USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Mengulik Tionghoa dalam Bingkai KEINDONESIAAN

diupdate: 8 tahun yang lalu



Program Studi Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma (USD) bekerja sama dengan Jogja Chinese Art & Culture Centre (JCACC) mengadakan kegiatan Talkshow Nasional yang bertema Tionghoa dalam Bingkai KEINDONESIAAN  di Ruang Koendjono, Gedung Pusat Kampus II USD (16/2). JCACC merupakan gabungan dari 14 paguyuban yang ada di Yogyakarta dan setiap tahunnya mengadakan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY). Talkshow Nasional ini menjadi satu rangkaian dalam PBTY ke-XIV yang diselenggarakan sejak 13 Februari hingga 19 Februari 2019. Talkshow bertema budaya ini menghadirkan lima pembicara yang memiliki penelitian maupun ketertarikan pada sejarah dan budaya Tionghoa.

Kegiatan dibuka dengan doa oleh Romo Heri Setyawan, S.J., S.S., M.A. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Dr. Tatang Iskarna selaku Dekan Fakultas Sastra USD. Tatang berharap dengan adanya talkshow ini, akan membuka wawasan para peserta dalam mendefinisikan arti kebangsaan Indonesia. “Bangsa Indonesia bukan milik suku atau etnis tertentu, bangsa Indonesia adalah dia yang berpartisipasi dalam membangun Indonesia itu sendiri.” tegasnya. Tatang percaya bahwa etnis Tionghoa pun sangat berperan dalam pembangunan Indonesia.

Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua JCACC, Drs. Harry Setyo. Ia mengungkapkan PBTY tahun ini cukup spesial karena masuk dalam Wonderful Indonesia. Di akhir sambutan Harry berkata, “Sejarah bilang suatu bangsa bisa dihancurkan dari budayanya. Maka mari kita junjung tinggi budaya ini supaya tetap menjadi bagian dari bangsa Indonesia”.

Setelah sesi sambutan, acara dilanjutkan dengan penandatanganan MoU kerja sama antara program studi Sejarah USD dengan JCACC yang diwakili oleh Dr. Tatang Iskarna selaku Dekan Fakultas Sastra USD dan Drs. Harry Setyo selaku Ketua JCACC. Kerja sama ini diharapkan memberi dampak peningkatan peran budaya Tionghoa dalam perkembangan bangsa terkhusus dalam bidang akademik.

Talkshow dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama dimoderatori oleh Heri Priyatmo, M.A. dengan mendatangkan 2 narasumber yaitu Didi Kwartanada seorang Sejarawan Tionghoa Indonesia dan Prof. Peter Carey Fellow Emiritus of Trinity College, Oxford & Adjunt Professor FIB UI. Sesi ini berbicara tentang sejarah Tionghoa di Indonesia pada masa kolonial Belanda. Pemaparan Didi terkait dengan peran orang Tionghoa dalam organisasi kemerdekaan Indonesia, pandangan masyarakat Tionghoa terhadap masyarakat pribumi pada masa penjajahan dan sebaliknya. Didi juga menyampaikan, terdapat empat “kantong besar” masyarakat Tionghoa di Indonesia yaitu Riau, Sumatra Utara, Singkawang dan Bangka Belitung. Keempat daerah ini memiliki populasi Tionghoa terbesar dengan budaya yang masih melekat.

Prof. Peter Carey bercerita tentang peran Tionghoa di bidang perdagangan era Diponegoro serta sistem kolonialisme dan rasisme. Dalam nostalgia sejarah tersebut, ia juga membagikan bukti kebhinnekaan pada era Kerajaan Majapahit berupa Masjid Kudus. Masjid Kudus merupakan tempat ibadah umat Islam yang memiliki arsitektur Hindu dan dihiasi dengan keramik dari Kerajaan Ming.

Talkshow sesi kedua dimoderatori oleh Rezza Maulana, M.A. dengan narasumber Faizatus Solikhah, M. A. seorang dosen Kearsipan UGM, Dr. Yerry Wirawan dosen Sejarah di Fakultas Sastra USD, dan Udaya Halim seorang Budayawan dan pendiri Museum Benteng Heritage. Pada sesi kedua, mengangkat keanekaragaman budaya Tionghoa berdasarkan riset penelitian dari masing-masing narasumber. Faizatus Solikhah, M. A. memberikan informasi terkait Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) yang harus dimiliki oleh masyarakat Tionghoa ketika itu. Dr. Yerry Wirawan memaparkan tentang pemuda Tionghoa di Makassar. Ia mengenalkan seorang figur orang Tionghoa (Shio Lian Tjie) yang bekerja untuk pemerintahan Indonesia ketika semua masyarakat Tionghoa saat itu bekerja untuk pemerintah Tionghoa sendiri. Menurut Yerry, yang dilakukan oleh Shio Lian Tjie ini penting dan menarik untuk diketahui.

Udaya Halim menceritakan tentang peranakan Tionghoa di Indonesia. Menurut Udaya, “Untuk membentuk sebuah negara yang maju, yang dibutuhkan adalah education, education, education. Education yang pertama adalah formal education, nonformal education, dan pendidikan kemasyarakatan”. Di akhir Udaya menegaskan etno sindrom harus dihilangkan. Karena untuk menjadi Indonesia adalah apa yang dirasakan. Tidak peduli cina, jawa, batak, maupun suku lainnya.

Talkshow Nasional bertema Tionghoa dalam Bingkai KEINDONESIAAN ini kemudian ditutup dengan ucapan terima kasih dari pihak JCACC yang diwakili oleh Frista. Ia menyampaikan pencapaian PBTY 2019 menjadi Wonderful Indonesia ini memiliki tujuan dengan adanya PBTY tidak hanya dapat menghibur masyarakat Yogyakarta maupun Indonesia, namun juga dapat menghibur masyarakat dunia. Pada tahun ini pertama kalinya PBTY menggandeng universitas. Frista berharap, ke depannya JCACC bersama dengan mitra universitas akan lebih dalam lagi mengangkat kisah-kisah Tionghoa ke ranah yang lebih akademis.

(FEJL & J)

  kembali