"Rabu Abu adalah permulaan Masa Prapaskah, yaitu masa mengenali kerapuhan kita dan masa pertobatan guna mempersiapkan diri untuk Kebangkitan Kristus dan Penebusan dosa kita", demikian disampaikan oleh Romo Paulus Bambang Irawan, S.J. saat membuka Perayaan Ekaristi Penerimaan Abu di Kapel Kampus USD Mrican, Rabu (9/3). Perayaan Ekaristi Penerimaan Abu ini dihadiri oleh segenap civitas akademika USD dan umat di sekitar Kampus USD Mrican.
Seperti ditulis sebagai Kata Pembukaan dalam buku teks Perayaan Ekaristi: "Menaruh abu di kepala dan berpuasa merupakan tanda bertobat. Orang berdosa mau mengungkapkan penyesalannya dan mohon belas kasih Tuhan. Ia mau bertobat, mau menaruh cinta kasih kepada Tuhan dan sesamanya. Bila dahi kita ditandai dengan abu pada permulaan masa Prapaska, maka kita mengakui bahwa kita berdosa, tapi kita mau bertobat dan mohon ampun kepada Tuhan. Iman kita akan Sabda Tuhan membawa kita menerjang maut menuju hidup yang kekal bersama Tuhan."
Dalam homilinya, Romo Bambang mengajak kita untuk menjalani Retret. Retret itu semacam penyegaran jiwa, tujuannya agar kita dapat meluangkan waktu untuk memikirkan dan mendengarkan Tuhan. Kita boleh menganggap Masa Prapaskah ini sebagai suatu Retret Agung selama 40 hari. Di sinilah peran Masa Prapaskah, yaitu membangun karakter yang kuat. Hidup di jaman teknologi maju dan serba modern ini, mampukah kita memanfaatkan teknologi maju dan modern itu sebagai sarana bukan tujuan, bisa mengatur yang mana sarana dan yang mana tujuan.
Sementara itu, Perayaan Ekaristi Penerimaan Abu di kampus III Paingan dipimpin Romo Frans Susilo, S.J. Lebih dari 600 orang hadir dalam misa ini. Ruang hall Kampus Painganpun sampai tidak mampu menampung mahasiswa, karyawan, dan dosen yang mengikuti ibadah.
Dalam homilinya, Romo Susilo menyampaikan bahwa masa pra paskah adalah suatu anugerah. Umat mendapat kesempatan untuk mawas diri dan bertobat, meluruskan langkah dan jalan hidup kita sehari-hari agar makin sesuai dengan ajaran Kristus. Melalui tema "Inilah Orang Katolik Yang Sejati", umat diajak berefleksi, sejauh mana mereka mewujudkan hidup dan tindakan mereka, sehingga mereka dapat disebut orang Katolik sejati. Orang Katolik sejati bukanlah sekedar baptis Katolik, KTP Katolik, ataupun tiap minggu ke gereja, tetapi seperti isi surat gembala Bapa Uskup Agung yaitu: orang yang melakukan kehendak Allah, melalui sabda Allah yang ada dalam Alkitab. Allah meminta kita untuk memaafkan tanpa batas. Apakah kita dapat melakukannya? Allah meminta kita mencintai sesama kita. Pertanyaannya, siapa sajakah orang yang kita cintai? Apakah orang yang menguntungkan kita? Atau justru orang yang membenci dan menyusahkan kita? Intisari pantang bukanlah sekedar makanan, tetapi mati raga, menumbuhkan semangat mengabdi dan melayani, sehingga menghasilkan buah yang berlimpah. Orang Katolik sejati didorong untuk unggul dalam segala hal yang dipelajari, memiliki ketajaman hati untuk mampu merasa sehingga tergerak untuk bersolidaritas, serta memiliki kehendak untuk berbelarasa kepada dunia dan sesama. (BST/atk)




