USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Sarasehan Politik dan Kebangsaan Mahasiswa: "DEMOKRASI, Antara Idealisme dan Realitas"

diupdate: 8 tahun yang lalu



Universitas Sanata Dharma (USD) melalui Campus Ministry (CM) pada tanggal 12 Maret 2019 mengadakan “Sarasehan Politik dan Kebangsaan Mahasiswa” dengan tema “DEMOKRASI, Antara Idealisme dan Realitas”, bertempat di Pusat Pastoral Mahasiswa Yogyakarta. Kegiatan ini diadakan sebagai bentuk lanjutan dari Kelas Spiritual Ignasian, “Beriman: Berpolitik Secara Kritis”, yang telah dilaksanakan di Pusat Studi Lingkungan USD, Jumat (1/3).

Asal mula kegiatan yang sudah berlangsung dua agenda ini berasal dari sebuah kelompok belajar CMyang bernama Ignasian Study Club. Salah satu koordinator pelaksana kegiatan, Gigih Adiguna menyebutkan bahwa kelompok ini adalah sharing hasil diskusi kepada Kepala CM, Antonius Febri Harsanto, S.Sos. dan Wakil Rektor III USD, Romo Paulus Bambang Irawan, SJ, S.T.D., kemudian memunculkan ide untuk memberikan pendidikan politik untuk mahasiswa.

Sarasehan ini kembali mendatangkan Romo H. Angga Indraswara, SJ, yang merupakan dosen Program Studi Ekonomi USD, sebagai pembicara tetap. F.X. Harry Cahya, Host Dialog Kebangsaan RRI Pro-1, juga didatangkan sebagai pembicara pada sarasehan kali ini.

Sarasehan dimulai dengan penyampaian materi oleh Romo Angga. Dalam papernya yang berjudul “Demokrasi: Kisah Pembebasan Manusia”, Romo Angga mencatat: “Kebebasan adalah aspek manusia yang paling distingsif. Tanpa kebebasan, manusia tidak sepenuhnya menjadi manusia.” Dalam konteks hidup bernegara, kebebasan manusia pun ditentukan oleh sistem politik yang berlaku. “Dengan segala persoalannya, demokrasi tetap merupakan satu-satunya sistem politik yang mengakui dan melindungi kesetaraan setiap warga negara dalam menyatakan pilihan bebasnya.” catatan lanjut Romo Angga.

Indonesia yang sedang mempersiapkan Pemilihan Umum (Pemilu) secara serentak pada 17 April 2019 menggugah akal budi dan suara hati mahasiswa-mahasiswi untuk mempertahankan demokrasi. “Dalam Pemilu kali ini, kelangsungan demokrasilah yang dipertaruhkan. Persoalannya bukan saja kehadiran kekuatan-kekuatan politis yang mengancam demokrasi, melainkan juga bagaimana kedua kubu saling menyerang tanpa ampun di media sosial dan ruang publik’” catat Romo Angga. “Situasi panas ini jelas memperlihatkan bahwa sesudah Pemilu, bangsa ini perlu menempuh perjalanan panjang merajut kembali persatuan.” catatan lanjut RomoAngga.

Mahasiswa-mahasiswi digugat kesadarannya bahwa Pemilu kali ini adalah kesempatan bagi mereka untuk ambil bagian dalam menentukan bagaimana kelangsungan persatuan bangsa Indonesia yang tetap mempertahankan kebebasan manusia. “Pilihlah partai-partai dan politisi-politisi yang Anda yakini dapat merawat masa depan demokrasi di Indonesia, dan dengan demikian, merawat kebebasan kita semua.” catat RomoAngga.

Sarasehan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh F.X. Harry Cahya. Bapak Cahya, dengan mengitup ungkapan Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ, salah satu Pahlawan Nasional, menjelaskan bagaimana posisi Gereja Katolik di Indonesia terhadap Pemilu, yaitu “100% Katolik, 100% Indonesia.” Impikasi dari 100% Katolik, 100% Indonesia membuat warga negara yang beragama Katolik, khususnya mahasiswa-mahasiswi yang beragama Katolik yang menghadiri sarasehan ini, wajib mendukung demokrasi. Salah satunya adalah dengan terlibat secara sehat dalam Pemilu.

Bapak Cahya pun melanjutkan penyampaian materinya dengan menjelaskan dua kriteria yang harus dimiliki oleh mahasiswa-mahasiswi, yakni cerdas dan berdaulat. Dengan menjadi pemilih yang cerdas, mahasiswa-mahasiswi harus mampu memilah dan memilih posisi, visi dan misi para calon yang sesuai dengan posisi, visi dan misi mahasiswa-mahasiswi. Dengan menjadi pemilih yang berdaulat, mahasiswa-mahasiswi harus merasa bebas terhadap pilihannya. Mahasiswa-mahasiswi harus mempertimbangkan pilihannya dengan hati, memutuskannya dengan pikiran yang jernih dan anti terhadap money politic.

Sarasehan pun dilanjutkan dengan makan bersama dan sesi tanya-jawab. Niri, mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi USD yang ikut dalam sarasehan ini memberikan kesan positif dengan adanya kegiatan ini. Keinginannya untuk mengikuti sarasehan ini adalah untuk memahami bagaimana demokrasi yang benar dari pandangan hidup bernegara maupun hidup beragama. Selesai mengikuti sarasehan ini, Niri pun berkeinginan untuk membuka mindset teman-teman kuliahnya untuk mengikuti Pemilu secara sehat. “Jadi, saya mau lebih melakukan pendekatan kepada teman untuk membuka mindset mereka bahwa itu (red. Pemilu) perlu dan penting’” ungkapnya.

(YS & VHPR

  kembali