
Sebanyak 76 lulusan Pendidikan Profesi Apoteker Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta mengikuti Pengambilan Sumpah Apoteker Angkatan ke-44, di Kampus III USD, Paingan, Maguwoharjo, Sabtu (25/3/2023). Mereka sebelumnya telah menyelesaikan rangkaian pendidikan, dan dinyatakan lulus Uji Kompetensi Apoteker Indonesia (UKAI) CBT secara nasional yang diselenggarakan pada tanggal 4-5 Februari 2023. Sembilan orang diantara lulusan tersebut bahkan sudah diterima bekerja di perusahaan farmasi.
“Sertifikat profesi diberikan kepada mereka yang dinyatakan lulus UKAI,” kata Dekan Farmasi USD, Dr.apt.Dewi Setyaningsih.
Dalam sambutannya, Dewi menyinggung tentang pengembangan artificial intelligence (AI). Dijelaskan, dalam kefarmasian AI telah diselidiki dalam berbagai aspek termasuk untuk menawarkan panduan interaksi obat, pemantauan terapi, dan pemilihan formularium obat. Selain membantu mengurangi biaya penyedia layanan kesehatan, sistem ini juga memungkinkan pemantauan berkelanjutan bagi pasien.
“Apoteker wajib memahami dan memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi pelayanan kesehatan. Kehadiran AI tidak akan menggantikan apoteker,” kata Dewi.

Wakil Rektor I USD, Prof.Ir. Sudi Mungkasi, Ph.D mengatakan, sumpah/janji apoteker diucapkan sebagai bentuk tanggung jawab etika dan moral terhadap profesinya. Sumpah tersebut merupakan komitmen apoteker untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat dengan selalu menjunjung tinggi etika profesi.
“Ini merupakan komitmen apoteker untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Ada banyak yang diharapkan masyarakat dari profesi apoteker,” katanya.
Apoteker diharapkan dapat mengedukasi masyarakat tentang kesehatan, memberikan pelayanan dengan empati dan kepedulian serta yang paling utama adalah membantu menyediakan obat dengan harga yang dapat di jangkau oleh masyarakat yang membutuhkan.
“Ada banyak harapan masyarakat terhadap profesi apoteker. Semisal berperan aktif dalam edukasi kesehatan, memberikan pelayanan dengan empati, dan menyediakan obat dengan harga terjangkau,” tandasnya.

Anggota Konsil Kefarmasian Indonesia, Engko Sosialine Magdalene, mengatakan peluang kerja apoteker sangat luas. Di Indonesia terdapat sebanyak 17.000 apotek yang menjadi lahan kerja apoteker. Selain itu, apoteker juga bisa bekerja di fasilitas kesehatan, pemerintahan maupun dalam penelitian sebagai akademisi.
Kendati demikian, ia berpesan kepada para lulusan yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia untuk lebih memilih kembali ke daerah masing-masing dan menjalankan ketugasannya sebagai apoteker untuk melayani masyarakat di daerahnya.
“Terutama yang di luar Jawa. Ada yang dari Balikpapan, NTT, Sulsel, Kaltim, Papua, saya mengajak sejawat untuk kembali ke daerah masing-masing. Karena di sana puskesmas sangat membutuhkan tenaga kefarmasian untuk melaksanakan praktek kefarmasian,” katanya.
76 lulusan pendidikan Profesi Apoteker ini berasal dari berbagai latar belakang yang mencerminkan keberagaman di dalam prodi hingga universitas. Para apoteker juga diharapkan terus menghargai keberagaman sebagai salah satu nilai dasar USD.
Dalam kesempatan ini sembilan orang apoteker juga menerima penghargaan dari perusahaan farmasi dan dari Universitas Sanata Dharma. Apt. Chesya Arsthitra Falde, S.Farm menerima penghargaan dari DEXA GROUP; apt. Elsa Irnandari, S. Farm menerima penghargaan dari PT. NOVELL PHARMACEUTICAL LABORATORIES; dan apt. Gusti Ayu Made Widiari, S. Farm mendapatkan penghargaan dari Universitas Sanata Dharma.
(SPP-AFH/Humas)




