
Selasa 6 Desember 2022, para mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) USD berkesempatan untuk mendapatkan ilmu dari Amie Puspahadi, editor senior Penerbit P.T. Gramedia Pustaka Utama, yang juga alumni Sastra Inggris USD dalam Kuliah Praktisi Mengajar dengan tema “Penyuntingan dan Editor: Penyunting Muda Yang Berkualitas”. Kuliah online yang dihadiri 105 mahasiswa ini adalah bagian dari mata kuliah Penyuntingan dan Analisis Kesalahan Berbahasa, dengan dosen pembimbing Septina Krimawati, M.A. dan Galih Kusumo S.Pd., M.Pd.
Seorang editor tidak lebih terkenal dari seorang penulis. Bekerja sebagai editor juga tidak lagi menjadi incaran para fresh graduate. Akan tetapi, sebuah buku yang terbit tanpa melalui proses editorial akan dianggap sebagai buku yang cacat dan tidak layak dibaca. Demikian ungkap Amie Puspahadi saat membagikan pengalamannya sebagai seorang editor.
“Menjadi seorang editor merupakan cita-cita saya sejak kecil. Meski telah menggeluti profesi tersebut cukup lama, saya merasa harus selalu belajar karena bahasa bersifat dinamis,” ungkapnya.

Menurut Amie, kesalahan-kesalahan yang sering ia temukan dalam menyunting sebuah tulisan meliputi kesalahan penulisan, pemilihan diksi, dan pengulangan kata. Selain meminimalisir salah tulis, seorang editor juga memastikan tulisan tidak mengandung unsur yang menyinggung dan menjelaskan sesuatu yang mungkin tidak dimengerti pembaca.
“Menjadi editor perlu banyak membaca, perlu kritis. Maka, semua lulusan ilmu bahasa memiliki peluang yang sama untuk menjadi editor dengan syarat suka membaca, teliti, dan mengetahui analisis kesalahan berbahasa. Bagi seseorang yang suka membaca, pekerjaan editor itu sangat menyenangkan karena berkesempatan lebih dulu membaca karya sebelum diterbitkan,” jelasnya.
Menanggapi prospek masa depan, dimana media cetak seperti buku pamornya kian hari kian surut, Amie mengungkapkan optimismenya.

“Buku tidak akan pernah mati. Akan tetapi, sangat mungkin bila buku mengalami alih wahana menjadi e-book. Hingga saat ini, penjualan buku cetak masih lebih tinggi dibandingkan e-book. Buku seperti Filosofi Teras dan novel Laut Bercerita sudah terjual lebih 100.000 eksemplar. Buku terjemahan seperti Sebuah Seni untuk Bersikap Bodoh Amat, bahkan yang sudah terjual lebih dari 200.000 exemplar,” paparnya.
Hal tersebut membukakan pandangan para mahasiswa bahwa seorang editor memiliki peran yang sangat penting. Meskipun seringkali diabaikan oleh pembaca, editor sangat berperan untuk menyediakan buku dan bacaan yang berkualitas.
(RSM & AHT)




