USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

"Menafsirkan Sejarah, Menegaskan Identitas" : Studium Generale Fakultas Teologi

diupdate: 4 tahun yang lalu


Jumat 19 Agustus 2022, Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma (USD) melaksanakan Studium Generale atau Kuliah Umum sebagai pembuka semester baru 2022/2023. Tema yang diangkat pada kuliah umum ini adalah “Menafsirkan Sejarah, Menegaskan Identitas” dengan narasumber Prof. Dr. A. Eddy Kristiyanto, OFM. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Aula Fakultas Teologi Wedabhakti USD dengan dihadiri oleh mahasiswa angkatan 2019 hingga angkatan 2021.

Prof. Dr. A. Eddy Kristiyanto, OFM dalam presentasinya berjudul “Menafsirkan Sejarah Reformasi 1998 di tengah tantangan politik identitas” menjelaskan ada banyak metode menafsirkan sejarah dan hal tersebut berhubungan dengan perkembangan ilmu sosial, filosofis-teologis. Apa pun metode menafsirkan sejarah, yang mutlak harus ada adalah: Sumber, waktu (periode, yang memudahkan kita melokalisasi dan memberikan batas-batas jangkauan; sert  pendekatan (sisi dan bagian mana yang disasar).



Menyinggung tentang Sejarah Refomasi 1998, Romo Eddy menyebutkan bahwa salah satu faktor yang turut membidani dan melahirkan Reformasi 1998 adalah kebobrokan moralitas bangsa, terutama pemimpin masyarakat yang mencari untung bagi diri dan kroninya dengan pembusukan (korupsi, kolusi, dan nepotisme). Pada gilirannya pembusukan itu menciptakan kesenjangan sosial dan ekonomi yang tidak terjembatani. Pembacaan ulang sejarah tidak pernah dimaksudkan berhenti pada kekaguman akan heroisme para reformator, namun selalu berarti pembentukan komunitas yang diperbarui terus-menerus dan disemangati oleh idealisme sosial-politik-ekonomi-budaya-religi. Romo Eddy juga menegaskan “jika kita tidak mengenali masalah-masalah fundamental dewasa ini, maka masa depan kita akan tetap menjadi teka-teki.

Berbicara tentang agama dan politik identitas, Romo Eddy masih meyakini ungkapan Wilhelm von Ketteler bahwa tanpa institusi agama dan hati nurani, maka tidak ada kesejahteraan bagi banyak orang. Romo Eddy berkeyakinan bahwa masalah sosial dan kemanusiaan menjadi titik temu yang mempersekutukan identitas kita sebagai manusia beragama. Masalahnya ada pada politik identitas yang justru tidak memberi tempat bagi keragaman identias untuk bertemu dalam ruang kolaboratif. Politik identitas yang hanya menawarkan kesempitan dan ketertutupan cara pandang, yang pada akhirnya berakibat pada individualisme dan kolektivisme yang brutal.

Menutup studi yang dijabarkan selama kurang lebih 90 menit, Romo Eddy menyampaikan, “sesungguhnya masa lalu yang sudah dilalui dan membentuk kita sendiri pun belum tersingkap sepenuhnya”.
 
(ABPH&DPM)

  kembali