
Selasa (30/11), Pusat Penelitian dan Pelatihan Teologi Kontekstual Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma mengadakan webinar bulanan dengan tema “Memaknai Kembali Teologi Inkulturasi di Indonesia: Belajar dari Flores”. Kegiatan ini dibawakan oleh Suster Maria Dwi Saputri, OSU sebagai pembawa acara. Webinar ini bertujuan untuk mendiskusikan buku karangan Romo Emanuel Martasudjita, Pr. yang berjudul “Teologi Inkulturasi Perayaan Yesus Kristus di Bumi Indonesia” dan harapannya akan dilengkapi dengan pembahasan teologi inkulturasi dari perspektif wilayah Flores. Kegiatan ini dimulai pada pukul 16.00-19.00 WIB yang disiarkan secara langsung melalui aplikasi Zoom dan youtube TheoTalk Chanel. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber yaitu Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero Flores, Dr. Georg Kirchberger dan Dr. Bernardus Boli Ujan yang dimoderasi oleh Frater Petrus Pit Duka Karwayu, CMF.
Dr. Georg Kirchberger atau Pater Kir sebagai narasumber pertama mengungkapkan gagasannya tentang inkulturasi melalui aspek dimensi, dengan budaya tradisional Flores yang masih sangat kuat dipegang dan berpengaruh dalam tata ibadah umat. Pater Kir setuju dengan pandangan Romo Marta tentang sejarah inkulturasi teologi yang selalu ada dan berkembang sepanjang sejarah gereja dengan berbagai tahap refleksi atas iman dalam teologi. Pater Kir juga menjelaskan bahwa di wilayah Flores, kebiasaan umat dalam berkumpul selain bertujuan untuk mengembangkan iman masing-masing pribadi, tetapi juga untuk mengembangkan paroki serta umat sekitar. Selain itu, salah satu inkulturasi pada budaya di Flores yang masih terasa kuat adalah sifat pastoral atau kegiatan yang berfokus pada perintah pastoral. Pater Kir juga menyoroti tentang kendala inkulturasi saat ini, yaitu struktur sentralistik gereja katolik selain memiliki kelebihan, juga memiliki kelemahan.
Berbeda dengan Pater Kir, narasumber kedua yakni Pater Nardus Boli bertolak pada pembahasan inkulturasi dari aspek liturgi. Pater Nardus memberikan catatan kritis pada tulisan karya Romo Marta bahwa perlu adanya perumusan arti inkulturasi. Menurutnya, inkulturasi liturgi dimaknai sebagai suatu proses kontinu dalam Injil yang diungkapkan pada situasi sosial politik serta religius kultural. Pater Nardus menerangkan bahwa dalam aspek liturgi, ada perayaan iman yang dirasakan umat atas kehadiran Allah. Ia berpendapat bahwa bahasa dan ritus diperlukan dalam proses berinkulturasi di wilayah Flores untuk mengungkap identitas umat Allah sebagai Tubuh Mistik Kristus dari perayaan iman. Di akhir paparannya, Pater Nardus mengungkapkan harapannya bagi gereja di tengah tantangan modernisasi untuk dapat menyesuaikan diri dengan situasi sosial masyarakat setempat. Gereja diharapkan mampu mewadahi umat beriman dengan inkulturasi liturgi melalui beberapa bidang liturgi dan peribadatan.
Di akhir pemaparan gagasan, Dr. Agustinus Tri Edy W., Pr juga turut menyampaikan pesan dari Romo Martasudjita tentang pembahasan yang diangkat oleh dua narasumber dalam webinar ini. Romo Marta dalam pesannya menyampaikan apresiasi atas catatan kritis terkait penulisannya terlebih dari sudut pandang budaya Flores dan berharap agar gereja lokal semakin berkembang serta semakin diakui dalam proses inkulturasi.
(YBA & BF)




