
“Di sana pulauku yang kupuja s’lalu, Tanah Papua pulau indah, hutan dan lautmu yang membisu s’lalu, cendrawasih burung emas..”. Dengan penuh rasa syukur, seluruh residen matrikulasi, mahasiswa Universitas Sanata Dharma (USD) asal Kabupaten Mappi, Papua memejamkan mata ketika melantunkan lagu yang berjudul “Tanah Papua” yang dipopulerkan oleh Trio Ambisi untuk mengawali kegiatan rekoleksi bulanan yang bertempat di Sanata Dharma Student Residence.
Rekoleksi bulanan tersebut merupakan kegiatan yang diselenggarakan sekali tiap akhir bulan untuk menfasilitasi residen matrikulasi merefleksikan berbagai kenangan dan pengalaman hidup yang telah dilaluinya selama sebulan penuh sekaligus mewadahi mereka untuk menjadikan pengalaman tersebut sebagai senjata untuk terus melangkah maju menuju masa depan yang penuh tantangan, butuh inovatif, dan kreativitas.
Kegiatan rekoleksi kali ini diadakan pada hari Sabtu 30 Maret 2019, dengan tema “Berburu Ilmu dan Menokok Masa Depan” dengan pemateri yakni Fr. Steven Mause, Pr. Beliau berasal dari suku Marin, Merauke. Selama kurang lebih 2 tahun beliau mengabdikan diri untuk melayani umat di Kabupaten Mappi baik dalam bidang kerohanian maupun pendidikan agama di sekolah. Melalui kegiatan rekoleksi, Frater Stev menyampaikan bahwa ada dua rahmat yang diperlukan untuk memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan dan terus merajut masa depan yang lebih baik yaitu ketekunan untuk belajar dan keberanian untuk berbuat baik. Dengan tekun belajar maka akan membuahkan keberhasilan dan dengan keberanian berbuat baik maka akan mendapat balasan yang setimpal yaitu kebaikan.
Kegiatan rekoleksi ini sangat unik dibandingkan kegiatan serupa yang telah dilaksanakan pada bulan-bulan sebelumnya. Di mana, seluruh residen matrikulasi yang terbagi menjadi 4 kelas yaitu kelas A, B, C, dan D diajak untuk menemukan kembali motivasinya untuk tetap tekun belajar dan berani berbuat baik dengan menghadirkan kearifan lokal dari daerah mappi tentang teknik memasak makanan (segi rasa dan pengolahannya). Setiap kelas sehari sebelumnya telah merundingkan jenis makanan yang akan disajikan. Kelas A yang diketuai oleh Silwanus, bersepakat untuk menyajikan berbagai jenis makanan seperti ikan bakar, ikan kuah asam, sayur papaya campur kangkung dan bunga papaya. Kelas B yang diketuai oleh Oktovina memilih untuk menyajikan ikan bakar, ikan kuah asam, pisang rebus, dan tumis daun singkong campur bunga papaya. Kelas C yang diketuai oleh Yohanes memilih untuk menyajikan ikan bakar, singkong rebus dan ubi rambat, dan tumis daun kangkung. Sementara Kelas D yang diketuai oleh Sarina memilih untuk menyajikan ikan goreng sambel tomat, ubi bakar, dan tumis daun kangkung campur bunga papaya.
Selama kegiatan memasak berlangsung, seluruh residen sangat antusias untuk bekerjasama menuntaskan misi memasaknya. Ada yang bertugas menyiapkan bumbu, membersihkan bahan makanan serta ada juga yang bertugas menyiapkan tungku untuk memasak. Setiap residen turut mengambil bagian dan menjadikan kegiatan tersebut sebagai sarana belajar untuk memasak makanan dengan cara yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Salah satu cara memasak paling unik dilakukan oleh Kelas D. Mereka membakar ubi jalar dengan cara yang mereka sebut “Bakar Batu”. Pada masing-masing tempat/suku, kegiatan Bakar Batu dikenal dengan berbagai nama antara lain Gapiia (Paniai), Kit Oba Isogoa (Wamena), atau Barapen (Jayawijaya). Berdasarkan teknik tersebut, ubi jalar tidak dibakar pada bara api melainkan pada batu yang telah dibakar. Mula-mula batu ditumpuk di atas perapian dan dibakar sampai kayu bakar habis terbakar dan batu menjadi panas (kadang sampai merah membara). Setelah panas, daun pisang ditumpuk diatas batu sebagai alas untuk meletakkan ubi jalar yang telah dibersihkan, kemudian ubi jalar ditutupi lagi menggunakkan daun-daun lain seperti daun talas, bisa juga dengan daun lain yang tidak beracun. Teknik memasak ini sempat membuat beberapa residen dari kelas lain menjadi kagum, merasa aneh dan mengakui tidak tahu cara memasak tersebut meskipun mereka berasal dari kabupaten yang sama. Berkat kemauan mereka untuk belajar dan membantu kelas D, meskipun mereka berbeda kelas, merekapun menjadi semakin paham bagaimana cara membakar ubi dengan cara “Bakar Batu”.
Setelah kegiatan masak-memasak selesai, seluruh residen matrikulasi berkumpul kembali untuk mendengarkan materi
penutup. Fr. Steven menyampaikan pesan kepada seluruh residen untuk mengingat kembali motivasi dan tujuan mereka datang ke Universitas Sanata Dharma, tidak lain yaitu menjadi kebanggaaan dan menjadi agen pembawa kemajuan daerah Mappi. Kegiatan kemudian ditutup dengan doa penutup sekaligus doa makan. Sebelum menyantap sajian makanan yang telah disediakan, seluruh residen bersama dengan Fr. Steve, suster, pamong, dan asisten pamong menari bersama sebagai bentuk ungkapan syukur atas kelancaran kegiatan rekoleksi bulan Maret. Tak lupa juga, residen matrikulasi berbagi kebaikan dengan berbagi makanan yang telah dimasak bersama dengan seluruh staf dan karyawan yang sedang bertugas di Sanata Dharma Student Residence.
(BL)




