USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Dr. Paulus Suparno, S.J., M.S.T. Raih Penghargaan Menteri Pendidikan Nasional

diupdate: 16 tahun yang lalu


Dr. Paulus Suparno, SJ, MST, menerima penghargaan Menteri Pendidikan Nasional sebagai pemenang pertama penulisan artikel pendidikan berjudul Character Development & National Building. Penghargaan ini diberikan dalam rangka peringatan hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2011. Dr. Paulus Suparno, SJ, MST, yang akrab dengan panggilan Romo Paul ini adalah dosen Pendidikan Fisika Universitas Sanata Dharma (USD) dan pernah menjabat sebagai Rektor USD. Pastur yang menyelesaikan studinya di Boston ini menuliskan artikelnya di The Jakarta Post, tanggal 23 Oktober 2010 yang lalu. Beliau menyoroti tentang aspek-aspek pendidikan karakter yang perlu dikembangkan supaya kita mampu menjadi bangsa yang kuat. Menurut Romo Paul, meskipun setiap sekolah memiliki kebebasan untuk memilih jenis nilai yang ingin ditekankan, harus ada  beberapa nilai yang sama dan diajarkan di seluruh sekolah di Indonesia. Setidaknya, ada enam nilai yang sangat penting untuk mendukung pembangunan bangsa Indonesia.
Yang pertama, nilai keragaman budaya. Indonesia terdiri atas banyak suku, agama, dan budaya. Tanpa mewujudkan dan menerima kebenaran ini, kita akan menjadi lemah sebagai bangsa. Semangat dari keragaman budaya dan keragaman agama akan mendorong semua orang untuk menerima orang lain sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Inilah semangat Bhineka Tunggal Ika: kita memang berbeda, tetapi tetap satu. Kita seringkali kehilangan semangat ini. Sebagian dari kita ingin memaksakan ide kepada yang lain.
Nilai kedua adalah kejujuran. Salah satu alasan penting mengapa korupsi sangat sulit diberantas di Indonesia adalah kurangnya kejujuran. Sebagian besar dari kita sudah tidak memiliki kejujuran lagi. Semangat kejujuran harus ditanamkan di sekolah. Mereka harus jujur saat mengerjakan tes dan ujian nasional.
Ketiga, belajar mematuhi hukum. Negara kita memiliki banyak masalah karena orang-orang tidak mematuhi hukum/peraturan. Kita memiliki banyak hukum atau undang-undang, tetapi banyak orang tidak suka mengikuti hukum. Kita tahu hukum, tapi kadang-kadang kita melanggar hukum. Bahkan orang-orang, yang mengetahui hukum mencoba untuk menghindari hukum. Kaum muda harus diajarkan bagaimana berperilaku sesuai dengan aturan hukum. Di setiap sekolah mereka memiliki aturan. Siswa harus belajar bagaimana untuk mematuhi aturan. Melakukan sesuatu menurut hukum sangat penting, terutama ketika kebanyakan orang tidak lagi memiliki nilai-nilai moral.
Keempat adalah keadilan. Bangsa dan negara kita akan menjadi kuat jika ada keadilan bagi semua orang di negeri ini. Ini berarti tidak ada diskriminasi oleh orang-orang yang menjabat sebagai pejabat dan pemerintah memperhatikan orang miskin ketika membuat keputusan dan rencana pembangunan. Untuk mempelajari tentang pentingnya keadilan, siswa harus dilatih tentang keadilan.
Kelima adalah empati untuk orang lain, terutama bagi masyarakat miskin/terpinggirkan. Era saat ini telah menyebabkan beberapa orang untuk hidup secara individualistik. Beberapa orang hanya memikirkan kehidupan dan keluarga mereka dan tidak berpikir tentang orang lain, khususnya masyarakat lemah. Bangsa ini akan menjadi kuat ketika seluruh rakyat Indonesia peduli satu sama lain sebagai satu keluarga. Semangat empati dan kepedulian harus diperkenalkan kepada kaum muda. Dengan demikian, kita berharap bahwa generasi berikutnya akan lebih peduli dan memiliki perhatian terhadap kehidupan orang lain.
Keenam adalah semangat juang. Di masa mendatang kita akan menemui lebih banyak tantangan, baik sebagai individu maupun sebagai bangsa. Kita perlu berjuang jika kita menginginkan kehidupan yang lebih baik. Semangat juang ini perlu ditanamkan kepada para siswa. Sekolah hendaknya membantu anak didiknya menjadi kreatif dan disiplin dalam hidup mereka.
Proses dan metode pengajaran nilai-nilai tersebut di atas bisa beraneka ragam. Tiap sekolah bebas untuk memilih dan mengembangkan sendiri metodenya. Tapi, menurut Romo Paul, nilai-nilai tersebut harus diajarkan secara holistik. Hal ini berarti bahwa semua sekolah, lingkungan belajar, aturan, para guru, karyawan, dan para siswa saling berbagi dan menghidupi nilai yang sama. Para guru akan mengajarkan nilai ini melalui kelas-kelas mereka dan sekolah akan dikelola berdasarkan nilai-nilai tersebut. Hal yang paling penting adalah siswa akan memiliki kesempatan untuk mencoba dan menggunakan nilai-nilai ini dalam situasi yang sesungguhnya. Proficiat buat Romo Paul. (BST)
 

  kembali