USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Garda Bagus Damastra, Alumni PBI yang Menjadi Peneliti Serangga Bereputasi Internasional

diupdate: 4 tahun yang lalu

Garda Bagus Damastra / foto: istimewa

Garda Bagus Damastra, pria yang akrab disapa Garda ini adalah alumni Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris tahun 2011. Ia saat ini berdomisili di Bali dan bekerja sebagai Entomologist. Namanya diabadikan sebagai nama salah satu serangga hasil temuan penelitiannya, Phyllium gardabagusi. 

Minat Garda terhadap serangga sudah Ia salurkan sejak kecil. Sejak berusia kurang lebih 5 tahun, Ia mulai tertarik dengan dunia serangga, dan mulai untuk mendalami minatnya ini. Orang tua dan kakaknya juga mendukung minat dari Garda “Kalau dulu, anak-anak mainan hewan itu dilarang orang tuanya, saya malah didukung penuh sama minat saya ini”. Ucap Garda. 
 
Perjalanannya mendalami minatnya ini juga mengalami pasang surut. Minatnya terhadap serangga yang sudah Ia dalami sejak kecil ini hanya bertahan hingga SMP. Saat Ia SMA, minatnya terhadap serangga mulai mengalami penurunan karena fokusnya yang mulai teralihkan untuk mulai memasuki dunia perkuliahan. Menariknya, pada masa pertengahan perkuliahan, Ia mulai kembali menemukan passion nya di dunia serangga. Awalnya Ia ingin melanjutkan dan mendalami minatnya dengan masuk ke program studi biologi. Saat mendaftar di Sanata Dharma pun, Ia mendaftar di Program Studi Pendidikan Biologi. Ia merasa Tuhan seudah menggariskan apa yang ada di hidupnya secara baik “Mungkin kalau saat itu saya ambil di P.Bio, mungkin hidup saya nggak seperti ini sekarang, Mas” guraunya.
 
Perjuangannya dalam meneliti serangga ini juga mengalami perjalanan panjang, Proses dirinya dari penemuan sampai dengan rilis jurnal memakan waktu sekitar tiga tahun. Pandemi juga menjadi penghambat rilisnya jurnal yang Ia buat. Proses untuk merilis jurnal pun sangat rumit. Garda harus mengirimkan spesimen, bahkan telur serangga yang Ia teliti untuk mengetahui daur hidupnya, dari telur hingga menetas, dan menjadi serangga dewasa. Ini semua Ia lakukan secara mandiri “Untuk prosesnya itu sendiri memakan waktu tiga sampai enam bulan hanya untuk mengetahui proses dari telur sampai menetasnya”. ucap Garda.

Phyllium gardabagusi / foto: istimewa

Serangga yang Ia teliti sendiri bernama Phyllium gardabagusi. Serangga yang Ia temukan di Gunung Argopuro ini adalah spesies serangga baru dan belum pernah ditemukan sebelumnya. Spesies ini mirip dengan spesies yang sudah pernah ditemukan sebelumnya, yaitu Phyllium hauslethner dan Phyllium jacobsoni. Kegiatan Garda yang kerap menegksplorasi alam dan berkaitan dunia satwa ini membawanya ke Gunung Argopuro kala itu. Sosok yang dulunya bercita-cita sebagai pemandu wisata ini justru berkecimpung di dunia serangga, dimana ini adalah passion yang menurutnya layak ditekuni.

Baru-baru ini, Ia juga kembali mempublikasikan hasil temuannya yang baru. Serangga ini bernama Nesiophasma sobesonbaii, yang masih masuk dalam jenis serangga ranting. Satwa ini Ia temukan saat Ia bekerja sama dengan rekanan di Pulau Timor.

foto: istimewa

Bersama kawan-kawannya yang berasal dari Berkeley, US yaitu Frank H. Henneman, Davis Marthin Damaledo, Royce T. Cumming, serta Stephane La Tirant, Garda Bagus meneliti serangga ini. Berbeda dengan serangga pertama yang penamaannya speiesnya menggunakan namanya, kali ini Garda Bagus bertindak sebagai author dalam jurnal yang dirilis oleh Faunitaxys, edisi Maret 2023, volume 11.

Meskipun bidang yang Ia geluti ini agak berbeda dengan pendidikannya selama di USD yaitu Pendidikan Bahasa Inggris namun saat ini Ia bisa mengambil ilmu praktis yang Ia pelajari untuk kebutuhan publikasi jurnal internasional dan koneksi ke luar negeri. Semasa menjadi mahasiswa, Ia juga aktif dalam kegiatan kampus, seperti panitia INSADHA (Inisiasi Sanata Dharma).

Saat ini, Ia tetap menyebut hal yang Ia kerjakan ini sebagai hobi. Menurutnya, ini tetaplah hobi yang tidak mematok target dan capaian yang harus dicapai “Kalo hobi jadi pekerjaan, nanti saya jadi punya target dan menjalani dengan tekanan. Kalo tetap sebagai hobi kan saya menjalaninya juga enak, nggak ada tekanan.”

Setelah Ia meluncurkan dua artikel penelitian, ada dua bentuk perbedaan apresiasi. Apresiasi yang pertama dalam bentuk penamaan dalam spesies dan apresiasi yang kedua tercatat sebagai author dalam jurnal. Ia berpesan juga untuk para Driyarkara Muda adalah “Kejar mimpimu dan apa yang kamu sukai asalkan itu positif untukmu dan orang-orang sekitarmu, dan jangan lupa jadi dampak buat orang lain.” tutup Garda Bagus.  

(SPP-AFH/HUMAS) 

  kembali