USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Service Learning Program 2019: Koneksi Agen Perdamaian Asia Pasifik

diupdate: 7 tahun yang lalu



The Association of Jesuit Colleges and Universities-Asia Pacific (AJCU-AP) pada tanggal 4-22 Agustus 2019 menghelat Service Learning Program (SLP) 2019 di Ateneo de Davao University, Davao City, Filipina. Universitas Sanata Dharma (USD) mengirimkan 7 mahasiswa dan seorang dosen pendamping sebagai delegasi untuk mengikuti SLP 2019 yang bertema “Reconciliation Within Humanity: Peacebuilding Journey of the Peoples of Mindanao, Philippines”tersebut. Ketujuh mahasiswa itu adalah Stephanie Permata Putri dan Angel Brigellia (Sastra Inggris), Theresia Marsha Prawatya (Pendidikan Bahasa Inggris), Monica Crismacentia Vianny (Teknik Elektro), Andi Suryadi (Ekonomi), Agnes Sinta Dewi Tyas Utami (Psikologi), dan Valentina Yohana Senduk (Teknik Informatika), serta Andreas Erwin Prasetya, M.Pd., dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) sebagai pendamping.

Sebelum bertolak ke Filipina, delegasi dibekali materi orientasi dan pematangan diri oleh tim pembina SLP 2019 yang beranggotakan Yurisdixta Menavia, S.S., (Kepala Biro Kerjasama Hubungan Internasional/BKHI), Retno Herrani Setyati Catarina, M.Biotech., (dosen Prodi Pendidikan Biologi), Hery Setyawan S.J., S.S., M.A., (dosen Prodi  Sejarah), dan Albertus Harimurti, S.Psi., M.Hum. (dosen Prodi Psikologi). Selain pengetahuan umum, para delegasi juga didampingi dalam proses mempersiapkan university presentation dan cultural performance.

Valen, delegasi dari Prodi Teknik Informatika, menuturkan bahwa SLP 2019 memungkinkan ia dan peserta lainnya untuk bertukar pikiran dengan teman-teman dengan beragam latar belakang. Para peserta juga bisa belajar mengenai persoalan perdamaian sembari bermimpi bersama soal dunia yang lebih baik. Kegiatan SLP 2019 mencoba untuk menghubungkan kekayaan intelektual dari konten materi di kelas dengan pusparagam pengalaman langsung di tengah masyarakat. Setelah kegiatan pendalaman materi tentang Understanding the Spirit of GC 36 dan Fireside Chat on Mindanao History, para peserta berkesempatan untuk hidup bersama komunitas masyarakat Suku Talaandig.  Selain itu, SLP juga menyediakan jejaring dan pertukaran budaya internasional bagi seluruh delegasi, baik mahasiswa maupun pendamping. Seluruh delegasi diajak mengikuti parade jalanan, yakni festival Kadayawan,  dan memahami konsep perdamaian melalui seni bersama Kaliwat Performing Arts Collective.

Vianny, delegasi dari Prodi Teknik Elektro menuturkan, “SLP menjadi sebuah pengalaman luar biasa yang menuntut saya lebih percaya diri dalam berkomunikasi, terutama berinteraksi dengan delegasi dari negara lain. Selain itu, pemikiran kritis pun diasah untuk memutuskan sesuatu dengan bijak, cepat dan tepat.” Peningkatan kompetensi dan perubahan diri berdasarkan pengalaman belajar langsung dari pelayanan terhadap masyarakat dan implementasi Spiritualitas Ignasian sejatinya merupakan tujuan yang ingin dicapai melalui SLP 2019 dalam setiap individu peserta SLP 2019. “Saya merasa sangat senang dan bersyukur bisa mengikuti AJCU-AP SLP 2019. Saya mendapat banyak pengetahuan, belajar hal-hal baru, dan pertukaran budaya sehingga menjadi momen yang menakjubkan, mengagumkan dan mengesankan,” tandas Angel, delegasi dari Prodi Sastra Inggris.

Selama 18 hari di Filipina, delegasi USD bersama dengan 29 orang delegasi dari Sophia University (Jepang), Sogang University (Korea Selatan), The University of Hong Kong-Ricci Hall (Hong Kong), Instituto São João de Brito (Timor Leste), Ateneo de Manila University, Ateneo de Davao University, Ateneo de Zamboanga dan Xavier University (Filipina), Xavier Learning Community (Thailand) terlibat dalam model pelatihan interaktif (interactive workshop) yang dikemas seturut format pendidikan Ignasian. “SLP mengajari untuk melihat sesuatu dari perspektif berbeda. Bertemu dengan delegasi dari negara lain, berbagi cerita dan berdiskusi dalam bingkai multikultural mengasah kemampuan untuk lebih memahami orang lain,” ujar Sinta, delegasi Prodi Psikologi. Setiap pribadi delegasi diundang untuk proaktif membenturkan gagasan dan kultur agar terbentuk manusia sejati yang mampu menjadi sahabat bagi sesamanya.

Menurut Marsha delegasi Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, “SLP adalah wadah integrasi wawasan dan pelayanan kepada masyarakat yang mampu mentransformasi kehidupan saya”. Para delegasi mengejewantahkan energi kreatif-positif dalam kemampuan mendengarkan dan berbagi selama proses memahami konten materi pembelajaran, visitasi dan bersua komunitas, tinggal bersama masyarakat dan melakukan refleksi untuk mendalami realitas. Penyelenggara telah mengorganisir waktu khusus untuk bertemu komunitas yang bergerak dalam bidang perdamaian, seperti Coffee for Peace dan Madaris Volunteers. Andi, delegasi Prodi Ekonomi menambahkan bahwa, “SLP merupakan arena para pemimpin masa depan untuk memproduksi gagasan kontekstual yang merupakan hasil pemikiran kritis dan sensibilitas akademik terhadap problematika di masyarakat”.

“Terima kasih sudah memfasilitasi dan membentuk kami menjadi pribadi yang baru.” jelas Tata delegasi dari Prodi Sastra Inggris sebagai cerminan syukurnya. Tugas besar menciptakan perdamaian dunia, dimulai dari perdamaian dalam diri setiap insan itu sendiri. Sebagai pendamping, Andreas Erwin Prasetya, M.Pd. menegaskan bahwa “belajar dengan melakukan hal baru dengan teman baru, situasi baru, dan budaya baru adalah saat yang paling baik untuk kembali melihat ke dalam diri masing-masing tentang peran kita di dalam masyarakat. SLP kali ini menjadi trigger yang sangat baik bagi mahasiswa dan saya sendiri untuk kembali menilik posisi dan peran kita dalam tugas sebagai pendidik”.

(AS)

  kembali