USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Diskusi Lintas Iman: "Meneladan Dialog St. Fransiskus Assisi"

diupdate: 7 tahun yang lalu



Campus Ministry Universitas Sanata Dharma (USD) pada hari Jumat, 11 Oktober 2019 menyelenggarakan sebuah diskusi lintas iman dalam rangka peringatan Pesta St. Fransiskus Assisi (peringatan St. Fransiskus Assisi sebenarnya jatuh pada tanggal 4 Oktober). Diskusi ini mengambil tema "Meneladan Dialog Santo Fransiskus Assisi" dengan pembicara Mas Ahmad Shalahuddin dari Youth Interfaith Peace Community (YIPC) Yogyakarta dan Romo Heri Setyawan dosen program studi Sejarah USD. Diskusi terbuka untuk umum, secara khusus bagi para mahasiswa yang tergabung dalam komunitas kerohanian kampus. Akan tetapi dalam pelaksanaannya, umat lingkungan di sekitar Kampus III USD Paingan, dosen, dan mahasiswa dari luar USD juga tertarik mendalami semangat St. Fransiskus Assisi tersebut.

Dalam diskusi kali ini, Campus Ministry USD secara khusus mendiskusikan perjumpaan sang Santo dengan Sultan Malik al-Kamil di tengah-tengah Perang Salib yang berkobar dan menelan banyak korban. Di dalam perjumpaan itu, dua tokoh peserta diajak untuk memahami bahwa mereka adalah orang yang sama-sama beriman, sehingga mereka berani saling menyatakan diri sebagai sesama orang beriman. Di samping itu, sang Santo dan Sultan ini adalah contohyang sangat baik bagi orang-orang di zaman ini untuk berani terbuka sekaligus merangkul orang lain yang seringkali sudah mendapat label negatif.

Mengawali dialog, Mas Ahmad menjelaskan terlebih dahulu mengenai sosok Sultan Malik al-Kamil yang memang masih asing bagi sebagian kalangan, terutama di kalangan peserta yang Katolik. Lebih lanjut, Mas Ahmad menceritakan tentang kronologi terjadinya perjumpaan dan dialog antara Sultan Malik al-Kamil dengan Santo Fransiskus dari Assisi. Berdasarkan peristiwa itu, Mas Ahmad menjelaskan perkembangan dialog yang terjadi, secara khusus antara kelompok Nasrani dengan kelompok Islam, mulai dari Dokumen Gereja Nostra Aetate, A Common Word, dan yang terakhir adalah Document on Human Fraternity for World Peace and Living Together yang ditandatangani oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Muhammad Ahmad At-Tayyeb dalam rangka peringatan 800 tahun perjumpaan Sultan dan Santo Fransiskus. Mengakhiri penjelasannya, Mas Ahmad menyampaikan pesan bahwa generasi ini dan yang akan datang harus mengakui jika kita memiliki sejarah yang berdarah-darah, oleh karena itu kita memiliki tantangan untuk mengupayakan agar sejarah kelam itu tidak terulang kembali. Tentu saja, baik adanya jika dialog antara Sultan Malik al-Kamil dan Santo Fransiskus Assisi ini terus dibagikan sebagai pengingat bagi orang banyak.

Sementara itu, Romo Heri, yang pernah menempuh pendidikan di Mesir, melengkapi penjelasan Mas Ahmad terkait latar belakang pertemuan dua tokoh di masa Perang Salib ini. Secara khusus, Romo Heri memberi sedikit penjelasan mengenai sosok Santo Fransiskus Assisi. Perjumpaan Santo Fransiskus Assisi dengan sang Sultan memberi kesan tersendiri baginya, terlebih semangatnya untuk membagikan cinta kasih untuk semua orang semakin berkobar. Buah dari perjumpaan itu adalah doa “Jadikanlah Aku Pembawa Damai” yang disusun oleh Santo Fransiskus Assisi sendiri. Menindaklanjuti pernyataan Mas Ahmad terkait Dokumen Gereja, Romo Heri memberi penjelasan lebih jauh tentang Nostra Aetate sekaligus juga menjadi pesan bagi kita untuk diwujudnyatakan di kehidupan sehari-hari. Salah satu poin yang dikutip Romo dari Dokumen Nostra Aetate adalah: “Maka Gereja mendorong para puteranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan para penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta perihidup kristiani, mengakui, memelihara dan mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya, yang terdapat pada mereka”.

Diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Kemudian, acara ditutup dengan pemberian kenang-kenangan bagi pembicara dan makan malam bersama. Harapannya, acara ini menjadi salah satu sarana untuk membuka ruang dialog bagi kelompok-kelompok yang memiliki perbedaan latar belakang sekaligus memberi inspirasi, khususnya bagi mahasiswa USD agar mau menyuarakan perdamaian bagi siapapun.

(MCM)

  kembali