
“Darurat sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta ditandai dengan ketidakmampuan TPA Piyungan menampung sampah sejak tahun 2012,” ujarnya dalam keterangan persnya, Selasa (20/12).
Dia menjelaskan, kesadaran terhadao darurat sampah ini harus menjadi gerakan bersama. Budaya hidup bersih perlu ditanamkan sejak dini. Pembiasaan hidup bersih, penanaman kesadaran akan pengelolaan sampah juga perlu diterapkan pada anak-anak.
“Masa kanak-kanak menjadi kesempatan emas untuk meletakkan tradisi pengelolaan sampah sebagai bagian dari inisiasi pendidikan nilai budaya bersih. Di sisi lain, Kebersihan menjadi syarat mutlak untuk menjamin Kesehatan masyarakat,” katanya.
Disebutkannya, program revitalisasi ini terselenggara dalam rangkah hibah Program Insentif Pengabdian Masyarakat Terintegrasi dengan MBKM yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Kegiatan terdiri dari tiga bentuk, yaitu penanaman budaya budaya bersih-sehat pada anak-anak PAUD dan SD, pengelolaan dan manajemen sampah pada komunitas, dan implementasi keranjang Takakura. Penanaman budaya bersih sehat dilakukan pada tanggal 16 Desember 2022.
“Sasaran kegiatan ini anak-anak usia PAUD dan SD. Jumlah peserta yang hadir 30 orang, termasuk ibu-ibu yang mendampingi putra/putrinya. Kita hadirkan narasumber Nala Martavani, seorang pegiat Kesehatan sanitasi lingkungan, perempuan, dan anak-anak,” tuturnya.
Menurut Nala, berbagai kendala dihadapi masyarakat Juminahan terkait pengelolaan sampah. Kampung Juminahan sudah mengimplementasikan bank sampah, namun hasil yang diperoleh belum bisa optimal.
Beberapa kendala yang dihadapi seperti masyarakat lebih memilih menjual hasil pilahan sampahnya ke pengepul, karena mendapat uang langsung. Harga di pengepul juga lebih tinggi dari harga yang ditentukan oleh bank sampah.
“Tampaknya, kondisi ini menyebabkan masyarakat enggan menabung sampah di bank sampah. Di sisi lain, bank sampah perlu dikelola secara professional agar dapat memberikan keuntungan yang maksimal kepada warga,” jelasnya.
Sementara itu, seorang aktivis lingkungan, Gunawan mengutarakan, pengelolaan sampah dapur (rumah tangga) menyumbang sampah yang terbesar. Untuk menguranginya, pada kegiatan revitalisasi ini diajukan teknologi keranjang Takakura dalam mengurangi sampah dapur dan dioperasikan pada Minggu (18/12).
Gunawan yang juga pembuat keranjang Takakura ini menerangkan, keranjang Takakura dapat digunakan dalam skala rumah tangga, karena keranjang yang dibuat bervolume kecil. Prinsipnya, kesediaan anggota keluarga untuk memilah sampah organik dan anorganik.
“Sampah organik yang tidak mengandung air terlalu banyak dapat dimasukkan ke keranjang Takakura. Dengan demikian, sisa makanan/limbah dapur perlu ditiriskan terlebih dahulu, baru dimasukkan ke keranjang. Setelah hampir penuh, keranjang dapat dipanen dan digunakan untuk pupuk kompos,” ungkapnya.
(SW & AFH)




