
Senin (11/3) menjadi kesempatan langka dan berharga bagi mahasiswa Service Program Design (SPD) Pendidikan Bahasa Inggris (PBI). SPD merupakan salah satu mata kuliah wajib di PBI Universitas Sanata Dharma (USD). Melalui SPD, mahasiswa belajar mengenal dunia kerja dan penguatan karakter dengan mengenali potensi pribadi. Ibu Lanny Anggawati selaku dosen pengampu kelas SPD, di kelas kali ini mengundang salah satu seniman Indonesia yang telah mendunia yakni Didik Hadiprayitno atau yang lebih kita kenal dengan panggilan Didik Nini Thowok. Bersama dengan ketiga krunya, beliau dengan antusias tiba di Kampus 2 USD pada pukul 07.00 WIB. Para mahasiswa menyambut dengan hangat sekaligus terkejut atas kedatangan Didik Nini Thowok di kelas SPD yang bertempat di Ruang Koendjono Gedung Pusat Kampus 2 USD.
"Kami terkejut pada saat Pak Didik tiba-tiba sudah sampai di Gedung Pusat jam 7 pagi. Beliau sangat antusias untuk bertemu dengan Bu Lanny dan mengikuti kelas SPD ini." tutur Piky selaku Vice President kelas SPD semester genap ini. Untuk menyambut kedatangan Didik Nini Thowok, para mahasiswa SPD menampilkan grup vokal parodi yang mampu memecahkan suasana ketegangan kelas. Kemudian dilanjutkan dengan sesi sharing pengalaman hidup Didik Nini Thowok selama berkarir di dunia entertaiment lewat bakat menari yang beliau miliki. Kelas SPD kali ini memberikan kesan yang tidak akan pernah terlupakan berkat kehadiran beliau selama dua setengah jam di momen perkuliahan.
Sempat menitikkan air mata di depan para mahasiswa, Didik Nini Thowok menceritakan perjalanan dan perjuangan masa mudanya mengejar kecintaannya pada seni tari Indonesia yang tidak mendapat restu keluarganya. Seniman sekaligus sahabat Bu Lanny ini mengakui bahwa sekalipun berbeda ras tidak akan memghentikan kecintaannya pada kesenian dan budaya tanah air. Didik, sapaan akrabnya, menyadari bahwa dia keturunan Tionghoa dan akan terus menggali seni dan kebudayaan ras Tionghoa yang diekspresikannya melalui tarian.
“Menjadi penari itu bukan hanya soal memiliki skill yang hebat, tapi juga harus punya konsistensi, tekun, dan terus mau belajar.” ujar Didik di depan para mahasiswa. Didik menyadari bahwa ia harus terus mengembangkan kemampuan menarinya sekaligus terus melakukan riset melalui diskusi dengan tokoh masyarakat, membaca buku-buku, mencari sumber di internet, dan lain-lain. Tidak jarang Didik menjelajahi setiap daerah untuk berdiskusi dengan tokoh agama maupun adat sehingga nilai budaya sesungguhnya dapat disampaikan secara tepat lewat tariannya. Penari yang memilih fokus pada tarian perempuan itu mengaku bahwa perjalanan karirnya sampai saat ini tidak lain karena kerja kerasnya. Meskipun sejak kecil pernah dibully karena tertarik pada dunia perempuan, hal tersebut membuatnya semakin menyelami seni crossgender.
Kesempatan menjadi tamu spesial di kelas SPD ini sangat berkesan baginya. Melalui akun instagram @didikninikthowok, beliau membagikan momen dan suasana selama kelas SPD berlangsung. “11 March 2019 Sanatadharma University pembekalan klas bahasa Inggris SPD. Miss LANI” tulisnya pada postingan instagram pribadinya pada 16 Maret lalu. Beliau juga membagikan beberapa postcard dan tanda tangan kepada para mahasiswa sebagai kenang-kenangan.
Untuk menindaklanjuti kesempatan kuliah SPD bersama Didik Nini Thowok ini, pada pertemuan selanjutnya mahasiswa dituntut untuk membuat artwork dan menulis 100 poin kebaikan diri sendiri. Tugas yang diberikan ini mengajarkan para mahasiswa untuk mengenal potensi dan membangun sisi positif diri sendiri yang dituangkan dalam bentuk karya seni maupun deskripsi singkat. Hal ini sangat penting karena seseorang tidak akan mampu mencapai titik tertinggi dalam hidupnya apabila ia tidak mengenal siapa dirinya sendiri. Begitu pula mengenal kekayaan dan keunikan Indonesia harus dimiliki anak-anak muda sehingga nilai-nilai dan kekayan kita tidak hilang di tengah globalisasi.
“Saya belajar melalui Pak Didik bahwa konsistensi dan mau mengimprove skill itu perlu. Meskipun saya kuliah di PBI tapi juga harus memiliki kemampuan lain selain bahasa Inggris entah ikut kursus atau melanjutkan sekolah lagi.” tutur Irin, salah satu mahasiswa SPD, dalam kesempatan wawancara.
(SW & BSN)




