USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Ingatan Penderitaan Sebagai Jalan Alternatif Menuju Rekonsiliasi Bangsa: Pidato Kebudayaan PUSDEMA

diupdate: 4 tahun yang lalu



Pusat Kajian Demokrasi dan Hak-hak Asasi Manusia (PUSDEMA) USD menyelenggarakan Pidato Kebudayaan dengan tema “Ingatan Penderitaan Dalam Sastra Indonesia: Sebuah Jalan Alternatif Menuju Rekonsiliasi Bangsa.” Pidato Kebudayaan ini diselenggaakan dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI yang ke-77 secara daring melalui zoom dan YouTube. Pemidato dalam acara ini adalah Dr. Yoseph Yapi Taum (Magister Sastra USD). 

Direktur PUSDEMA, Romo Dr. Baskara Tulus Wardaya, SJ  dalam sambutannya menyampaikan, sudah 77 tahun Indonesia sebagai sebuah negara bangsa, sudah banyak yang telah diraih namun, kita masih perlu melihat tantangan yang harus dihadapi bersama, salah satu di antaranya adalah masalah penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi di masa lalu. Senada dengan Romo Baskara, Rektor USD, Romo Albertus Bagus Laksana, S.J., S.S., Ph.D., dalam sambutannya sembari mengutip filsuf Walter Benjamin menyampaikan bahwa sejarah maju ke depan, tapi malaikat sejarah melihat kebelakang. Refleksi dari Walter Benjamin ini penting untuk diingat  agar korban tidak dilindas dua kali oleh hal yang sama dan kisah dari korban-korban dari peristiwa terkait tidak terlupakan.



Dr. Yoseph Yapi Taum menyampaikan pidatonya yang berkaitan dengan penderitaan yang masih dirasakan bagi bangsa Indonesia, terutama pakibat ulah  kita sendiri. Salah satu penderitaan yang masih menemui jalan buntu dan kegalauan kultural adalah tugas besar menyelesaikan persoalan pelanggaran HAM berat di masa lalu. Indonesia memiliki sejarah konflik dan kekerasan masa lampau yang tidak sedikit. Pembunuhan Massal 1965, Penembakan Misterius 1982-1985, Peristiwa Penculikan Aktivis 1997-1998, adalah sebagian dari persoalan-persoalan tersebut. Hampir semua persoalan tersebut tidak diselesaikan dan tidak menemukan jalan rekonsiliasi. Oleh karenanya, dalam usaha mendorong rekonsiliasi, Dr. Yosep Yapi Taum mengajukan sebuah alternatif pemikiran melalui karya sastra. Karya sastra dipilih guna memberikan kesempatan kepada pembaca untuk menangkap makna kehidupan dalam bentuk narasi yang istimewa. Selain itu, karya-karya sastra juga dipandang selalu berbicara mengenai tema-tema kemanusiaan karena, sastra dan kemanusiaan berada di dalam sebuah bidang yang sama.

"Sastra dan kemanusiaan merupakan dua sisi dari satu mata uang. Tidak ada misi sastra yang lain selain menjadikan manusia semakin manusiawi. Karya sastra yang mengandung berbagai memoria passionis perlu semakin banyak disediakan dan diajarkan di sekolah-sekolah formal. Agar anak-anak Indonesia di masa depan mengenal dan memiliki literasi kemanusiaan sebagai generasi yang akan menjadi pemersatu bangsa Indonesia", tegasnya.
(MTK & TA)
 

  kembali