Bertempat di ruang seminar LPPM Universitas Sanata Dharma, 15 Juni 2011 pukul 10.00-12.00 WIB, PUSdEP (Pusat Sejarah dan Etika Politik) Universitas Sanata Dharma bekerja sama dengan "kotakhitam forum" telah menyelenggarakan sarasehan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sejarah. Dalam kalimat pengantarnya, Direktur PUSdEP Universitas Sanata Dharma, Dr. Baskara T. Wardaya memberi apresiasi positif atas sarasehan ini. Sarasehan seperti ini sangat penting di tengah keprihatinan bangsa kita khususnya terkait persoalan sejarah dan rasa kewarganegaraan yang semakin pudar. Rasa nasionalisme dan solidaritas masyarakat Indonesia sebagai sebuah bangsa terancam dan semakin terkotak-kotak akibat 2 hal: pertama oleh afiliasi keagamaan, dan kedua semakin meningkatnya konsumerisme dan gaya hidup yang hedonis, tutur Baskara. Terkait persoalan kebangsaan ini, Baskara mengatakan bahwa pendidikan kewarganegaraan dan sejarah menjadi penting dan mendesak. Untuk itu diperlukan sinergi guru dan berbagai lembaga maupun komunitas yang concern pada isu-isu seperti ini.
Sarasehan yang dimoderatori oleh Andrew (kotakhitam) ini menghadirkan dua narasumber, yakni Bapak J. Sumardianta (Guru mata pelajaran Humaniora Kolese de Britto), dan Supriyadi (Fopperham). Menurut Sumardianta, guru harus berani keluar dari metode mengajar mainstream yang text book dan mulai melaksanakan metode pengajaran alternatif untuk membuat siswa semakin kritis dan mencintai sejarah. Sedangkan menurut Supriyadi, sejarah Indonesia terlalu banyak diwarnai oleh kontroversi. Ia menilai bahwa pemerintah dan pihak-pihak terkait belum mempunyai itikad baik untuk merevisi substansi pengajaran sejarah dan menjernihkan beberapa peristiwa sejarah. Supriyadi bahkan mengisahkan pengalamannya dulu sebagai murid. Ia mengaku bingung versi sejarah yang benar karena satu peristiwa bisa memiliki beberapa penjelasan yang berbeda. Kondisi ini menyebabkan para siswa menjadi bingung atas sejarah bangsa mereka sendiri.
Menanggapi apa yang disampaikan Sumardianta dan Supriyadi, Arifin (Guru SMA Muhammadiyah 4) menyampaikan gejolak pemikirannya berhubungan dengan pelajaran sejarah. Baginya pengajaran sejarah haruslah humanis dan tidak politis. Menurutnya siswa harus dirangsang untuk menganalisis dan menyampaikan pendapatnya atas pengalaman yang dirasakan. Saya misalnya menulis tentang Supersemar di salah satu koran lokal lalu memperbanyaknya dan kemudian meminta tanggapan para siswa, sambung Arifin. Sumardianta dan Supriyadi mengamini bahwa pengajaran sejarah memang harus aktual dan disesuaikan dengan zaman sehingga sejarah semakin menarik minat para siswa. Bagi mereka perlu ada banyak guru yang revolusioner dan kreatif seperti Pak Arifin agar pelajaran sejarah bisa lebih berkembang dan tidak membosankan.
Kegelisahan lain juga disampaikan oleh Pak Lilik (SMA Institut Indonesia). Ia mengatakan bahwa pendidikan yang ada di Indonesia serba sulit. Para guru sendiri berada dalam posisi yang tidak mudah, terutama berkaitan dengan silabus. Dengan silabus kreatifitas guru akan terhambat karena harus mengejar materi. Tapi kalau keluar dari silabus maka waktu akan habis sedangkan materi tidak akan selesai disampaikan. Waktu yang terbatas dan sistem yang mengungkung membuat guru dan siswa menjadi tidak kreatif dan inspiratif. Jadi jangan heran kalau rasa nasionalisme semakin surut karena pelajaran sejarah dibatasi 1 jam padahal banyak substansi yang perlu disampaikan, keluhnya.
Menyikapi ini, Sumardianta menyampaikan bahwa sudah bukan saatnya jika para guru terjebak pada kurikulum semata. Problem sejarah bukan hanya mencari metode mengajar yang tidak menjemukkan tetapi juga harus mengandung nilai-nilai substantif. Sedangkan Supriyadi mengatakan bahwa selain mengajarkan materi-materi yang berdasarkan kurikulum pemerintah, ada baiknya para guru juga memberikan referensi alternatif bagi para siswa sehingga semakin memperkaya pemikiran mereka. (Darwin)




