
Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma (USD) pada tanggal 23 Oktober 2021 menyelenggarakan webinar ke-2 dari 3 seri dalam rangkaian Lustrum ke-5 Fakultas Psikologi USD. Webinar ini mengangkat tema “Hidup Sehat dan Bahagia” dan berlangsung secara daring melalui aplikasi Zoom dan ditayangkan secara langsung di kanal Youtube Puskaloka Universitas Sanata Dharma. Webinar ini dimoderatori oleh Diana Permata Sari, S.Psi., M.Sc. dan diisi oleh dua narasumber, yaitu Dr. Aquilina Tanti Arini dengan subtema “Menghadapi ketidakpastian, Menjaga Kesehatan Jiwa Raga” dan Dr. Maria Laksmi Anantasari dengan subtema “Berwelas Asih, Kunci Kebahagiaan dalam Diri".
Dalam webinar seri ini, Dr. Aquilina Tanti Arini atau yang kerap disapa Ibu Tanti berpendapat bahwa situasi pandemi merupakan suatu situasi yang penuh dengan ketidakpastian. Situasi pandemi ini membuat kita mau tak mau dituntut siap dengan perubahan yang tidak dapat diprediksi. Situasi seperti ini dapat menimbulkan berbagai resiko, salah satunya tentu resiko penyakit. Resiko ini membuat situasi menjadi cemas sehingga muncul banyak pertanyaan-pertanyaan yang membuat batin gelisah. Kemudian resiko yang lainnya adalah resiko pendidikan. Dari keluarga yang kurang mampu, siswa atau anak-anaknya mempunyai kemungkinan besar untuk ketinggalan pelajaran karena kondisi orang tua yang kurang mampu membiayai pendidikan anak-anak. Tetapi di satu sisi, mayoritas orang semakin menyadari belajar bisa dimana saja dan bisa mengajar meskipun dengan standar yang berbeda-beda. Selain itu, ada pula resiko sosial yang berkaitan dengan relasi virtual diawal pandemi membuat banyak orang tidak nyaman dan menimbulkan kegelisahan apakah kedepannya akan berdampak pada kesehatan mental.
Situasi ketidakpastian berdampak pada psikologi, salah satunya adalah stress terutama bagi individu yang tingkat intolerance-nya tinggi karena mereka cenderung menilai situasi yang ambigu sebagai sebuah ancaman. Mengutip kalimat dari Dr. Aquilina Tanti Arini, “Dunia tidak pasti tapi orang butuh kepastian”. Hal ini memicu orang-orang membuat struktur untuk punya kendali dalam kehidupan ini terutama dalam menghadapi ancaman yang mana sikap mentalnya lebih ke sikap mental tapi tidak realistis, “Optimis tidak akan positif (Covid 19), optimis tidak akan kena musibah yang diakibatkan oleh Covid 19”, tutur Dr. Aquilina Tanti Arini. Optimisme tidak realistis ini dapa terjadi pada siapa saja terutama pada penderita penyakit kronis dengan alasan proteksi diri dan membayangkan diri kebal akan covid 19.
Tidak hanya berdampak pada psikis, tetapi juga pada fisik, seperti perilaku bunuh diri, terjadi kelalaian sehingga terjadi kecelakaan, memicu penyakit kronis, dan melemahkan sistem kekebalan tubuh. Untuk mencegah hal itu terjadi, individu dapat menerapkan beberapa hal, salah satunya yaitu communal coping atau dengan cara saling berbagi cerita dan bersama-sama melakukan tindakan mitigasi dengan orang sekitar kita. Hal ini dapat mengubah cara pandang kita dan menguatkan diri dimasa sulit. Dalam presentasinya, Dr. Aquilina Tanti Arini mengakhiri dengan kutipan kemauan dan kemampuan adaptasi kita dengan perubahan menjadi hal yang krusial dalam menjalani kehidupan ini, karena ketidakpastian adalah keniscayaan yang mana akan menjaga kita untuk bisa melalui berbagai kesulitan dengan bahagia dan juga sehat.
Di sisi lain Dr. Maria Laksmi Anantasari sebagai narasumber kedua ingin membagikan perspektif tentang welas asih terhadap diri sendiri terutama saat menghadapi masa-masa sulit. Dalam kesempatan webinar kali ini, Anantasari meminjam konsep Neff (2003) untuk membagikan pengertian welas asih terhadap diri sendiri (self-compassion), yakni sebuah sikap positif terhadap diri sendiri saat sedang menghadapi situasi sulit yang terwujud dalam sikap bela rasa terhadap diri, rasa sayang, simpati yang mendalam, bahkan penerimaan tanpa syarat terhadap diri. Memiliki rasa welas asih membuat individu cenderung tidak menghakimi diri atas kesulitan yang sedang dialami. Menyadari keadaan diri sedang sulit atau menyadari bahwa diri memiliki kekurangan memang tidak boleh diabaikan, akan tetapi welas asih mendorong diri kita untuk mampu menerima keadaan diri dan melakukan hal yang lebih baik serta memandang kesulitan yang dialami sebagai pemicu suatu pertumbuhan diri.
Welas asih diri menjadi penting bagi diri masing-masing karena membuat diri menjadi lebih menerima keadaan sulit sehingga mampu untuk semakin cepat bangkit atau resilien dan menuju pemulihan serta pertumbuhan. Saat diri mampu bersikap baik pada diri sendiri, perasaan dan pikiran menjadi lebih jernih sehingga tindakan yang diambil lebih tepat. Selain itu, welas asih juga memberikan kekuatan untuk mempertahankan tujuan dan memiliki harapan bahwa kesulitan yang dialami tidak dilalui seorang diri dan ada rasa kebersamaan. Saat kita mampu untuk bersikap baik dan menolong orang lain di masa sulit, hendaknya kita juga mampu bersikap demikian pada diri sendiri. Topik Welas Asih Diri yang dibahas dalam webinar ini ingin memberikan pesan refleksi bagi diri apakah kita sudah memiliki welas asih diri di saat mengalami keadaan sulit. Pemaparan narasumber kedua ditutup dengan pesan “merawat diri, mengasihi diri, merupakan salah satu wujud tanggung jawab kita kepada Pencipta atas jiwa, raga, dan hidup yang Ia percayakan”.
(ASB & TMG)




