Saat ini kita memasuki era global. Dunia menjadi satu wilayah bersama, dimana semua orang dapat berjumpa dengan orang lain, meski hanya di dunia maya. Akan tetapi justru dunia yang nota bene 'tidak nyata' inilah yang mempunyai pengaruh dan memberikan dampak yang tak terduga dalam kehidupan. Bagaimana pengaruh budaya baru ini bagi kerohanian kita? Bagaimanakah pendidikan Spiritualitas Ignasian dapat mengarahkan kemajuan teknologi ini untuk tujuan pengembangan masyarakat dan kedekatan manusia pada Tuhan?
Terkait dengan hal-hal di atas, Universitas Sanata Dharma melalui Pusat Studi Ignasian mengajak kita berefleksi dengan tema Spiritualitas Ignasian di Era Teknologi Komunikasi dan Informasi. Acara ini diselenggarakan di ruang Kundjono, Lantai 4, Gedung Pusat USD, Mrican Yogyakarta. Dari 200-an peserta yang hadir, nampak sejumlah besar kaum muda yang antusias mengikuti acara sampai selesai. Hal ini membuat panitia berbesar hati karena pemilihan tema sangat mengena di hati kaum muda yang dilayani di USD.
Dalam sesi yang pertama, Y.P. Sunari, S.J. menyampaikan makalah yang berjudul "Ditelan Gadget". Disampaikannya bahwa orang mulai tidak rasional dalam menggunakan alat komunikasi (gadget). Orang tidak lagi dapat membedakan antara sarana dan tujuan. Sedangkan Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc. menggambarkan TIK bagaikan lemparan batu di tengah kolam yang tenang dan membuat air bergolak. Eka merefleksikan kehadiran TIK dan Internet sebagai madu dan racun. Madu TIK dan Internet: 1) merevolusi komunikasi dan interaksi, 2) hemat, cepat, akurat, 3) mengatasi ruang dan waktu, 4) meningkatkan koordinasi dan kerjasama, 5) meningkatkan fleksibilitas, dan 6) memberi kemungkinan baru, bahkan dunia baru. Sedangkan racun TIK dan Internet: 1) pemborosan, 2) perusakan, pencurian, 3) pornografi, penipuan, perjudian, dan 4) meningkatkan alienasi. Permasalahannya adalah racun sering terasa madu. Dalam diskusi, Rm Wiryono menyampaikan bahwa tujuan yang utama adalah hubungan antara Tuhan dan ciptaanNya. Hal inilah yang harus ditangkap untuk membakar semangat semua orang. Dari diskusi ini dapat disimpulkan bahwa: 1) TIK merupakan fenomena tak terhindarkan yang menciptakan nilai baru dan budaya baru, 2) bermanfaat sepancang kita dapat memanfaatkannya (mampu membedakan antara sarana dan tujuan), serta 3) bagaimana kita tidak tertelan TIK tetapi dapat mencecapnya (oleh karem ning aja kerem)
Dalam sesi kedua, Thomas H. Tjaya, S.J. menyampaikan bahwa kehadiran alat komunikasi sering membuat hubungan kita dengan Tuhan menjadi terdistraksi. Bahkan untuk satu jam acara Misa, kita sulit untuk mematikan hand phone. Saat kita sibuk dengan diri sendiri, sangatlah sulit berelasi dengan Tuhan. Sampai batas mana TIK berkembang, kita dituntut untuk berelasi dengan Tuhan. Kehadiran gadget menjadi excuse orang tidak masuk ke hati untuk berelasi dengan Tuhan, tetapi sibuk dengan gadgetnya. Sedangkan Antonius Widyarsono, S.J. menyajikan "Pembedaan Roh St. Ignasius Bagi Generasi Digital". Pedoman pembedaan Roh: menyadari gerakan batin (aware), mengenali (understand) gerakan batin berasal dari mana, mengambil keputusan (take action) untuk menerima kalau gerakan berasal dari Tuhan atau menolak kalau berasal dari yang lain. Hal ini tidak mudah jika dilakukan tanpa keheningan, dan sering terdistraksi oleh gadget.
Pada akhir acara ini, diluncurkan website, blog, dan facebook Pusat Studi Ignasian. (BST)




