
Selasa 11 Juli 2023, Universitas Sanata Dharma (USD) menyelenggarakan seminar dalam rangka Hari Studi Dosen di R. Drost, Gedung Administrasi, Lt.4, Kampus III, Paingan. Acara seminar ini bertajuk “Tantangan Disrupsi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) Bagi Pembelajaran dan Penelitian di Perguruan Tinggi”. Acara ini memberikan kesempatan kepada para dosen di USD untuk mendalami kecerdasan buatan dan tantangannya bagi dunia pendidikan, khususnya dalam pengajaran dan penelitian.
Seminar yang dimoderatori oleh F.X. Risang Baskara, Ph.D ini menghadirkan tiga narasumber yaitu, Dr. Agustinus Setyo Wibowo, S.J., (Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta), Drs. Hari Suparwito, S.J., M.app.IT (Dosen Program Studi Informatika USD), dan Dr. Marcellinus Andy Rudhito, S.Pd.( Dosen Prodi Magister Pendidikan Matematika USD)
Rektor USD, Pater Albertus Bagus Laksana, S.J., S.S., Ph.D., dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik, Prof. Ir. Sudi Mungkasi, Ph.D, menyampaikan bahwa lembaga pendidikan tinggi seperti USD memegang peranan penting di zaman yang semakin modern ini.
“Kita sebagai warga yang punya kekuatan untuk bertindak bisa memberdayakan diri agar tidak ketinggalan zaman. Komitmen USD mengenai disrupsi teknologi ini adalah kesiapan kita membantu pendidikan di daerah terdepan, terpencil dan tertinggal,” tegasnya.

Munculnya teknologi kecerdasan buatan perlu disikapi dengan bijak oleh para pendidik. Proses pengerjaan tugas kuliah yang selama ini membutuhkan aktivitas membaca, memahami, dan menulis seolah olah kini tidak lagi terjadi karena hadirnya Chat-GPT. Hal ini yang diungkap oleh Pater Dr. Agustinus Setyo Wibowo, S.J. Dalam paparannya, beliau menyampaikan bahwa Chat-GPT ini adalah kecerdasan buatan yang menjawab pertanyaan berdasarkan fakta.
“Chat-GPT ini adalah AI yang tidak punya emosi, dan semua berdasarkan data atau fakta (fact based). Chat-GPT akan menarik bagi orang yang sudah tahu permasalahan yang ia tanyakan, dan akan menjadi acuan atau sumber untuk orang awam” ungkapnya.
Romo Setyo menambahkan bahwa para pendidik di USD selayaknya mau menjalankan tugasnya mendidik para mahasiswa agar menjadi manusia seutuhnya.
“Dalam bahasa sederhana, pendidik mampu mendidik manusia menjadi manusia seutuhnya yang memiliki critical thinking, kreatif, dan humanis, yang tidak bisa dilakukan oleh Chat-GPT” ujarnya.
Sementara itu, narasumber ke-dua, Drs. Hari Suparwito, S.J., M.app.IT menyampaikan kepada dosen yang hadir untuk tidak gugup menghadapi perkembangan AI yang semakin dekat dengan kehidupan kita.
“Jangan gugup dengan hadirnya AI. AI ini ada karena manusia, komputer bisa ngomong karena manusia bisa ngomong, jadi jangan terbata-bata menghadapi hadirnya AI. Kita hanya perlu bersikap bijak dengan hadirnya AI, mereka hadir untuk membantu kita, bukan menggantikan tugas kita” tegasnya.


Sedangkan pembicara ke-tiga, Dr. Marcellinus Andy Rudhito, S.Pd. juga menekankan bagaimana memadukan perkembangan teknologi kecerdasan buatan dengan pendekatan cura personalis.
“Untuk membentuk proses pembelajaran cerdas itu dibutuhkan guru, mentor atau asisten yang cerdas; manajemen dan layanan pendidikan yang cerdas; dan evaluasi pembelajaran cerdas, yang nantinya akan membentuk lingkungan belajar yang cerdas. Itu semua berkaitan satu dengan lainnya. Jadi tidak semuanya akan ditentukan oleh teknologi,” pungkasnya.
(SPP-CSN/Humas)




