USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Jejak Langkah Soegija Sang Pahlawan Nasional

diupdate: 5 tahun yang lalu




Kamis (17/2) TVRI Nasional menayangkan Jejak Langkah Uskup pertama pribumi Indonesia yaitu Mgr. Albertus Soegijapranata S.J. yang dikenal dengan nama Soegija. Tayangan acara yang berjudul “Jejak Langkah Soegija Sang Patriot: Seratus Persen Katolik, Seratus Persen Indonesia” tersebut menjelaskan Soegija lahir di Surakarta pada tanggal 25 November 1896. Nama Soegija diambil dari kata “sugih” yang berarti “kaya” dalam Bahasa Jawa. Soegija lahir dan besar di keluarga yang taat akan hukum Islam. Soegija pindah dari Surakarta ke Yogyakarta, menjadi putra dari Abdi Dalem Keraton, kemudian mengambil keputusan untuk keluar rumah untuk menjalani sekolah guru di Muntilan.

Di Muntilan, Soegija diminta oleh Pr. Frans Van Lith untuk bersekolah di sekolah Xaverius, Muntilan. Selama bersekolah di Xaverius, Soegija tertarik dengan agama Katolik dan pada 24 Desember 1910 Soegija dibaptis dengan nama baptis Albertus. Selepas Xaverius, Soegija memantapkan diri untuk menjadi Imam dan meneruskan pendidikan di Belanda. Soegija mulai berkarya menjadi guru di Xaverius pada 1926.

Tanggal 6 Oktober 1940, Soegijapranata diangkat sebagai Uskup Agung. Soegijapranata merupakan uskup pribumi Indonesia yang pertama, dikenal dengan pendiriannya yang pro nasionalis dalam jubah Uskup Agung. Namanya mulai dikenal sebagai tokoh nasional sekaligus Uskup Katolik dengan karya dan langkahnya dalam proses kemerdekaan. Mgr. Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo Pr. yang menjadi salah satu narasumber dalam acara TVRI tersebut mengutip alasan Soegija menjadi Imam: "Saya sudah berusaha memilih pekerjaan yang dapat memuliakan Tuhan dan bermakna untuk tanah air. Tidak ada satu profesi pun yang dapat membuat saya memuliakan Tuhan dan membela tanah air.” Api cinta tanah air itulah yang kemudian menjadi fondasi semboyannya yang populer: 100% Katolik, 100% Patriotik. Semangat tersebut tercermin dalam karya dan pelayanannya dalam Gereja Katolik tidak pernah jauh dari kedisiplinan dan budaya Jawa, meskipun pendidikan yang dienyamnya merupakan campur tangan Belanda. Instrumen gamelan dalam perayaan ekaristi, lahir dari ide dan semangat kebudayaan dari Soegija.

Dr. Baskara T. Wardaya, SJ sejarawan dari Universitas Sanata Dharma yang juga menjadi salah satu narasumber dalam tayangan TVRI tersebut menyampaikan ada tiga hal yang dapat digaris bawahi dari perjalanan Soegija. Pertama, beliau adalah orang Katolik yang tidak hanya berpikir mengenai keagamaan dan kejawaannya, tapi juga soal perjuangan bangsanya. Kedua, didikan model Belanda yang dienyamnya tidak menjadikannya pro-Belanda pada saat itu. Terakhir, beliau berjuang untuk Indonesia melalui tindakan nyata. Soegija tetap tegar dan pantang menyerah menghadapi ketidakadilan dalam wujud perang, bahkan ketika Jepang ingin menguasai gereja di Semarang, dengan tegas Soegija berkata, "Silahkan kamu kuasai kalau kamu berhasil membunuh saya."

Dalam keadaan krisis, Soegija adalah salah satu sosok yang berhasil menghubungkan Indonesia dengan negara-negara lain ketika Belanda sudah berusaha menutupi pendudukannya. Dengan bantuan salah satu peneliti Amerika yang pro Indonesia, tulisan Soegija berhasil dimuat di majalah Amerika sehingga menyingkap situasi kependudukan ke mata publik. Soegija berhasil meyakinkan Paus untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia dengan mengirimkan wakil untuk bertemu dengan Soekarno sebagai simbolnya. Melalui Vatikan, negara lain dengan mudah terpengaruh mengakui kemerdekaan Indonesia, hingga akhirnya mengantarkan sekutu kembali ke negara asal.

Soegija wafat pada tanggal 22 Juli 1963 di Steyl, Belanda di usia 66 tahun. Soegija meninggal akibat sakit yang dideritanya. Atas kehendak Soekarno yang tidak ingin Soegija dikebumikan di Belanda, jenazah Soegija diterbangkan ke tanah air dan disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Giri, Semarang sebagai Pahlawan Nasional.

(YAE & TBLTS)

  kembali