat, akan tetapi ketika tidak dikelola dengan baik, maka dia akan memiliki nilai negatip. Prof. Dr. Johana Endang Prawitasari, yang menulis makalah dengan judul “Kearifan Lokal Sebagai Kekuatan Transformatif Masyarakat : Tinjauan Ilmu Prilaku” ini mengajak kita untuk menengok peristiwa 4 tahun lalu, ketika Yogyakarta dilanda gempa bumi, dan beberapa hari terakhir mengalami bencana erupsi eksplosif merapi. Masyarakat Yogyakarta secara bahu membahu membantu saudara-saudaranya yang tertimpa musibah itu dengan caranya masing-masing. Modal sosial gotong royong yang mulai luntur, muncul kembali, kesenian tradisional yang sudah menghilang tiba-tiba muncul kembali, segala potensi lokal yang menjadi modal sosial mereka muncul kembali. Mereka mulai melupakan konflik yang pernah ada untuk bersama-sama membangun wilayahnya, masyarakat menjadi kian dinamis.
Ign. Y. Kristio Budiasmoro, M.Si. yang menulis “Refleksi Konservasi Air Pasca Letusan Merapi November 2010” menggugah kita untuk menengok kembali kearifan lokal dalam hal konservasi air. Air yang menjadi salah satu kebutuhan utama manusia, sejak tahun 2004 telah boleh dimiliki perusahaan swasta (UU No. 7/2004 pasal 11 ayat 3), pada kenyataannya telah menimbulkan konflik kepentingan antara pengusaha dengan warga lokal yang juga memanfaatkan air tersebut. Air akhirnya diperdagangkan, air pada akhirnya terkapitalisasi. Peristiwa ini bukan muncul secara niscaya, ini juga sebagaia kibat dari prilaku kita yang selalu menganggap bahwa air tidak akan pernah habis dan gratis. Peristiwa kapitalisasi air ini pun akhirnya memunculkan kembali tradisi lokal yang merupakan salah bentuk dari kearifan lokal yang berhubungan dengan air, yang telah lama menghilang. Misalnya Grebeg Banyu di Godean, Tradisi Ciblon di Klaten yang mampu menunjukkan kepada kita bahwa air adalah hal yang paling penting dalam kehidupan. Salah satu contoh baik dalama pengelolaan air, menurut Kristio, adalah pengelolaan DAS Kali Kuning di Sleman, yang membagi sumber air umbul lanang dan wadon secara proporsional 50% untuk pertanian, 35 % untuk industri dan air minum, dan sisanya untuk keperluan lingkungan.
Selanjutnya menurut Dr. Wanty Widjaja yang mennyampaikan presentasinya dengan judul “Pengembangan kekuatan-kekuatan transformatif dalam masyarakat; Kajian dari perspektif pendidikan” mengatakan bahwa semuanya itu tentu saja tidak akan lepas dari pendidikan karakter bangsa ini, seperti yang telah diajarkan oleh Ki Hadjar Dewantara dan Mangunwijaya yang memerdekakan anak, membangun sikap kritis dan kreatif lewat pertanyaan dan menghargai keunikan masing-masing peserta didik yang berakar pada budaya lokal dengan tetap mengakomodasi dan mengolah pengetahuan luar, seperti yang pernah diucapkan oleh Muhammad Hatta pada Kongres Kebudayaan II di Bandung tahun 1950, seperti dikutip oleh Prof. Sumardjo, Hatta mengingatkan kita terhadap bahaya adopteren budaya barat, dan menganjurkan untuk melakukan adapteren terhadap budaya asing. (Rio)




