Peringatan puncak Dies Natalis Fakultas Sastra USD digelar di Ruang Koenjono Gedung Pusat Kampus II Mrican Jumat (6/5/11) dengan seminar bertajuk "Kajian Budaya Dalam Konteks Glokalisasi". Seminar dalam dua sesi ini menghadirkan pembicara Dr. St. Sunardi, Lic (PPS Ilmu Religi Budaya USD ), Drs. Albertus Budi Susanto, SJ (PPS Ilmu Religi Budaya USD), Drs. Hery Antono, M.Hum. (Sastra Indonesia FS USD), Drs. Heribertus Hery Santoso, M.Hum. (Ilmu Sejarah FS USDI), dan Tatang Iskarna, SS, M.Hum. (Sastra Inggris FS USD). Dari seminar ini dapat ditarik benang merah bahwa kekuatan globalisasi sungguh meminggirkan keberadaan lokalitas masyarakat Indonesia. Untuk itu diperlukan sebuah sikap yang konsisten dalam berbagai bentuk baik itu cara berpikir dan apresiasi yang semuanya merupakan tugas kebudayaan bagi masyarakat Indonesia. Seminar yang dihadiri oleh sekitar 250 mahasiswa, dosen, alumni, dan relasi Fakultas Sastra USD ini dibuka oleh Rektor USD Dr. P. Wiryono Priyotamtama, SJ, Dekan FS USD Dr. I. Ppaptomo Baryadi, dan Dra. B. Ria Lestari, MS.
Dengan judul "Mencari Logika Budaya di Pinggiran Kapitalisme Global", St. Sunardi mengasumsikan bahwa kita sekarang berada dalam masyarakat kapitalis global yang meminggirkan kita. Globalisasi menjadi pusat dan ada hirarki kekuasaan. Menurut St. Sunardi wajah dunia sekarang sangat dipengaruhi oleh eknoomi global yang merupakan kekuatan globalisasi neoliberal. Berbicara budaya tidak akan pernah terlepas dari persoalan ekonomi. Dan, kebudayaan Indonesia berada di wilayah pinggiran. Pusat globalisasi adalah Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Korea, bahkan sekarang China dan India. Budaya yang terkait dengan ekonomi global yang menjalar saat ini adalah budaya konsumsi dan budaya anak muda. Terkait dengan kajian Indonesia Sunardi menegaskan, "Dalam situasi seperti ini kajian budaya Indonesia sebaiknya ditempatkan pada sebuah situasi di mana pengetahuan tentang budaya tidak hanya lewat budaya yang dipasarkan. Kajian kawasan harus dibarengi dengan kajian sastra supaya memiliki representasi yang adil. Sementara kajian tentang sejarah harus dikaitkan dengan ke-Indonesiaan yang lebih besar dan adil."
Sementara itu Albertus Budi Susanto, SJ dalam makalahnya "Menyurat P(em) andangan Budaya Sastra" mempertanyakan apakah masyarakat modern dalam dunia global yang diperlengkapi dengan facebook, twitter, atau internet masih memerlukan dan menggunakan teks dan naskah sastra . Teknologi modern masa kini bisa dikonsumsi tanpa kejelian akan justru meninabobokkan dan menunda usaha dan tindakan untuk memperjuangkan skenario kehidupan bersama yang lebih adil dan manusiawi.
Dalam sesi kedua, Hery Santosa dalam makalahnya "Rekonstruksi Ideal Nasionalisme Indonesia Melalui Apresiasi Budaya Lokal" menekankan pentingnya mengubah perilaku mengobarkan nasionalisme dengan menunjukkan kesadaran akan pentingnya persatuan bangsa di atas kepentingan suku, etnik, golongan, dan kelompok serta penghapusan segala bentuk ketidakadilan dan penindasan. Selain itu perlu juga digali nilai-nilai budaya lokal dengan memfungsikan dan mengintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pemakalah Hery Antono mencermati ternyata penggunaan Bahasa Indonesia dalam kancah globalisasi dapat menemukan berbagai variasi perwujudan. Ada penerimaan, dan ada keterikatan dengan konteks lokal. Tatang Iskarna menyoroti perkembangan istilah glokalisasi serta penerapannya sebagai strategi pelestarian budaya lokal. Menurut Tatang bentuk budaya global berasal dari lokal tetapi berkat kreativitas dan pengkomunikasian dan pengintegrasian dengan komoditas dan produksi, budaya lokal justru terselamatkan. Demikian paparan Tatang dalam "Glokalisasi sebagai Proses Pelestarian Eksistensi Budaya Lokal: Reinvensi, Kreasi, dan PR-ing". (Tti)




