Bertempat di Ruang Driyarkara Gedung Pusat Kampus 2 Universitas Sanata Dharma (USD) pada hari Sabtu (30/4) menyelenggarakan Workshop Anggur Misa, diikuti seratusan orang dari berbagai kota. Acara ini membahas bagaimana memberdayakan masyarakat (kecil) Indonesia khususnya dalam bidang produksi anggur minuman untuk konsumsi Misa.
Hadir sebagai pembicara dalam workshop ini, Romo Clay (ATMI), Yuda Samodra (ATMI), dan Deasy Irawan (Unika Sugijapranata). Dalam sambutan pembukaannya, Rektor USD, Dr. Ir. Wiryono Priyotamtama, S.J. menyampaikan bahwa gagasan memproduksi anggur misa sudah beberapa saat dilontarkan. Untuk itulah Sanata Dharma mengambil peran strategis untuk mendaratkan gagasan yang masih di awang-awang ini.
Sebagai keynote speaker, Romo Monsinyur Sunarko menyampaikan bahwa saat ini dunia mengalami penipisan transendental kehidupan manusia. Dunia menjadi makin sekuler. Hal ini diperparah dengan adanya tsunami informasi yang mengacaubalaukan kehidupan manusia baik tua-muda, miskin-kaya, maupun elit-sederhana. Adanya penemuan baru yang tidak terantisipasi sebelumnya juga menjadikan permasalahan semakin kompleks. Dalam keadaan seperti ini, apa yang dapat kita lakukan? Bagaimana kita mampu meng-inkulturasikan iman Kristiani kita sehingga mampu membumi, mengudara, mengair, dan mengapi di tengah masyarakat Indonesia? Bagaimana kita mengkontekskan preferential option for the poor? Anggur Misa yang sampai saat ini berasal dari luar negeri rupanya dapat menjadi inspirasi untuk memberdayakan orang miskin dan gereja partikular. Namun hal ini perlu memperhatikan pengalaman/studi yang dilakukan sejak jaman Belanda, bahwa daerah yang cocok untuk menanam anggur adalah wilayah Probolinggo ke timur.
Kesepakatan yang dicapai dalam workshop ini adalah: perlunya studi visibility tiga tahun untuk budidaya anggur, teknologi, produksi, dan lain-lain. Kesepakatan ini juga akan mengusulkan penggunaan buah alternatif yaitu Jaboticaba (anggur Brazil) yang telah digunakan untuk misa di Brazil selain anggur merah (vitis vinifera). Hal ketiga hasil kesepakatan adalah proses makloon, mengingat di Indonesia sudah ada 69 pabrik yang memproduksi minuman anggur. Akhirnya, perlu adanya kerjasama beberapa pihak untuk menjamin keberhasilan ini. USD akan berperan sebagai fasilitator, Unika Sugijapranata menggawangi teknologi produksi, ATMI menyediakan sarana produksi, dan keuskupan mengerakkan para petani anggur dalam usaha rintisan budidaya. (bst)




