
Setiap pribadi yang dilahirkan di dunia ini akan membawa kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kita menerimanya sebagai berkat yang sama-sama harus dikembangkan. Kelebihan itu seperti mutiara yang hanya perlu diasah agar semakin bersinar, sedangkan kelemahan seperti batu yang perlu disempurnakan bentuknya supaya memiliki nilai lebih. Kelemahan adalah bagian dari tantangan yang mengajarkan arti perjuangan hidup; bagaimana caranya bertahan dengan keterbatasan yang ada dan mampu melakukan banyak hal yang baik bagi banyak orang.
Seperti halnya Phieter Angdika, pemuda kelahiran 19 Juli 1990. Ia dilahirkan sebagai seorang tuli. Menjadi seorang tuli bukanlah nasib buruk baginya. Malahan, ia bisa belajar banyak, memperkaya diri dengan hal-hal baru dan menarik, hingga ia pun memilki banyak pengalaman berharga. Baginya, sebutan “tuli” lebih baik daripada tunarungu. Hal ini karena tuli menunjukkan sebuah identitas di lingkungan sosial yang memiliki bahasa serta budayanya sendiri. Bahasa isyarat adalah bahasa ibunya, sedangkan sebutan tunarungu dirasa Phieter memberikan kesan diskriminatif terhadap orang-orang yang memiliki keterbatan pendengaran.
Phieter adalah mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma (USD). Sebelumnya, Phieter sudah merasakan bangku perkuliahan pada tahun 2011 di salah satu universitas swasta di Jakarta. Namun pada tahun 2012 ia keluar karena merasa kurang mendapat aksesibilitas. Kemudian ia sempat bekerja di sebuah PT di bagian keuangan hingga tahun 2014. Baru setelahnya, ia melanjutkan kuliah di Universitas Sanata Dharma pada tahun 2017.
Phieter memilih USD sebagai tempatnya melanjutkan pendidikan bukan tanpa alasan. Ia telah mendapat informasi mengenai pelayanan kampus yang baik bagi penyandang disabilitas. USD memiliki unit layanan yang bernama Pusat Studi Individu Berkebutuhan Khusus (PSIBK). PSIBK menyediakan aksesibilitas untuk disabilitas seperti juru bahasa isyarat dan juru ketik. Awal berkuliah di USD, Phieter butuh menyesuaikan diri karena masih banyak orang yang belum bisa berbahasa isyarat. Namun, saat ini sudah banyak teman-temannya yang mampu menggunakan bahasa isyarat karena program studinya memfasilitasi mahasiswa untuk mempelajari bahasa isyarat.
Bagi Phieter, menjadi seorang tuli bukanlah sesuatu yang menghalanginya untuk berkegiatan. Ia tergolong mahasiswa yang sangat aktif. Phieter aktif dalam kegiatan organisasi. Ada empat organisasi dengan berbagai jabatan yang diikutinya. Mulai dari jabatan sebagai anggota sampai jabatan sebagai ketua, mulai dari organisasi nasional hingga internasional. Anak pertama dari tiga bersaudara ini merupakan Ketua bidang Kepemudaan Dewan Perwakilan Pusat (DPP) Gerakan Kesejahteraan untuk Tuli Indonesia (GERKATIN). Selain itu, ia juga aktif sebagai peneliti muda dalam Pusat Layanan Juru Bahasa Isyarat dan Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (PUSBISINDO). Organisasi itu adalah perkumpulan juru bahasa isyarat seluruh Indonesia.
Sekarang Phieter sedang mempersiapkan keberangkatannya ke Prancis, Juli mendatang dalam rangka menghadiri rapat World Federation of the Deaf (WFD) khususnya dalam bidang kepemudaan yaitu World Federation of the Deaf Youth Section (WFDYS). WFD ini adalah organisasi yang langsung di bawah PBB. Saat ditanya tentang apa yang ia perjuangkan dalam setiap organisasi, Phieter menjawab,
“Dari organisasi yang saya ikuti, saya ingin memperjuangkan keadilan seperti tuli mendapat pekerjaan, kurikulum sekolah harus setara dengan sekolah umum, serta Indonesia mengakui bahasa isyarat Indonesia (BISINDO), bukan Sistem Isyarat Bahasa Indoensia.” ungkapnya. Sesuatu yang masih membuatnya prihatin adalah bahwa pemerintah sampai saat ini belum menetapkan BISINDO sebagai salah satu bahasa Indonesia.
Phieter sangat bersyukur dengan apa yang ia miliki hingga saat ini. Menurutnya, bersyukur bukan lagi hanya menerima tetapi juga berjuang mengubah kekurangan menjadi sebuah kelebihan. Ia menyadari bahwa menjadi seorang tuli bukanlah hal yang mudah. Namun, bagaimana caranya untuk terus berusaha dan memberi arti bagi kehidupannya sendiri. Dengan menemukan arti hidup yang berharga, Phieter memilih untuk menjadi seorang tuli yang juga berjuang untuk memberi arti bagi kehidupan di sekitarnya; memberikan kontribusi bagi teman-temannya yang tuli. “Jangan takut untuk mencoba hal baru! Jadilah pribadi yang berani!” pesannya.
(PE & VYA)




